fbhis.umsida.ac.id– Kebiasaan belajar pada pukul 03.00 dini hari menjadi salah satu bagian dari perjalanan Sri Rohimah dalam meraih prestasi akademik.
Mahasiswa Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) tersebut.
berhasil menyelesaikan pendidikan dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,90 dan predikat cumlaude.
Sri Rohimah berhasil menuntaskan masa studinya dalam waktu tiga tahun sebelas bulan.
Pencapaian tersebut sekaligus mengantarkannya menjadi salah satu wisudawan terbaik Program Studi Manajemen Umsida.
Di balik keberhasilannya, Sri menyimpan cerita tentang kedisiplinan, konsistensi, serta dukungan orang tua yang menjadi sumber semangat selama menjalani perkuliahan.
Baginya, prestasi akademik bukan semata-mata tentang seberapa lama seseorang belajar, melainkan bagaimana kebiasaan sederhana dilakukan secara konsisten sehingga memberikan hasil yang maksimal.
Lihat Juga: Berawal dari Kebiasaan Kecil, Dyah Tuhrotul Fuada Jadi Wisudawan Terbaik Umsida
Konsisten Belajar dan Memanfaatkan Waktu Sejak Dini Hari
Kedisiplinan menjadi prinsip utama yang selalu diterapkan Sri Rohimah selama menempuh pendidikan di Prodi Manajemen Umsida.
Ia berusaha mengikuti setiap perkuliahan dengan baik, memahami materi yang disampaikan dosen, serta menyelesaikan tugas tanpa menunggu batas akhir pengumpulan.
“Kunci utamanya adalah kedisiplinan dan konsistensi,” ungkap Sri Rohimah.
Salah satu kebiasaan yang membantu mempertahankan prestasi akademik adalah memanfaatkan waktu dini hari untuk belajar.
“Belajar di waktu pagi dini, sekitar pukul 03.00–04.00,” tuturnya.
Menurutnya, suasana dini hari yang relatif tenang membuat proses belajar terasa lebih nyaman dan membantu meningkatkan konsentrasi.
Tak hanya membaca materi, Sri juga membiasakan diri mencatat poin-poin penting menggunakan bahasa yang mudah dipahami.
Ia meyakini bahwa memahami konsep jauh lebih penting dibandingkan sekadar menghafal materi untuk menghadapi ujian.
Selain belajar secara mandiri, Sri aktif berdiskusi bersama teman-temannya. Melalui kegiatan tersebut, ia dapat bertukar pemahaman sekaligus menemukan solusi ketika menghadapi materi yang sulit.
Baginya, lingkungan pertemanan yang positif juga memiliki peran penting dalam menunjang keberhasilan akademik.
Baca Juga: Kuliah Tamu Etika Bisnis Umsida Dorong Mahasiswa Bangun Integritas dan Kepedulian Sosial
Tak Menyerah Meski Hadapi Tekanan Akademik
Meski berhasil meraih IPK hampir sempurna, perjalanan perkuliahan Sri Rohimah tidak selalu berjalan sesuai harapan.
Ia mengaku pernah menghadapi situasi ketika tugas besar dan jadwal ujian datang dalam waktu terdekat. Kondisi tersebut sempat membuatnya merasa senang.
Beberapa mata kuliah juga menjadi tantangan tersendiri, terutama ketika hasil penilaian yang diperoleh belum sesuai dengan targetnya.
Namun, Sri tidak membiarkan keadaan tersebut mengurangi semangat belajarnya.
Ia memilih menguraikan kekurangan, menyusun kembali prioritas, serta mencari cara agar dapat memahami materi dengan lebih baik.
Ketika menemui kesulitan, Sri tidak ragu bertanya kepada dosen maupun berdiskusi dengan teman-temannya.
Ia juga memanfaatkan waktu jeda antara kuliah untuk mengerjakan tugas sehingga pekerjaan tidak menumpuk menjelang tenggat waktu pengumpulan.
Cara tersebut membantu mengelola waktu antara kegiatan akademik dan kehidupan pribadi.
Di tengah berbagai kesibukannya, Sri tetap menyadari pentingnya memberikan waktu istirahat bagi dirinya sendiri.
“Konsistensi lebih penting daripada kesempurnaan,” tegasnya.
Prinsip tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak harus dicapai melalui langkah besar sekaligus, tetapi dapat dibangun melalui usaha kecil yang dilakukan secara berkelanjutan.
Doa Orang Tua Jadi Motivasi Meraih Prestasi

Di balik pencapaian akademiknya, Sri Rohimah mengungkapkan bahwa orang tua memiliki peran besar dalam perjalanan pendidikannya.
Dukungan dan doa keluarga menjadi sumber kekuatan yang membuatnya terus berusaha memberikan hasil terbaik.
Apalagi ketika menghadapi tekanan perkuliahan dan rasa lelah, Sri selalu mengingat harapan orang tuanya sebagai alasan untuk kembali bangkit.
“Saya selalu mengingatkan diri sendiri: semua ini adalah harapan orang tua,” ujarnya.
Bagi Sri, keberhasilannya meraih predikat cumlaude bukan hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi juga bentuk rasa terima kasih atas dukungan orang-orang yang selalu mendampinginya.
Ia juga mengapresiasi teman-teman yang telah menjadi bagian dari perjalanan akademiknya. Kebersamaan selama perkuliahan memberikan banyak pengalaman dan pembelajaran yang berharga.
Setelah menyelesaikan pendidikan, Sri berencana melanjutkan langkahnya ke dunia profesional dengan bekerja sesuai bidang keilmuan Manajemen.
Ia berharap ilmu dan pengalaman yang diperoleh selama berkuliah di Umsida dapat menjadi bekal untuk menghadapi tantangan dunia kerja.
Meski berhasil memperoleh IPK 3,90, Sri tidak ingin menjadikan pencapaian tersebut sebagai titik akhir perjuangannya.
“IPK tinggi ini bukan tujuan akhir, melainkan pintu gerbang membuka lebih banyak peluang dan kesempatan,” ungkapnya.
Sri juga berpesan kepada mahasiswa lainnya agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan selama menjalani perkuliahan.
Menurutnya, setiap siswa memiliki proses dan tantangan yang berbeda-beda.
Oleh karena itu, membangun kebiasaan positif, menjaga kedisiplinan, dan terus berusaha menjadi hal penting dalam mencapai keberhasilan.
Kisah Sri Rohimah menjadi bukti bahwa prestasi akademik dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana yang dijalankan dengan sungguh-sungguh.
Dari waktu belajar di dini hari hingga keberhasilannya meraih predikat cumlaude,.
Sri menunjukkan bahwa konsistensi dan ketekunan mampu mengantarkan seseorang menuju pencapaian yang memuaskan.
Penulis: Selvy Dwi Machmuda

















