Fbhis.umsida.ac.id – Menjadi duta kampus bukan sekadar tentang selempang dan gelar. Bagi Rizqy Agung Dzikrillah, kesempatan tersebut membawa makna lebih dalam.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi semester tiga itu berhasil menjadi Duta Kampus Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida).
Pencapaian tersebut menjadi pengalaman berharga selama menjalani kehidupan perkuliahan. Ketertarikan Rizqy bermula dari keinginannya mengenal ajang duta kampus.
Ia juga ingin menjadi bagian dari Umsida. Baginya, ajang tersebut menjadi ruang untuk berkembang sekaligus berkontribusi.
Keinginan itu kemudian mendorongnya mengikuti seluruh rangkaian seleksi. Menyiapkan proses seleksi ternyata membutuhkan waktu cukup panjang.
Rizqy harus mempersiapkan berbagai berkas pendaftaran terlebih dahulu. Setelah itu, ia menghadapi tahapan tes bakat dan minat.
Tahap tersebut menjadi salah satu bagian tersulit baginya. “Proses dan pengalaman tentunya juga butuh waktu agak lama,” ujar Rizqy.
Baca juga: Dosen Umsida Bawa Nama Indonesia dalam Pemilihan Board Crossref 2026
Persiapan Bakat Jadi Tantangan

Tantangan terbesar muncul ketika mempersiapkan kemampuan bakatnya. Rizqy perlu memastikan kemampuannya siap ditampilkan.
UIa juga harus memahami berbagai hal mengenai Umsida. Pengetahuan tersebut menjadi bekal penting ketika menghadapi hari tes.
Menurut Rizqy, proses tersebut memberikan pengalaman yang sangat berarti. Ia belajar mempersiapkan diri sebelum menghadapi sebuah kesempatan.
Ia juga belajar mengenal lingkungan kampus secara lebih mendalam. Setiap tahapan seleksi menghadirkan pengalaman yang berbeda.
Namun, terdapat satu momen yang paling membekas baginya. Momen tersebut terjadi ketika sesi pengukuhan berlangsung.
Pengukuhan tersebut menjadi bagian penutupan FORTAMA. Acara tersebut disaksikan oleh ribuan audience yang hadir.
Bagi Rizqy, momen itu menjadi kenangan yang sulit dilupakan. Ia menyebutnya sebagai hari yang akan selalu diingat. “Pastinya hari yang akan saya ingat,” ungkap Rizqy.
Lihat juga: Resmi Sandang Gelar Doktor, Eny Maryanti Persiapkan Inovasi Riset Akuntansi
Gelar Membawa Tanggung Jawab

Keberhasilan tersebut menghadirkan rasa bangga bagi Rizqy. Ia merasa berhasil meraih sesuatu yang diinginkannya.
Pencapaian tersebut membuatnya semakin merasa menjadi bagian Umsida. Lebih dari itu, keberhasilan tersebut memiliki makna personal baginya.
Rizqy menganggap pencapaiannya sebagai hadiah untuk orang tua. Dukungan dan perjuangan selama proses menjadi bagian penting.
Karena itu, gelar tersebut bukan sekadar pencapaian pribadi. Bagi Rizqy, gelar duta memiliki makna yang lebih luas.
Menurutnya, gelar tersebut bukan sekadar selempang. Gelar tersebut juga bukan hanya sebuah simbol pencapaian.
Di baliknya terdapat tanggung jawab dan pengabdian kepada kampus. Kontribusi menjadi bagian penting setelah mendapatkan gelar tersebut.
Rizqy ingin membawa ilmu dari dunia perdutaan Sidoarjo. Ilmu tersebut nantinya diterapkan dalam perannya sebagai duta kampus. Ia juga ingin menjalankan berbagai program kerja sosial.
Pesan Berani Ambil Kesempatan
Rizqy turut menyampaikan pesan kepada mahasiswa Umsida. Ia mengajak mahasiswa untuk tidak takut melakukan kesalahan.
Menurutnya, rasa malu seharusnya tidak menghambat langkah. Mahasiswa juga perlu berani mencoba berbagai kesempatan.
“Jangan takut salah, jangan pernah malu, dan berani mencoba,” pesannya. Baginya, keberanian menjadi langkah awal mengembangkan potensi.
Rasa takut memulai dapat membuat potensi tidak berkembang. Karena itu, mahasiswa perlu berani mengambil setiap kesempatan.
Tidak semua orang mendapatkan kesempatan yang sama. Setiap peluang dapat menjadi ruang untuk belajar.
Pengalaman tersebut juga dapat membuka potensi baru. Pesan Rizqy menjadi refleksi bagi mahasiswa lainnya.
Menjadi duta kampus akhirnya bukan sekadar pencapaian. Gelar tersebut menjadi awal perjalanan untuk berkontribusi.
Rizqy ingin menggunakan pengalamannya untuk memberikan manfaat. Ia juga ingin membawa semangat tersebut selama berproses di Umsida.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















