fbhis.umsida.ac.id– Prestasi besar seringkali berawal dari kebiasaan sederhana yang dilakukan konsisten. Hal tersebut dibuktikan oleh Dyah Tuhrotul Fuada, lulusan Program Studi Manajemen. Ia berhasil meraih predikat wisudawan terbaik Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Keberhasilannya bukan sekadar hasil belajar menjelang ujian. Dyah justru mengandalkan kedisiplinan dalam menjalani rutinitas akademiknya. Baginya, memahami materi dan aktif berdiskusi menjadi kunci keberhasilan.
Ia juga memiliki strategi tersendiri menghadapi tantangan selama perkuliahan. Salah satunya melalui keikutsertaan dalam berbagai perlombaan akademik. Pengalaman tersebut membuka peluang konversi mata kuliah tertentu.
Kebiasaan Kecil Jadi Kunci Prestasi

Dyah percaya bahwa prestasi akademik membutuhkan konsistensi setiap hari. Ia membiasakan diri mempelajari materi sebelum perkuliahan dimulai. Kebiasaan tersebut membantunya memahami penjelasan dosen dengan lebih mudah.
“Biasanya saya mempelajari materi sebelum dosen menjelaskan di kelas,” ungkapnya.
Selain mempersiapkan materi, Dyah selalu mencatat poin penting. Ia juga aktif mengikuti diskusi dan sesi tanya jawab. Menurutnya, keterlibatan mahasiswa sangat membantu meningkatkan pemahaman terhadap materi.
Tidak hanya itu, Dyah memiliki kebiasaan belajar sebelum tidur. Waktu tersebut dimanfaatkan untuk mempersiapkan pembelajaran hari berikutnya.
“Saya konsisten melakukan kebiasaan kecil, seperti belajar sebelum tidur,” ujarnya.
Baginya, kebiasaan sederhana mampu memberikan dampak besar jika dipertahankan. Konsistensi itulah yang membantunya menjaga capaian akademik selama kuliah.
Baca Juga: Kuliah Tamu Etika Bisnis Umsida Dorong Mahasiswa Bangun Integritas dan Kepedulian Sosial
Strategi Menghadapi Tantangan Selama Kuliah
Perjalanan akademik Dyah tentu tidak selalu berjalan mudah. Beberapa mata kuliah membutuhkan usaha dan strategi belajar tambahan. Namun, ia tidak menjadikan kesulitan tersebut sebagai penghalang prestasi.
Dyah memilih mengikuti perlombaan yang memiliki peluang konversi mata kuliah. Strategi tersebut sekaligus memperluas pengalaman dan kemampuan dirinya.
“Saya mengikuti perlombaan yang bisa konversi mata kuliah sulit,” jelasnya.
Meski demikian, ia tetap menjalankan tanggung jawab akademik secara maksimal. Seluruh tugas dosen dikerjakan dengan penuh tanggung jawab. Ia juga tidak ragu bertanya ketika menemui kesulitan.
Dalam mengatur waktu, Dyah selalu menentukan prioritas terlebih dahulu. Kegiatan akademik dan kehidupan pribadi dijalankan sesuai kebutuhan masing-masing.
Ia juga mengakui pentingnya dukungan orang-orang terdekat selama berkuliah. Orang tua menjadi salah satu sumber motivasi terbesarnya.
Dukungan teman seperjuangan dan dosen juga sangat berarti. Kehadiran mereka membantu Dyah mempertahankan semangat menghadapi tekanan akademik.
Lihat Juga: Lulus Bukan Akhir, Dr Hendra Ajak Wisudawan Ciptakan Lapangan Kerja
Prestasi Akademik Membuka Peluang Karier

Setelah menyelesaikan pendidikan, Dyah telah mempersiapkan langkah berikutnya. Ia berencana bekerja sekaligus menjalankan usaha secara mandiri.
Menurutnya, prestasi akademik dapat menjadi nilai tambah dalam karier. Namun, pencapaian tersebut tetap harus didukung kemampuan praktis.
“IPK terbaik menjadi portofolio bagus untuk melamar pekerjaan,” tuturnya.
Dyah menyadari bahwa dunia kerja membutuhkan lebih dari nilai akademik. Karena itu, pengembangan keterampilan tetap menjadi prioritas setelah lulus.
Ia juga memiliki pesan bagi mahasiswa yang sedang berjuang. Menurutnya, menjaga motivasi merupakan bagian penting dalam meraih keberhasilan.
Mengingat tujuan awal berkuliah dapat membantu mempertahankan semangat belajar. Terlebih ketika menghadapi tugas dan berbagai tekanan akademik.
Kisah Dyah menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu membutuhkan langkah besar. Justru kedisiplinan sederhana mampu menghasilkan prestasi yang membanggakan.
Melalui pencapaiannya, Dyah membuktikan pentingnya konsistensi sepanjang perjalanan akademik. Prestasi tersebut sekaligus menjadi bekal menghadapi tantangan dunia profesional.
Penulis: Selvy Dwi Machmuda


















