Fbhis.umsida.ac.id – Dr Sarwenda Biduri SE MSA ACPA, menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Wanita dan Kinerja Perusahaan: Mengungkap Katalis yang Hilang” dalam rangkaian Yudisium ke-35 Fakultas Bisnis, Hukum, dan Ilmu Sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FBHIS Umsida).
Orasi tersebut mengangkat isu penting mengenai hubungan antara representasi wanita dalam kepemimpinan perusahaan, inovasi, kemampuan manajerial, serta dampaknya terhadap kinerja perusahaan.
Topik ini relevan di tengah meningkatnya perhatian terhadap tata kelola perusahaan yang lebih inklusif.
Meski demikian, keterwakilan wanita dalam posisi strategis perusahaan masih menjadi tantangan.
Data yang dipaparkan menunjukkan bahwa representasi wanita pada posisi eksekutif tertinggi masih sekitar 22 persen.
Sementara itu, keterlibatan wanita pada level manajemen senior berada di angka 13 persen dan anggota dewan eksekutif perempuan sekitar 5 persen.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa ruang kepemimpinan di sektor korporasi masih belum terbuka secara seimbang.
Namun, Dr Sarwenda menegaskan bahwa peningkatan jumlah wanita di posisi direksi saja belum tentu langsung meningkatkan kinerja perusahaan.
Baca juga: Yudisium ke 35 FBHIS Umsida Catat 83 Persen Kelulusan Tepat Waktu
Representasi Penting, tetapi Tidak Cukup
Dalam orasinya, Dr Sarwenda menjelaskan bahwa kajian mengenai direktur wanita dan kinerja perusahaan masih menghasilkan beragam pandangan.
Sebagian penelitian melihat adanya hubungan positif antara diversitas gender dan performa perusahaan.
Namun, masih terdapat faktor internal yang perlu diperhatikan, salah satunya kemampuan manajerial.
Penelitian yang dipaparkan menggunakan objek perusahaan sektor consumer-based yang tercatat di Bursa Efek Indonesia pada periode 2019 hingga 2023.
Analisis dilakukan untuk melihat pengaruh langsung direktur wanita terhadap kinerja perusahaan, sekaligus menguji peran inovasi dan kemampuan manajerial dalam hubungan tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa representasi direktur wanita belum berpengaruh signifikan secara langsung terhadap kinerja perusahaan.
Temuan ini bukan berarti kehadiran wanita dalam kepemimpinan tidak penting, melainkan menunjukkan bahwa keberagaman membutuhkan dukungan sistem agar dapat menghasilkan dampak nyata.

“Menambah jumlah direktur wanita saja tidak otomatis mendongkrak kinerja perusahaan. Representasi penting, tetapi tanpa dukungan sistem, kemampuan, dan eksekusi, hal tersebut hanya akan menjadi simbol,” ujar Dr Sarwenda.
Menurutnya, posisi strategis harus diikuti dengan ruang pengambilan keputusan, dukungan organisasi, serta kemampuan untuk menerjemahkan gagasan menjadi strategi yang dapat dijalankan.
Lihat juga: Produktivitas Kerja Tak Selalu Lahir dari Tekanan, tetapi dari Passion Karyawan
Inovasi Belum Menjadi Penguat Kinerja
Selain representasi wanita, penelitian tersebut juga menguji peran inovasi sebagai faktor yang dapat memperkuat hubungan antara direktur wanita dan kinerja perusahaan.
Inovasi selama ini dipandang sebagai salah satu cara perusahaan untuk bertahan dan berkembang dalam persaingan bisnis yang semakin cepat.
Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa orientasi inovasi belum terbukti mampu memperkuat hubungan antara direktur wanita dan kinerja perusahaan.
Artinya, inovasi saja belum cukup untuk menjembatani diversitas kepemimpinan menjadi hasil finansial yang lebih baik.

Dr Sarwenda menjelaskan bahwa inovasi perlu didukung oleh proses eksekusi yang kuat.
Sebuah gagasan baru tidak akan memberikan dampak maksimal apabila tidak diterjemahkan menjadi kebijakan, program, serta langkah operasional yang jelas.
“Perusahaan tidak cukup hanya memiliki ide inovatif. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk mengelola sumber daya dan menjalankan strategi secara konsisten,” jelasnya.
Kemampuan Manajerial Menjadi Katalis Utama
Temuan paling penting dalam penelitian tersebut adalah peran kemampuan manajerial sebagai katalis yang mampu mengubah representasi menjadi kinerja.
Kemampuan manajerial terbukti dapat memperkuat kontribusi direktur wanita terhadap performa perusahaan.
Kemampuan ini mencakup kecakapan dalam mengelola sumber daya, mengambil keputusan, membangun strategi, serta mengarahkan pelaksanaan program di tingkat operasional.
Dengan kemampuan manajerial yang kuat, keberagaman di jajaran direksi dapat menjadi kekuatan strategis bagi perusahaan.
“Keragaman adalah potensi, sedangkan kemampuan manajerial adalah wujud nyata yang menentukan keberhasilannya,” tegas Dr. Sarwenda.
Melalui orasi ilmiah ini, peserta yudisium diajak memahami bahwa kepemimpinan yang inklusif perlu dibangun bersama kompetensi dan sistem kerja yang baik.
Bagi perusahaan, peningkatan keterwakilan wanita perlu berjalan seiring dengan pemberdayaan peran strategis serta penguatan kemampuan manajerial agar keberagaman tidak berhenti sebagai angka, tetapi berkembang menjadi dampak nyata bagi kinerja perusahaan.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















