fbhis.umsida.ac.id– Kesibukan kuliah dan bekerja bukan penghalang untuk meraih prestasi. Keterbatasan waktu justru bisa menjadi dorongan untuk terus berkarya.
Hal tersebut dibuktikan Awalia Legita Amanda, mahasiswa Ilmu Komunikasi Umsida. Ia berhasil meraih Juara 1 Nasional Lomba Naskah Film Wayang.
Prestasi tersebut menjadi pencapaian membanggakan di tengah kesibukan sehari-harinya. Awalia harus membagi waktu antara pekerjaan, perkuliahan, dan persiapan kompetisi.
Namun, keterbatasan tersebut tidak membuatnya menyerah mengejar impian. Ia justru semakin termotivasi mengembangkan kreativitas melalui karya perfilman.
Keberhasilan ini juga membuktikan pentingnya konsistensi dalam mengembangkan potensi diri.
Baca Juga: Berani Keluar Zona Nyaman, Prasetyo Utomo Buktikan Prestasi hingga Tingkat Internasional
Berawal dari Kecintaan Dunia Perfilman
Ketertarikan Awalia terhadap dunia perfilman tumbuh sejak awal perkuliahan. Ia mulai menekuni penulisan naskah dan pengembangan ide cerita.
Sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi, ia memiliki ketertarikan terhadap bidang kreatif. Khususnya penulisan naskah, copywriting, jurnalistik, dan dunia perfilman.
Minat tersebut mendorongnya mengikuti kompetisi penulisan naskah film wayang. Ajang nasional ini menjadi kesempatan menguji kemampuan kreatifnya.
“Saya tertarik mengikuti kompetisi ini karena sesuai dengan minat saya,” ungkapnya.
Menurutnya, setiap karya film membutuhkan pesan yang kuat. Karena itu, penyusunan cerita harus dilakukan secara matang.
Proses persiapan kompetisi sepenuhnya dilakukan secara daring. Awalia memulai dengan mencari referensi dan melakukan riset.
Selanjutnya, ia mengembangkan ide menjadi sebuah naskah cerita. Pemilihan kata dan alur cerita menjadi perhatian utamanya.
Ia juga memastikan pesan cerita sesuai dengan tema kompetisi.
Tantangan Membagi Waktu dan Pekerjaan
Perjalanan menuju kemenangan ternyata tidak selalu berjalan mudah. Awalia harus menghadapi tantangan mengatur waktu dan menjaga fokus.
Tanggung jawab pekerjaan sering kali menyita waktu dan energinya. Sementara itu, kewajiban akademik tetap harus diselesaikan dengan baik.
“Tantangan terbesar saya adalah membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan,” ujarnya.
Untuk mengatasinya, Awalia berusaha menentukan prioritas setiap kegiatan. Ia memanfaatkan waktu luang untuk menyelesaikan proses penulisan.
Diskusi dan masukan juga membantu menyempurnakan naskah yang disusun. Ia terbuka terhadap berbagai saran untuk meningkatkan kualitas karya.
Dukungan teman dekat menjadi penyemangat selama menjalani proses tersebut. Keluarga juga memberikan motivasi agar ia terus berusaha.
Berkat kedisiplinannya, seluruh tahapan persiapan berhasil diselesaikan. Usaha tersebut akhirnya mengantarkannya meraih Juara 1 Nasional.
Lihat Juga:Disiplin Belajar Sejak Dini Hari, Sri Rohimah Raih IPK 3,90 dan Predikat Cumlaude
Kemenangan Jadi Motivasi Terus Berkarya

Awalia mengaku sangat bersyukur atas pencapaian yang diperolehnya. Kemenangan tersebut menghadirkan kebahagiaan sekaligus kebanggaan tersendiri.
Baginya, penghargaan bukan sekadar bukti keberhasilan dalam kompetisi. Pengalaman tersebut menjadi motivasi untuk terus mengembangkan kemampuan.
“Pencapaian ini bukan hanya tentang kemenangan,” ungkapnya.
Menurutnya, keterbatasan waktu bukan alasan untuk berhenti berkarya. Setiap mahasiswa memiliki kesempatan mengembangkan potensi masing-masing.
Ia juga mengajak mahasiswa berani mencoba berbagai kompetisi. Kesibukan tidak seharusnya menghalangi seseorang mengejar prestasi.
“Jangan takut untuk mencoba dan mengembangkan potensi diri,” pesannya.
Awalia menegaskan bahwa kesiapan tidak harus selalu sempurna. Kemauan dan konsistensi menjadi bekal penting dalam memulai sesuatu.
Ia berharap pengalamannya mampu memotivasi mahasiswa Ilmu Komunikasi lainnya. Terutama mereka yang memiliki tanggung jawab di luar perkuliahan.
Kisah Awalia membuktikan bahwa kerja keras dapat menghasilkan prestasi. Bahkan, kesibukan bukan penghalang untuk bersaing pada tingkat nasional.
Pwnulis: Selvy Dwi Machmuda















