Fbhis.umsida.ac.id – Generasi Z tumbuh dalam dunia yang sangat dekat dengan teknologi digital. Mereka mengenal informasi, hiburan, tren, hingga gaya hidup melalui layar ponsel.
Media sosial bukan lagi sekadar tempat berkomunikasi, tetapi juga ruang untuk membentuk selera, menunjukkan identitas, dan mengikuti perubahan budaya konsumsi yang bergerak sangat cepat.
Dalam kehidupan sehari-hari, Gen Z sering berinteraksi dengan konten promosi, ulasan produk, rekomendasi influencer, hingga tren viral.
Apa yang mereka beli tidak selalu hanya karena kebutuhan, tetapi juga karena makna sosial yang melekat pada produk tersebut.
Mulai dari pakaian, makanan, skincare, gadget, hingga tempat nongkrong, semuanya dapat menjadi bagian dari cara mereka menampilkan diri.
Fenomena ini menunjukkan bahwa konsumsi di era digital tidak lagi sederhana.
Membeli produk bukan hanya soal memiliki barang, tetapi juga soal pengalaman, citra diri, dan keterhubungan dengan komunitas digital.
Baca juga: Empocare P2MW Umsida Manfaatkan Wisuda ke-47 untuk Uji Pasar Perdana Jamu Modern
Konsumsi Sebagai Ekspresi Diri

Bagi Gen Z, konsumsi sering menjadi cara untuk mengekspresikan diri.
Pilihan merek, gaya berpakaian, makanan favorit, hingga aplikasi yang digunakan dapat menunjukkan karakter dan preferensi seseorang.
Media sosial memperkuat proses ini. Ketika seseorang mengunggah foto kopi kekinian, outfit harian, atau pengalaman menonton konser, ia tidak hanya membagikan aktivitas, tetapi juga membangun citra diri di ruang digital.
Namun, ekspresi diri melalui konsumsi juga memiliki tantangan. Gen Z bisa terdorong membeli sesuatu bukan karena benar-benar membutuhkan, tetapi karena ingin terlihat relevan dengan tren.
Di sinilah muncul tekanan sosial digital. Takut tertinggal tren, takut dianggap kurang update, atau ingin mendapatkan validasi dari orang lain dapat memengaruhi keputusan konsumsi.
Lihat juga: Data Privacy dan Hyper-Personalization, Saat Iklan Digital Terlalu Mengenal Konsumen
Media Sosial Membentuk Selera

Budaya digital membuat selera konsumsi Gen Z sangat dipengaruhi oleh arus informasi di media sosial.
Algoritma platform digital menampilkan konten berdasarkan minat pengguna.
Akibatnya, seseorang bisa terus-menerus melihat produk, gaya hidup, atau tren tertentu yang akhirnya membentuk keinginan untuk membeli.
Promosi juga semakin halus. Iklan tidak selalu muncul dalam bentuk ajakan membeli secara langsung. Banyak produk dipasarkan melalui konten keseharian, ulasan pribadi, video pendek, atau rekomendasi figur publik. Strategi ini membuat batas antara hiburan dan promosi menjadi semakin tipis.
Bagi mahasiswa, kondisi ini penting untuk disadari. Tidak semua hal yang viral harus diikuti.
Tidak semua produk yang direkomendasikan cocok dengan kebutuhan dan kemampuan finansial.
Literasi digital menjadi kunci agar Gen Z mampu membedakan antara kebutuhan, keinginan, dan pengaruh tren.
Bijak Mengelola Budaya Digital
Gen Z tidak perlu menjauhi budaya digital. Justru, teknologi dapat menjadi ruang produktif untuk belajar, berkarya, membangun jaringan, dan mengembangkan peluang ekonomi.
Banyak mahasiswa menggunakan media sosial untuk membangun personal branding, menjual produk, membuat konten edukatif, hingga memperluas relasi profesional.
Yang perlu diperkuat adalah sikap kritis. Gen Z perlu memahami bahwa konsumsi yang sehat bukan berarti anti tren, tetapi mampu memilih dengan sadar.
Membeli sesuatu sebaiknya didasarkan pada kebutuhan, manfaat, kualitas, dan kemampuan finansial.
Budaya digital akan terus berkembang, tren akan terus berganti.
Namun, kemampuan mengendalikan diri, membaca informasi secara kritis, dan menjaga keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata menjadi hal yang semakin penting.
Pada akhirnya, Gen Z bukan hanya konsumen dalam budaya digital.
Mereka juga bisa menjadi pencipta nilai, pembentuk tren positif, dan generasi yang mampu menggunakan teknologi secara cerdas.
Konsumsi boleh menjadi bagian dari gaya hidup, tetapi kesadaran tetap harus menjadi kendali utama.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















