Fbhis.umsida.ac.id – International Conference on Emerging New Media and Social Sciences (ICEMSS) 5th kembali menjadi agenda internasional unggulan Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Ikom Umsida). Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya yang rutin digelar di Bali, tahun ini konferensi berlangsung di Yogyakarta tepatnya di Aveon Hotel pada Rabu, (13/05).
Mengusung tema “Interconnected Identities: Communication, Culture, and the Global Mind,” konferensi ini menjadi ruang kolaborasi akademik lintas negara yang mempertemukan dosen, mahasiswa, peneliti, hingga praktisi komunikasi dari berbagai institusi internasional.
Salah satu dosen Ikom Umsida yang tampil sebagai pembicara adalah Dr Ferry Adhi Dharma MIKom, dengan materi bertajuk Challenges in Cross-Cultural Communication Among Gen Z: Cross-Cultural Misinterpretation in the Digital Space.
Dalam presentasinya, Dr Ferry membahas perubahan besar komunikasi lintas budaya di era digital akibat dominasi media sosial dan budaya visual.
Ia menyoroti fenomena hyperreality yang diperkenalkan Jean Baudrillard, yaitu kondisi ketika representasi digital terasa lebih nyata dibanding realitas aslinya.
“Generasi muda saat ini lebih banyak memahami budaya melalui layar media sosial dibanding pengalaman langsung. Akibatnya, budaya lebih sering dipahami sebagai konten visual yang mudah dikonsumsi dan diviralkan,” jelasnya.
Budaya Digital dan Fenomena Hyperreality
Dalam pemaparannya, Dr Ferry menjelaskan bahwa komunikasi antarbudaya kini tidak lagi berlangsung secara langsung, melainkan melalui representasi digital yang dikendalikan algoritma dan logika viralitas media sosial.
Kondisi tersebut membuat budaya mengalami proses simulasi yang perlahan menggeser makna aslinya.

Ia menjelaskan tahapan simulasi budaya mulai dari realitas budaya, representasi melalui foto atau video, simulasi dalam bentuk konten digital, hingga akhirnya menjadi hyperreality ketika publik lebih mengenal versi viral dibanding makna budaya sebenarnya.
Contoh fenomena tersebut terlihat pada tradisi Ngaben di Bali yang sering dipahami hanya sebagai visual budaya menarik tanpa memahami nilai sakral di baliknya.
Selain itu, penggunaan pakaian adat di media sosial juga lebih banyak diposisikan sebagai identitas estetis modern dibanding simbol budaya yang memiliki filosofi mendalam.
“Ritual budaya yang awalnya memiliki makna sakral berubah menjadi tontonan visual yang diproduksi ulang melalui video, tren, hingga challenge di TikTok,” ungkapnya.
Menurut Dr Ferry, kondisi ini menjadi tantangan besar dalam komunikasi lintas budaya karena masyarakat digital lebih banyak mengonsumsi representasi dibanding memahami konteks budaya secara utuh.
Literasi Budaya Digital Jadi Kebutuhan Generasi Z
Selain membahas hyperreality, Dr. Ferry juga menyoroti pentingnya literasi budaya digital bagi generasi Z.
Ia menilai banyak konflik budaya di media sosial muncul akibat masyarakat hanya melihat potongan konten tanpa memahami konteks budaya yang sebenarnya.
Salah satu contoh yang disorot adalah perdebatan budaya antara Indonesia dan Malaysia di TikTok.
Menurutnya, komunikasi digital sering terjebak pada logika kepemilikan budaya dan nasionalisme emosional yang justru memperkeruh dialog antarbudaya.

“Perdebatan budaya di media sosial sering kali dipenuhi reaksi emosional karena masyarakat tidak memahami sejarah pertukaran budaya yang panjang antarnegara serumpun,” jelasnya.
Karena itu, ia menekankan perlunya pendekatan komunikasi yang lebih reflektif melalui edukasi literasi budaya digital, dialog antarbudaya, dan diplomasi budaya berbasis kolaborasi.
Lihat juga: ICEMSS 2026, Ikom Umsida Perkuat Jejaring Akademik Global Bersama Mitra Internasional
ICEMSS Jadi Ruang Kolaborasi Akademik Internasional
Keikutsertaan dosen Ikom Umsida dalam ICEMSS 5th menunjukkan komitmen program studi dalam memperkuat kontribusi akademik di tingkat internasional, khususnya dalam kajian media digital dan komunikasi budaya kontemporer.
Melalui konferensi ini, diharapkan lahir berbagai gagasan dan kolaborasi penelitian yang mampu menjawab tantangan komunikasi global di era digital.
Tidak hanya itu, kegiatan ini juga menjadi wadah bagi akademisi dan mahasiswa untuk memperluas jejaring internasional serta meningkatkan pemahaman terhadap dinamika komunikasi lintas budaya di tengah perkembangan teknologi media baru.
Konferensi internasional ini sekaligus menegaskan pentingnya peran akademisi sebagai narator yang mampu menjelaskan konteks budaya secara utuh, sehingga ruang digital tidak hanya menjadi tempat viralitas, tetapi juga ruang pembelajaran budaya yang lebih kritis dan reflektif.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















