SDM Hijau dan Masa Depan Bisnis: Menelisik Green Intellectual Capital dalam Industri Farmasi

Fbhis.umsida.ac.id – Green intellectual capital kini menjadi aset strategis yang menentukan daya saing perusahaan di era bisnis berkelanjutan.

Di tengah kompetisi global yang semakin kompleks, khususnya di industri farmasi, muncul pertanyaan mendasar: apa yang membedakan perusahaan yang bertahan dan tumbuh dari yang stagnan?

Jika dulu jawaban umum adalah modal besar atau teknologi canggih, kini tren mulai bergeser ke arah yang lebih tak kasat mata: kualitas sumber daya dan keberlanjutan.

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh Sriyono, dosen Magister Manajemen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), menghadirkan perspektif baru melalui konsep green intellectual capital (GIC).

Konsep ini menekankan pentingnya mengelola modal intelektual perusahaan yang berpadu dengan kesadaran terhadap isu lingkungan hidup.

Green intellectual capital merupakan kekuatan tak terlihat yang mampu menggerakkan performa perusahaan sekaligus memperkuat posisi kompetitifnya,” ujar Sriyono dalam penjelasannya.

GIC terdiri dari tiga elemen utama: green human capital, green structural capital, dan green relational capital.

Ketiganya tidak hanya fokus pada kemampuan teknis atau manajerial, tetapi juga pada bagaimana pengetahuan dan hubungan dalam perusahaan dapat dikelola untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.

Baca juga: Membangun Infrastruktur Berkelanjutan: Peran SDGs ke-9 dalam Kemajuan Ekonomi dan Sosial

Green Human Capital: SDM Biasa Tak Lagi Cukup
Sumber: Ilustrasi AI

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Environmental Economics ini secara khusus menyoroti peran penting green human capital—modal SDM yang memiliki kepedulian tinggi terhadap lingkungan.

Dalam sektor farmasi yang sangat berkaitan dengan limbah kimia, limbah medis, dan proses produksi yang intensif energi, SDM semacam ini menjadi sangat krusial.

“Banyak perusahaan masih menilai karyawan hanya dari segi produktivitas. Padahal di era sekarang, kita perlu melihat apakah SDM juga membawa nilai-nilai keberlanjutan,” terang Sriyono.

Ia menambahkan bahwa bentuk konkret dari green human capital bisa berupa pelatihan internal yang menanamkan kesadaran lingkungan, penerapan sistem kerja yang hemat energi dan bebas limbah berbahaya, hingga pembentukan budaya perusahaan yang mendukung etika ramah lingkungan.

Namun demikian, studi ini juga menemukan bahwa human capital dapat berdampak negatif bila tidak dikelola dalam kerangka keberlanjutan.

Artinya, SDM yang hanya mengejar efisiensi tanpa mempertimbangkan dampak ekologis justru bisa merugikan perusahaan dalam jangka panjang.

Menurutnya, Inilah mengapa penting untuk membentuk SDM yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral terhadap alam sekitar.

Lihat juga: Efisiensi Supply Chain: Kunci Keberlanjutan Bisnis di Era Digital

Mengukur yang Tak Terukur
Sumber: Pexels

Salah satu tantangan terbesar dalam penerapan green intellectual capital adalah bagaimana mengukurnya.

Dalam sistem akuntansi konvensional, aset tidak berwujud seperti pengetahuan, budaya kerja, dan relasi pelanggan sulit dicatat secara kuantitatif. Padahal, dampaknya terhadap performa bisnis sangat signifikan.

Sriyono menegaskan, “Hingga kini belum ada standar akuntansi global yang benar-benar bisa menangkap nilai GIC. Ini menjadi pekerjaan rumah besar bagi akademisi dan praktisi keuangan,” ungkapnya.

Penelitian ini sendiri menggunakan pendekatan kuantitatif dengan analisis regresi dan uji Sobel. Hasilnya cukup mencengangkan—GIC berkontribusi hingga 94% terhadap kinerja perusahaan, dan berpengaruh besar terhadap keunggulan bersaing yang ramah lingkungan.

Angka ini menunjukkan bahwa perusahaan yang mengintegrasikan nilai hijau dalam intelektual dan sistem manajemennya memiliki peluang besar untuk lebih unggul di pasar.

Ke depan, Sriyono menilai perlu ada riset lanjutan untuk melihat apakah pengaruh GIC ini berbeda antara perusahaan besar dan menengah.

“Apakah perusahaan kecil juga bisa menerapkan prinsip yang sama dan mendapatkan hasil serupa? Ini menarik untuk diteliti lebih dalam,” tuturnya.

GIC Bukan Sekadar Tren, tapi Kebutuhan Masa Depan

Green Intellectual Capital bukan sekadar jargon akademik atau tren manajemen sesaat. Ia adalah refleksi dari bagaimana bisnis harus dijalankan di masa depan menguntungkan secara ekonomi sekaligus bertanggung jawab secara ekologis.

“Perusahaan hari ini tidak cukup hanya pintar menghitung untung, tapi juga harus bijak dalam menjaga bumi. Di situlah letak keunggulan sesungguhnya,” pungkas Sriyono.

Dengan kata lain, keberhasilan sebuah perusahaan kini bukan hanya dinilai dari seberapa besar laba yang diraih, tetapi seberapa jauh kontribusinya terhadap keberlanjutan kehidupan.

Sumber: Jurnal Green perspective on intellectual capital, corporate social responsibility, and
competitive advantage: The role of firm performance”

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Berita Terkini

Paradoks Keterbukaan di Desa: Ketika Komunikasi Justru Menurunkan Kualitas Layanan
February 20, 2026By
Resonansi Cita HIMMAPIK Umsida Kukuhkan Sinergi dan Loyalitas Organisasi
February 19, 2026By
Himabig Umsida Gandeng SSC Perkuat Calistung dan Kreativitas Anak Lewat Gema Literasi
February 18, 2026By
Aslab Akuntansi Umsida Kupas Strategi Cuan di Tengah Volatilitas IHSG Lewat Webinar Saham
February 16, 2026By
Rumus Prof Sigit Dorong Kinerja Lembaga Zakat lewat IC dan Keuangan
February 12, 2026By
Potensi Zakat 327 Triliun Baru Terhimpun 41 Triliun Prof Sigit Soroti Akarnya
February 11, 2026By
Menumbuhkan Karakter dan Komitmen dalam Organisasi, Himabig Umsida Kukuhkan Anggota Baru 2026
February 10, 2026By
Umsida Resmikan Prof Sigit Jadi Guru Besar, Fokus Bidang IC dan Analisis Keuangan
February 9, 2026By

Prestasi

Di Balik Kemudi Delta EV: Peran Strategis Mardi Lukas di Shell Eco-Marathon Qatar 2026
February 5, 2026By
Langkah Pertama Yayan di Ju Jitsu Open Mojokerto Berbuah Pengalaman Berharga
January 24, 2026By
Debut Manis Atlet Muda Umsida di Kejuaraan Ju-Jitsu Open Piala KONI Mojokerto 2026
January 23, 2026By
Krisna Punjabi: Pesona ke Arena Nasional, Buktikan Prestasi Melalui Karate
January 7, 2026By
Bangkit dari Kekosongan, Dwi Langen Widi Cahyono Menorehkan Prestasi di Arena Karate
January 6, 2026By
Zabrina Bawa Pulang Emas dan Perunggu di Batu Karate Challenge 2025, Buktikan Prestasi Tanpa Batas
January 5, 2026By
Naufal Rafi Putra Tembus Final Karate Challenge, Sabet Perak dan Masuk 10 Besar
January 3, 2026By
Tampil Percaya Diri di Ajang Provinsi, Mahasiswi Umsida Raih 2nd Runner Up Miss Jawa Timur 2025
January 2, 2026By