Sukses Bukan Hanya Ikhtiar Fittyan Izza Soroti Kekuatan Doa

Fbhis.umsida.ac.id – Kajian Ramadan yang disampaikan dosen Akuntansi FBHIS Umsida, H Fityan Izza Noor Abidin, menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian silaturahmi keluarga besar dan temu alumni FBHIS Umsida.

Dalam kajian tersebut, ia mengajak peserta memaknai kembali arti kesuksesan, bukan semata dari ukuran materi, jabatan, atau strategi duniawi, melainkan dari kedekatan spiritual seorang hamba kepada Allah.

Menurut Fityan, banyak orang ingin meraih keberhasilan, tetapi kerap melupakan fondasi utama yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ia menegaskan bahwa doa bukan sekadar pelengkap setelah manusia berusaha, melainkan dasar yang harus mengiringi seluruh proses ikhtiar.

“Kunci utama kesuksesan bukan pertama-tama terletak pada kerja keras semata, kekayaan, atau strategi duniawi, melainkan pada kekuatan doa,” ujarnya dalam kajian menjelang berbuka puasa.

Ia menjelaskan, doa harus dipandang sebagai dasar, senjata, sekaligus fondasi hidup yang sering terlupakan ketika seseorang sedang sibuk mengejar target keberhasilan.

Dalam penjelasannya, Fityan juga merujuk pada pemahaman bahwa takdir atau ketentuan dapat berubah dengan doa.

Karena itu, menurutnya, doa tidak boleh dipahami sebagai sikap pasif, tetapi sebagai bentuk pengharapan aktif yang sangat menentukan arah hidup seseorang.

Doa Menjadi Fondasi dalam Setiap Ikhtiar

Dalam penyampaiannya, Fityan menekankan bahwa hubungan antara doa, rezeki, dan kualitas hidup seseorang sangat erat.

Ia mengingatkan bahwa tidak semua hambatan hidup terjadi karena kurangnya kerja keras.

Ada kalanya seseorang terhalang rezekinya karena dosa atau penghalang spiritual lain yang tidak disadari.

“Ada orang yang terhalang rezekinya bukan semata karena kurang bekerja, melainkan karena dosa dan penghalang-penghalang spiritual lainnya,” jelasnya.

Ia lalu mengibaratkan doa sebagai bentuk komunikasi antara hamba dengan Tuhannya. Jika komunikasi dilakukan dengan baik, maka pesan akan tersampaikan dengan lebih jelas.

Begitu pula doa, yang bukan hanya rangkaian ucapan, tetapi sarana menyampaikan kebutuhan, harapan, kerendahan hati, serta ketergantungan seorang manusia kepada Allah.

Melalui penjelasan tersebut, Fityan ingin menegaskan bahwa kualitas hubungan spiritual akan sangat memengaruhi cara seseorang memahami hasil dari ikhtiar yang dilakukan.

Ketika doa ditempatkan sebagai bagian utama dari usaha, maka seseorang akan lebih siap menerima proses, hasil, maupun ujian hidup dengan lebih tenang dan matang.

Jawaban Doa Tidak Selalu Sesuai Keinginan

Salah satu gagasan penting yang disampaikan dalam kajian itu adalah bahwa doa tidak selalu menghasilkan apa yang diminta, tetapi bisa menghadirkan apa yang sebenarnya dibutuhkan.

Menurut Fityan, di situlah letak kedewasaan seorang hamba saat berdoa: bukan sekadar meminta, tetapi juga percaya bahwa Allah mengetahui apa yang paling tepat.

“Ketika doa dikabulkan, kita bahagia karena mendapatkan apa yang diinginkan. Tetapi ketika doa belum atau tidak dikabulkan, bisa jadi Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih tepat daripada yang kita minta,” terangnya.

Pesan ini diperkuat dengan kisah pribadinya saat ingin menunaikan ibadah haji. Ia mengaku pernah berulang kali memanjatkan doa agar diberi kesempatan berhaji.

Namun, yang datang justru kesempatan umrah, bahkan lebih dari sekali. Hingga pada akhirnya, kesempatan berhaji benar-benar datang pada waktu yang menurutnya paling tepat.

“Allah tidak selalu memberi sesuai waktu yang kita inginkan, tetapi Allah selalu memberi pada waktu terbaik menurut-Nya,” ungkapnya.

Bagi Fityan, pengalaman tersebut menjadi pelajaran bahwa doa harus disertai keyakinan, kesabaran, dan kesiapan menerima bentuk jawaban Allah yang kadang berbeda dari harapan manusia.

Di akhir kajiannya, ia juga menjelaskan keutamaan berdoa di tempat-tempat mustajab, terutama di tanah suci.

Ia menekankan bahwa doa bukan hanya soal ucapan, tetapi juga berkaitan dengan adab, keyakinan, kesungguhan, dan pemanfaatan momentum terbaik.

Karena itu, kesuksesan sejati, menurutnya, tidak dapat dilepaskan dari kebersihan hati, kesabaran menerima ketetapan Allah, dan kesadaran bahwa setiap usaha lahiriah harus selalu ditopang oleh kedekatan spiritual.

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Berita Terkini

Seminar Nasional Akuntansi Umsida Kupas Big Data, Perkuat Audit dan Kepatuhan Digital
June 10, 2026By
Lomba Desain Chitra Vistara, HIMMAPIK Umsida Dorong Kreativitas Infografis Pelajar
June 9, 2026By
Warisan Rasa Jadi Inovasi Mahasiswa Umsida Perkuat Kuliner Tradisional dan Bisnis Berbasis Budaya Lokal
June 5, 2026By
Empocare Hasil Inovasi Minuman Herbal Mahasiswa Umsida Lolos P2MW 2026, Usung Konsep Ramah Lingkungan
June 3, 2026By
Bio Circular Agro Estate Antar HIMMAPIK Umsida Wujudkan Peluang Ekonomi dari Sampah
June 2, 2026By
Abdimas Umsida Dorong UMKM Perempuan Naik Kelas Lewat Literasi Keuangan dan Modal
May 26, 2026By
Lolos P2MW 2026, Mahasiswa Umsida Kembangkan Platform Jasa Event Digital
May 25, 2026By
Dosen Umsida Soroti Kesenjangan Penegakan Hukum dan Bahaya Trial by Media Digital
May 22, 2026By

Prestasi

Evaluasi Diri Bawa Mahasiswa Hukum Umsida Raih Dua Medali di Pertandingan Karate
May 8, 2026By
Hebat! Zabrina Taklukkan Arena Karate dan Bawa Pulang Tiga Medali untuk Umsida
May 7, 2026By
Sekali Turun, Tiga Emas: Prestasi Gemilang Mahasiswa Hukum Umsida
May 6, 2026By
Lawan Rasa Minder, Windy Sabet Juara 1 di Kejuaraan Internasional Pencak Silat 2026
April 15, 2026By
Atasi Rasa Minder, Vivi Nabila Bawa Pulang Emas pada Ajang Paku Bumi Championship 2026
April 14, 2026By
Tampil Dominan, Muhammad Sonhaji Sabet Emas Paku Bumi Championship 2026
April 10, 2026By
Mahasiswa Umsida Raih Perak di Paku Bumi Championship, Bukti Latihan Singkat Tak Halangi Prestasi
April 7, 2026By
Di Balik Kemudi Delta EV: Peran Strategis Mardi Lukas di Shell Eco-Marathon Qatar 2026
February 5, 2026By