Fbhis.umsida.ac.id – Ijazah bukanlah tanda bahwa perjalanan telah selesai. Justru, kelulusan membuka pintu menuju tantangan berikutnya.
Pesan tersebut disampaikan Dr. Hendra Sukmana dalam orasi ilmiah. Orasi berlangsung dalam rangkaian Yudisium ke-36 FBHIS Umsida.
Hendra mengangkat tema kolaborasi governance dalam pengembangan wisata. Ia juga membahas penguatan UMKM melalui kolaborasi lintas bidang.
Menurut Hendra, lulusan memiliki potensi menciptakan perubahan. Perubahan tersebut dapat dimulai dari lingkungan terdekat.
Sidoarjo memiliki berbagai potensi yang bisa dikembangkan. Wisata dan UMKM menjadi salah satu peluang tersebut.
Namun, peluang membutuhkan kolaborasi agar berkembang secara berkelanjutan.
Baca juga: The Last Chapter? 314 Lulusan FBHIS Umsida Memulai Perjalanan Baru
Lulus Bukan Akhir Perjalanan
Hendra mengajak lulusan mengubah cara pandang setelah wisuda. Lulusan tidak harus selalu mengejar lowongan pekerjaan.

Mereka juga dapat menciptakan lapangan kerja sendiri. “Lulus bukan akhir, saatnya membuka lapangan kerja,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi bagian penting dalam orasinya. Hendra mendorong lulusan memanfaatkan kompetensi yang dimiliki.
Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui kerja bersama. “Dari pencari kerja menjadi pencipta kerja,” pesannya.
Menurutnya, kemampuan lulusan tidak harus berjalan sendiri. Perbedaan keilmuan justru dapat menjadi kekuatan bersama.
Setiap program studi memiliki kompetensi yang saling melengkapi.
Kolaborasi kemudian menjadi kunci untuk menggabungkan kemampuan tersebut. “Beda jurusan, satu tujuan,” menjadi pesan yang diangkat.
Lihat juga: Ketika Desil Menentukan Bantuan, Seberapa Akurat Potret Kesejahteraan?
Lintas Prodi Bangun Usaha

Hendra kemudian menunjukkan peluang melalui kolaborasi lintas prodi. Ia mencontohkan beberapa kompetensi yang dapat disatukan.
Mahasiswa Manajemen dapat mengembangkan model bisnis. Akuntansi dapat membantu mengelola perencanaan keuangan.
Bisnis Digital dapat mengembangkan marketplace dan model bisnis. Ilmu Komunikasi dapat memperkuat branding serta promosi digital.
Administrasi Publik dapat menangani perizinan dan kemitraan pemerintah. Hukum dapat mengawal legalitas usaha dan kekayaan intelektual.
Perbankan Syariah dapat mendukung pembiayaan berbasis akad syariah. “Bentuk tim lintas prodi Umsida,” ajak Hendra.
Ia mendorong mahasiswa membangun usaha secara bersama. “Jangan hanya fokus mencari kerja,” pesannya.
Menurut Hendra, peluang dapat dimulai dari potensi lokal. Ia menyebut wisata Candi Pari dan Tlocor.
UMKM Sidoarjo juga dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan. Potensi tersebut dapat diolah menjadi peluang usaha baru.
“Mulai dari potensi sekitar,” menjadi bagian pesannya. Kolaborasi kemudian diarahkan untuk memberi manfaat lebih luas.
Usaha bersama diharapkan membuka lapangan kerja baru. Masyarakat sekitar juga dapat memperoleh manfaat ekonominya.
Pentahelix Perkuat Kolaborasi
Hendra turut memperkenalkan konsep collaborative governance dalam orasinya. Konsep tersebut menekankan keterlibatan berbagai aktor pembangunan.
Pemerintah tidak bekerja sendirian dalam proses tersebut. Aktor nonpemerintah juga memiliki peran penting.
Kolaborasi tersebut membutuhkan proses yang terstruktur. Tahap pertama dimulai melalui dialog tatap muka.
Tahap berikutnya adalah membangun kepercayaan antarpihak. Kolaborasi juga membutuhkan komitmen terhadap proses bersama.
Para pihak kemudian perlu membangun pemahaman bersama. Hasil antara menjadi capaian awal kolaborasi tersebut.
Model tersebut kemudian diperkuat melalui pendekatan pentahelix. Ada lima aktor utama dalam model tersebut.
Akademisi berperan melalui riset dan pendampingan. Bisnis berkontribusi melalui produk dan lapangan kerja.
Komunitas membawa kearifan lokal sebagai kekuatan. Pemerintah berperan melalui regulasi dan infrastruktur.
Media mendukung promosi serta branding digital. Hendra menutup orasinya dengan ajakan untuk berkolaborasi.
Pesannya sederhana, tetapi memiliki makna luas. “Beda prodi, satu tujuan,” kembali menjadi penekanannya.
Tujuannya adalah menciptakan lapangan kerja bersama. Ia berharap lulusan berani mengambil peran setelah wisuda.
Ilmu tidak berhenti ketika ijazah telah diterima. Ilmu dapat menjadi modal membangun kebermanfaatan.
“Ilmu yang bermanfaat membuka jalan rezeki bagi sesama.” Pesan tersebut menjadi refleksi bagi para lulusan.
Kelulusan bukan sekadar akhir pendidikan formal. Kelulusan juga menjadi awal kontribusi bagi masyarakat.
Penulisan: Indah Nurul Ainiyah


















