Budaya Hustle di Kalangan Mahasiswa: Produktif atau Diam-Diam Memicu Burnout?

Fbhis.umsida.ac.id – Menjadi mahasiswa saat ini tidak lagi hanya tentang datang ke kelas, mengerjakan tugas, lalu pulang.

Banyak mahasiswa aktif mengikuti organisasi, magang, kepanitiaan, lomba, proyek penelitian, hingga membangun bisnis atau menjadi kreator konten.

Di media sosial, kesibukan seperti ini sering dianggap sebagai gambaran mahasiswa yang produktif dan sukses.

Fenomena tersebut dikenal sebagai hustle culture, yaitu kebiasaan untuk terus bekerja, berkarya, dan mengejar pencapaian tanpa henti.

Di satu sisi, budaya ini mampu mendorong mahasiswa untuk berkembang dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin.

Namun di sisi lain, muncul pertanyaan apakah semua kesibukan tersebut benar-benar mencerminkan produktivitas, atau justru menjadi awal munculnya kelelahan fisik dan mental.

Menjadi aktif tentu merupakan hal positif. Akan tetapi, ketika seseorang merasa harus selalu sibuk agar dianggap berhasil, batas antara produktif dan kelelahan sering kali menjadi semakin tipis.

Baca juga: AI di Dunia Akademik: Mempermudah Belajar Tanpa Mengorbankan Etika

Produktif Tidak Selalu Harus Sibuk
Sumber: Pexels

Banyak mahasiswa percaya bahwa semakin padat jadwal yang dimiliki, semakin tinggi pula nilai dirinya.

Akibatnya, tidak sedikit yang berusaha mengisi hampir seluruh waktunya dengan berbagai kegiatan, mulai dari kuliah, organisasi, pekerjaan paruh waktu, hingga mengikuti berbagai pelatihan dan kompetisi.

Padahal, produktivitas tidak selalu diukur dari seberapa banyak aktivitas yang dilakukan dalam sehari.

Produktif berarti mampu menyelesaikan pekerjaan dengan baik, mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dan tetap menjaga kualitas hasil yang dikerjakan.

Kesibukan yang terlalu banyak justru dapat membuat seseorang kehilangan fokus.

Tugas menjadi menumpuk, waktu istirahat berkurang, dan pekerjaan yang dilakukan terasa hanya untuk memenuhi target, bukan lagi sebagai proses belajar.

Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, mahasiswa berisiko mengalami kelelahan yang sulit disadari sejak awal.

Karena itu, penting untuk memahami bahwa mengatakan “tidak” pada beberapa kegiatan bukan berarti kurang ambisi.

Justru kemampuan menentukan prioritas merupakan bagian dari manajemen waktu yang baik.

Lihat juga: Konten Self-Growth di TikTok, Ruang Baru Perempuan Gen Z Membangun Identitas dan Kepercayaan Diri

Burnout Datang Tanpa Disadari

Burnout sering kali tidak muncul secara tiba-tiba. Kondisi ini berkembang perlahan ketika seseorang terus memaksakan diri bekerja atau belajar tanpa memberikan waktu yang cukup untuk beristirahat.

Tanda-tandanya bisa berupa rasa lelah berkepanjangan, sulit berkonsentrasi, kehilangan motivasi, hingga merasa tugas yang sebelumnya menyenangkan berubah menjadi beban.

Dalam kondisi tertentu, burnout juga dapat memengaruhi kesehatan fisik, kualitas tidur, dan hubungan sosial.

Mahasiswa menjadi kelompok yang cukup rentan karena harus menghadapi berbagai tuntutan secara bersamaan.

Selain menyelesaikan tugas akademik, mereka juga sering dihadapkan pada ekspektasi untuk aktif berorganisasi, memiliki pengalaman kerja, mengembangkan keterampilan baru, bahkan membangun personal branding sejak masih kuliah.

Apabila semua target tersebut dijalani tanpa memperhatikan kondisi diri, produktivitas yang diharapkan justru dapat menurun.

Tubuh dan pikiran membutuhkan waktu untuk pulih agar mampu bekerja secara optimal dalam jangka panjang.

Menemukan Ritme Belajar Yang Sehat

Membangun kebiasaan produktif tetap penting, tetapi perlu diimbangi dengan pola hidup yang sehat.

Mahasiswa dapat mulai dengan menyusun prioritas, membuat jadwal yang realistis, serta memberi ruang untuk beristirahat di sela aktivitas.

Istirahat bukan berarti malas. Sebaliknya, waktu untuk tidur yang cukup, berolahraga, menjalankan hobi, atau sekadar menikmati waktu bersama keluarga dan teman dapat membantu menjaga keseimbangan antara kehidupan akademik dan kesehatan mental.

Selain itu, setiap mahasiswa memiliki kemampuan dan kondisi yang berbeda.

Membandingkan diri dengan pencapaian orang lain di media sosial sering kali justru memunculkan tekanan yang tidak perlu.

Fokus pada perkembangan diri sendiri akan jauh lebih bermanfaat daripada terus mengejar standar yang belum tentu sesuai dengan kapasitas pribadi.

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa yang produktif bukan berarti harus selalu sibuk setiap saat.

Produktivitas yang sesungguhnya adalah kemampuan untuk terus berkembang tanpa mengorbankan kesehatan fisik maupun mental.

Dengan menjaga keseimbangan antara belajar, beraktivitas, dan beristirahat, mahasiswa dapat meraih prestasi sekaligus menikmati proses perkuliahan secara lebih sehat dan berkelanjutan.

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Berita Terkini

Mahasiswa
Raih Prestasi Internasional, Tiga Mahasiswa Akuntansi Umsida Antarkan Rekannya Jadi Wisudawan Berprestasi 
November 5, 2026By
Pengalaman
Empat Mahasiswa Akuntansi Umsida Petik Pengalaman Berharga di DPRD Sidoarjo  
November 4, 2026By
Tersebut
Bukan Sekadar Perkenalan, Sharing Session Administrasi Publik Umsida Bangun Kedekatan Mahasiswa
November 3, 2026By
Fbhis
Resmi Dilantik, BEM FBHIS Umsida Siap Perjuangkan Aspirasi dan Kepentingan Mahasiswa
November 2, 2026By
Tantangan
Haflah Jadi Wisudawan Berprestasi Akuntansi Umsida Usai Raih Best Poster ICEBIZ 2025
October 30, 2026By
Menjadi
Kuliah Sambil Bekerja, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Umsida Raih Juara 1 Nasional
October 29, 2026By
Menjadi
Berani Keluar Zona Nyaman, Prasetyo Utomo Buktikan Prestasi hingga Tingkat Internasional
October 28, 2026By
Sri
Disiplin Belajar Sejak Dini Hari, Sri Rohimah Raih IPK 3,90 dan Predikat Cumlaude
October 27, 2026By

Prestasi

Mahasiswa
Raih Prestasi Internasional, Tiga Mahasiswa Akuntansi Umsida Antarkan Rekannya Jadi Wisudawan Berprestasi 
November 5, 2026By
Tantangan
Haflah Jadi Wisudawan Berprestasi Akuntansi Umsida Usai Raih Best Poster ICEBIZ 2025
October 30, 2026By
Menjadi
Kuliah Sambil Bekerja, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Umsida Raih Juara 1 Nasional
October 29, 2026By
Menjadi
Berani Keluar Zona Nyaman, Prasetyo Utomo Buktikan Prestasi hingga Tingkat Internasional
October 28, 2026By
Sri
Disiplin Belajar Sejak Dini Hari, Sri Rohimah Raih IPK 3,90 dan Predikat Cumlaude
October 27, 2026By
Kebiasaan
Berawal dari Kebiasaan Kecil, Dyah Tuhrotul Fuada Jadi Wisudawan Terbaik Umsida
October 26, 2026By
Berani Melangkah, Jesika Temukan Makna Menjadi Duta Pencerah Umsida
October 6, 2026By
Dari Gagal hingga Terpilih, Mala Bawa Misi Pencerahan di Umsida
October 5, 2026By