Fbhis.umsida.ac.id – Kelulusan biasanya dirayakan dengan kebahagiaan dan berbagai selebrasi.
Namun, wisudawan Manajemen Umsida memilih cara yang berbeda. Mereka menjadikan momentum kelulusan sebagai kesempatan untuk berbagi.
Kepedulian tersebut diwujudkan melalui gerakan infaq pendidikan. Gerakan tersebut dihimpun melalui program GIZMA bersama alumni.
Penyerahan donasi berlangsung dalam Yudisium FBHIS ke-36. Kegiatan melibatkan perwakilan wisudawan dan pengelola program studi.
Mochamad Rizal Yulianto SE MM, Ketua Prodi Manajemen Umsida turut mendampingi kegiatan.
Pilihan tersebut menghadirkan makna berbeda tentang sebuah kelulusan. Pencapaian akademik tidak berhenti pada keberhasilan pribadi.
Para wisudawan juga berusaha meninggalkan manfaat bagi sesama.
Baca juga: Tanah Desa Tak Cukup Dijaga, Administrasinya Juga Harus Tertata
Kelulusan Menjadi Momentum Berbagi
Gerakan infaq tersebut lahir melalui kesadaran kolektif. Mahasiswa dan alumni turut mengambil bagian dalam gerakan.
Dana tersebut kemudian disalurkan melalui Lazismu Umsida. Rizal melihat gerakan tersebut sebagai pembelajaran nyata.
Menurutnya, ilmu manajemen tidak berhenti pada teori. Ilmu tersebut juga berkaitan dengan pengelolaan sumber daya.
“Ilmu manajemen mengajarkan kita tentang efisiensi, efektivitas, dan keberlanjutan,” ujarnya.
Nilai tersebut terlihat melalui pilihan para wisudawan. Mereka mengarahkan dana untuk memberikan manfaat lebih panjang.
Pilihan tersebut menjadi bentuk kepedulian setelah menyelesaikan studi. “Hari ini, para wisudawan kita telah mempraktikkan teori tersebut,” ungkapnya.
“Mereka mengalihkan dana selebrasi menjadi investasi akhirat,” lanjut Rizal. Menurutnya, langkah tersebut menunjukkan karakter lulusan Manajemen Umsida.
Kepedulian sosial menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter. Lulusan diharapkan mampu menjadi solusi bagi lingkungan sekitarnya.
“Mereka memiliki karakter moral yang matang dan siap menjadi solusi,” katanya. Kehadiran wisudawan juga menjadi simbol keberlanjutan kepedulian.
Mereka ingin meninggalkan warisan positif bagi kampus. Harapannya, kepedulian tersebut dapat diteruskan mahasiswa berikutnya.
Lihat juga: Studi Umsida Ungkap Pentingnya Faktor Internal dan Lingkungan bagi Wirausaha Muda
Lazismu Pastikan Dana Tepat Sasaran
Gerakan filantropi membutuhkan pengelolaan yang transparan dan akuntabel.
Karena itu, dana infaq diserahkan kepada Lazismu Umsida.
Penyerahan dilakukan secara simbolis dalam kegiatan tersebut.
Abdul Haris Effendie menerima dana tersebut secara langsung. Ia merupakan Pengurus Keuangan Lazismu Umsida Kampus 1.
Abdul Haris mengapresiasi langkah para wisudawan dan alumni. Menurutnya, dana tersebut akan dikelola secara produktif.
“Dana infaq ini tidak akan disia-siakan,” jelas Abdul Haris.
“Kami berkomitmen mendistribusikannya melalui program pendayagunaan produktif,” lanjutnya.
Dana tersebut dapat mendukung subsidi beasiswa pendidikan. Sasarannya mahasiswa yang membutuhkan dukungan finansial.
Bantuan tersebut diharapkan mencegah risiko putus kuliah. Selain pendidikan, dana juga mendukung usaha mikro binaan.
Penyaluran tersebut diharapkan memberikan manfaat yang lebih luas. Pengelolaan profesional menjadi bagian penting gerakan filantropi.
Dana umat perlu disalurkan berdasarkan kebutuhan penerima manfaat. Dengan begitu, infaq dapat memberikan dampak berkelanjutan.
Warisan Kebaikan Setelah Kelulusan
Gerakan tersebut memperlihatkan wajah lain pendidikan tinggi. Kampus tidak hanya menghasilkan lulusan berkompetensi akademik.
Kampus juga membentuk kepedulian sosial dalam diri mahasiswa. Bagi mahasiswa manajemen, pengalaman tersebut memiliki nilai pembelajaran.
Mereka belajar mengelola sumber daya secara bertanggung jawab. Mereka juga memahami pentingnya keberlanjutan dalam sebuah pengelolaan.
Keterlibatan alumni turut memperkuat keberlanjutan gerakan tersebut. Kontribusi tidak berhenti setelah mahasiswa menyelesaikan pendidikan.
Hubungan dengan kampus tetap dapat menghasilkan kebermanfaatan. Yudisium akhirnya tidak sekadar menjadi penanda kelulusan.
Momentum tersebut menjadi ruang menanam warisan kebaikan. Warisan tersebut diwujudkan melalui kepedulian kepada sesama.
Bagi Rizal, langkah tersebut menjadi praktik ilmu manajemen. Ilmu tidak hanya digunakan untuk mengejar keuntungan.
Ilmu juga dapat diarahkan untuk memberikan manfaat sosial. “Ini adalah bukti bahwa lulusan Manajemen memiliki kepedulian,” tegasnya.
Kelulusan akhirnya memiliki makna yang lebih panjang. Gelar menjadi awal perjalanan memberikan manfaat bagi sesama.
Selebrasi berubah menjadi kontribusi yang dapat terus dirasakan.
Penyunting: Indah Nurul Ainiyah


















