Fbhis.umsida.ac.id – Tiga tahun tujuh bulan menjadi perjalanan akademik Eny Maryanti SE MA CRP ACPA.
Dosen Akuntansi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) tersebut berhasil meraih gelar doktor. Gelar itu diperoleh setelah menuntaskan pendidikan S3 Ilmu Akuntansi.
Pendidikan tersebut ditempuh di Universitas Airlangga (Unair). Ia resmi menyelesaikan pendidikan doktoralnya pada 2026.
Ia memulai studi tersebut pada 2022. Perjalanan itu dijalani sambil menjalankan berbagai tanggung jawab akademik.
Baca juga: 818 Mahasiswa Baru FBHIS Umsida Resmi Bergabung, Fortama Jadi Awal Perjalanan Baru
Perjalanan Akademik Penuh Tantangan

Eny menyebut pengembangan kompetensi sebagai alasan utama studi. Pendidikan doktoral memperbarui wawasan Dr Eny dalam bidang penelitian.
Pengalaman tersebut juga meningkatkan kemampuan riset secara lebih mendalam. “Alasan utamanya untuk update ilmu, terutama penelitian,” ungkap Eny.
Dr Eny menempuh pendidikan akuntansi sejak jenjang sarjana. Pendidikan sarjananya ditempuh di UPN Jawa Timur. Selanjutnya, ia melanjutkan magister akuntansi di Unair.
Perjalanan menempuh Pendidikan doktoral tidak berlangsung tanpa tantangan. Ia harus membagi waktu dengan berbagai tanggung jawab.
Selain mengajar, Eny juga menjalankan tugas struktural. Ia juga tetap menjalankan kewajiban penelitian dan tridharma.
“Tantangan terbesarnya adalah manajemen waktu,” jelas Eny. Kondisi tersebut menuntut Ia menyusun prioritas secara cermat.
Ia harus membagi waktu antara pekerjaan dan pendidikan. Penelitian juga menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut.
Lihat juga: Dosen Umsida Jadi Satu-Satunya Kandidat Indonesia dan ASEAN di Board Election Crossref 2026
Berbagi Ilmu Bersama Rekan
Di tengah kesibukan, Dr Eny menemukan pengalaman berkesan. Ia bertemu banyak mahasiswa dan akademisi hebat.

Menurutnya, rekan-rekannya memiliki kemampuan penelitian yang beragam. Mereka juga bersedia berbagi pengetahuan selama proses perkuliahan.
Dari pengalaman tersebut, Ia mempelajari berbagai teknik analisis. Beberapa perangkat analisis sebelumnya belum dikuasainya.
Eny menyebut RStudio dan Stata sebagai perangkat tersebut. Rekan-rekannya turut memberikan tutorial dan berbagi pengalaman.
Proses tersebut memperkaya kemampuan penelitian yang dimilikinya. “Sharing-nya lebih banyak dan saling mengajarkan,” tutur Eny.
Pengalaman tersebut menjadi bagian berharga selama studi doktoral. Ia tidak hanya memperoleh teori dari perkuliahan.
Disertasi Fokus Pada ESG
Disertasi Eny membahas pengungkapan Environmental, Social, and Governance. Penelitian tersebut mengkaji pengaruh ESG terhadap nilai perusahaan.
Penelitian itu juga menguji beberapa variabel dalam hubungan tersebut. Judul disertasinya mengangkat beberapa aspek dalam pelaporan perusahaan.
Judulnya, “Pengungkapan Enviromental, Social, and Governance terhadap nilai perusahaan: peran mediasi kualitas pelaporan keuangan dan moderasi transaksi pihak berelasi serta kompetensi komite audit”.
Penelitian tersebut mengkaji mediasi kualitas pelaporan keuangan. Selain itu, penelitian menguji moderasi transaksi pihak berelasi.
Kompetensi komite audit menjadi variabel moderasi penelitian. Secara umum, ESG berhubungan dengan peningkatan nilai perusahaan.
Semakin tinggi pengungkapan ESG, semakin meningkat nilai perusahaan. Namun, terdapat temuan berbeda melalui kualitas laporan keuangan.
Pengaruh ESG terhadap nilai perusahaan mengalami penurunan. Penurunan tersebut terjadi ketika kualitas laporan keuangan menjadi mediator.
Penyusunan disertasi berlangsung selama dua tahun tujuh bulan. Periode tersebut dimulai setelah masa perkuliahan selesai.
Masa perkuliahan doktoral berlangsung selama satu tahun. Setelah menyelesaikan doktoral, Dr Eny memiliki sejumlah rencana.
Ia ingin meningkatkan publikasi penelitian pada jurnal internasional bereputasi. Langkah tersebut menjadi bagian pengembangan kompetensi akademiknya.
Sekprodi Akuntansi ini juga menyampaikan pesan bagi mahasiswa dan dosen. Menurutnya, setiap proses perlu dijalani dengan konsisten.
Ia mengajak mahasiswa tidak takut menghadapi tahapan pendidikan. “Kita lakukan saja setiap prosesnya, pasti akan berlalu,” ujarnya.
Menurutnya, setiap perjalanan memiliki proses yang harus dilewati. Karena itu, kekhawatiran tidak perlu menghentikan langkah.
Konsistensi menjadi kunci untuk mencapai tujuan. Pesan tersebut menjadi refleksi perjalanan menempuh pendidikan doktoral.
Setiap tantangan menjadi bagian menuju tujuan akademik. Perjalanan panjang akhirnya mengantarkan Eny meraih gelar doktor.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















