Fbhis.umsida.ac.id – Bagi mahasiswa baru, satu pertanyaan bisa membuka sebuah cerita menarik. Di pasar, keberanian berbicara menjadi modal sebelum kemampuan menulis berita.
Setiap jawaban membuka sudut pandang baru tentang kehidupan masyarakat sekitar. Pasar Larangan tak hanya dipenuhi transaksi dan keramaian.
Di tempat itu, mahasiswa Ikom Umsida menemukan pelajaran jurnalistik. Mereka belajar bahwa berita bermula dari keberanian bertanya.
Pengalaman tersebut berlangsung melalui praktik jurnalistik lapangan. Kegiatan berlangsung di Pasar Larangan, Sidoarjo, Senin (28/9/2026).
Mahasiswa semester satu kelas A1 mengikuti praktik tersebut. Mereka mendatangi pedagang dan pekerja untuk menggali cerita.
Prosesnya dilakukan melalui wawancara dan dokumentasi langsung. Mahasiswa juga belajar menghadapi berbagai respons narasumber.
Ada yang menerima, namun beberapa lainnya memilih menolak. Situasi tersebut justru menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa.
Baca juga: Jejak Publikasi Umsida Antarkan Tanzil ke Board Election Crossref 2026
Berani Mendekati Narasumber

Turun langsung membuat mahasiswa menghadapi situasi nyata. Mereka harus menentukan narasumber sesuai kebutuhan informasi.
Setiap mahasiswa membawa pertanyaan sebelum memulai wawancara. Namun, keberanian menjadi bekal utama selama proses tersebut.
Alif, mahasiswa semester satu kelas A1, mengalaminya langsung. Ia awalnya merasa antusias mengikuti praktik lapangan tersebut.
“Awalnya saya excited dan senang,” ujar Alif. Namun, situasi berubah ketika beberapa pedagang menolak.
“Waktu terjun langsung, awal-awal banyak ditolak,” katanya. Alif kemudian mencoba mencari narasumber lainnya.
Dari enam percobaan, hanya dua orang bersedia. “Saya tidak menyerah dan mencari narasumber lain,” katanya.
Pengalaman tersebut membuat Alif memahami proses pengumpulan data. Ia juga belajar bahwa wawancara membutuhkan ketekunan.
Lihat juga: Usai Dikukuhkan Jadi Duta Pencerah Umsida 2026, ini Misi Mifta Setelah Terpilih
Menggali Cerita Dari Pasar

Mahasiswa tidak hanya mewawancarai pedagang sayuran. Mereka juga mendekati pekerja yang beraktivitas di pasar.
Salah satunya ialah Moris, pedagang sayuran Pasar Larangan. Moris menilai mahasiswa menunjukkan sikap sopan.
“Kesan awalnya itu sopan,” ungkap Moris. “Mereka pertama izin dan menjelaskan maksud kedatangan,” lanjutnya.
Menurut Moris, mahasiswa tidak memaksakan kehendak. “Kalau kita menolak, ya mereka nggak maksa,” katanya.
Ia juga tidak merasa terganggu selama proses wawancara. Moris memahami tugas mahasiswa dari pengalaman sebelumnya.
Interaksi serupa juga terjadi bersama Sugiono. Ia merupakan tukang becak yang beraktivitas di pasar.
Mahasiswa menggali rutinitas kerja Sugiono setiap hari. Pertanyaan mencakup waktu berangkat hingga jam pulang.
Sugiono menyambut mahasiswa dengan terbuka. “Nggak terganggu, kita kan orang yang mau tugas,” tuturnya.
“Biasa bantu,” tambah Sugiono mengenai mahasiswa tersebut. Ia mengaku senang bisa membantu tugas mahasiswa.
Membentuk Etika Jurnalistik Mahasiswa
Praktik tersebut tidak berhenti pada pencarian informasi. Mahasiswa juga belajar membangun komunikasi dengan narasumber.
Sikap sopan menjadi bagian penting selama wawancara. Mahasiswa perlu meminta izin sebelum menggali informasi.
Mereka juga harus menghargai keputusan setiap narasumber. Pengalaman lapangan membantu mahasiswa memahami dinamika peliputan.
Dosen pengampu Istiqomah MMedKom menjelaskan tujuan kegiatan. Kegiatan dirancang untuk memperkuat kemampuan menulis straight news.
“Karena kebutuhan sekarang untuk kepenulisan straight news,” jelasnya. Menurutnya, kebutuhan tersebut masih besar dalam dunia jurnalistik.
“Kita saat ini juga sedang krisis penulis straight news,” ujarnya. Namun, ia menegaskan jenis tulisan lain tetap penting.
“Bukan berarti jenis lain tidak penting,” tambah Istiqomah. Kemampuan tersebut dibutuhkan ketika mahasiswa menjalani magang.
Kemampuan itu juga berguna saat mengikuti KKN. Karena itu, mahasiswa perlu memahami proses sebelum menulis.
Mereka harus mengumpulkan data secara langsung dan akurat. Mereka juga perlu menentukan narasumber yang relevan.
Dokumentasi menjadi bagian penting dalam mendukung bahan berita. Pengalaman tersebut membuat pembelajaran terasa lebih kontekstual.
Menulis berita akhirnya tidak sekadar tugas kelas. Mahasiswa belajar dari penolakan, percakapan, dan pengamatan.
Pasar Larangan menjadi ruang belajar jurnalistik yang nyata. Dari lapak sayur hingga becak, cerita terus ditemukan.
Setiap interaksi memberi pengalaman untuk menjadi jurnalis lebih siap.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















