Fbhis.umsida.ac.id – Perkembangan pemasaran digital dalam satu dekade terakhir menunjukkan perubahan mendasar pada cara merek membangun kedekatan dengan konsumen.
Jika sebelumnya promosi bertumpu pada iklan satu arah melalui media konvensional, kini strategi pemasaran bergerak ke ruang yang lebih personal dan interaktif.
Salah satu aktor penting dalam lanskap ini adalah digital influencer. Melalui riset Systematic Literature Review: The Role of Digital Influencers in Digital Marketing yang dilakukan oleh Bayu Hari Prasojo SSi MPd, dosen Program Studi Bisnis Digital Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), peran influencer terbukti krusial dalam meningkatkan brand awareness sekaligus membentuk persepsi konsumen terhadap sebuah merek .
Riset tersebut mengkaji berbagai penelitian dalam rentang 2018–2025 dan menunjukkan bahwa influencer bukan sekadar alat promosi, melainkan jembatan strategis antara merek dan audiens.
Di tengah banjir informasi digital, konsumen cenderung lebih percaya pada rekomendasi figur yang mereka ikuti dibandingkan pesan iklan formal.
Di sinilah brand awareness dibangun secara halus melalui kedekatan emosional, cerita personal, dan konten yang terasa relevan dengan kehidupan sehari-hari audiens.
Menurut Bayu Hari Prasojo, kekuatan influencer terletak pada kemampuannya menghadirkan merek ke dalam ruang sosial audiens tanpa kesan memaksa.
Menurutnya, influencer mampu memperkenalkan merek kepada segmen konsumen yang sebelumnya sulit dijangkau oleh pemasaran konvensional karena mereka sudah memiliki komunitas dengan minat dan karakteristik yang jelas.
Baca juga: Aslab Akuntansi Umsida Kupas Strategi Cuan di Tengah Volatilitas IHSG Lewat Webinar Saham
Strategi Memilih Influencer yang Selaras dengan Identitas Merek

Salah satu temuan penting dalam riset ini adalah bahwa peningkatan brand awareness tidak otomatis terjadi hanya dengan menggandeng influencer populer.
Efektivitas influencer sangat ditentukan oleh kesesuaian antara nilai, gaya komunikasi, dan karakter audiens influencer dengan identitas merek yang dipromosikan.
Influencer dengan jutaan pengikut sekalipun dapat menjadi kurang efektif apabila audiensnya tidak relevan dengan target pasar merek.
Menurut Bayu, pemilihan influencer harus didasarkan pada segmentasi audiens yang matang, bukan semata-mata jumlah pengikut.
Menurutnya, influencer yang memiliki audiens tersegmentasi dengan baik justru lebih berpotensi membangun kesadaran merek secara mendalam karena pesan yang disampaikan terasa lebih personal dan kontekstual.
Riset ini juga menyoroti pentingnya kredibilitas influencer. Influencer yang dianggap autentik dan konsisten cenderung lebih dipercaya, sehingga pesan merek yang mereka sampaikan lebih mudah diingat dan diasosiasikan secara positif.
Brand awareness dalam konteks ini bukan hanya soal mengenal logo atau nama merek, tetapi juga tentang bagaimana merek tersebut dipersepsikan apakah relevan, dapat dipercaya, dan selaras dengan nilai audiens.
Selain itu, influencer berperan besar dalam menciptakan engagement yang berkelanjutan. Interaksi berupa komentar, likes, dan diskusi yang muncul dari konten influencer membantu merek tetap hadir dalam percakapan digital audiens.
Menurut Bayu, proses ini membuat brand awareness berkembang secara organik, karena konsumen tidak hanya melihat merek, tetapi juga membicarakannya.
Lihat juga: Corporate Culture Shock: Tantangan Menghadapi Generasi Z dan Penyesuaian Gaya Kepemimpinan
Brand Awareness sebagai Fondasi Keputusan Konsumen
Riset ini menegaskan bahwa brand awareness yang dibangun melalui influencer memiliki dampak jangka panjang.
Ketika konsumen akrab dengan sebuah merek dan mengasosiasikannya dengan figur yang mereka percaya, peluang merek tersebut dipertimbangkan dalam keputusan pembelian menjadi lebih besar.
Influencer tidak selalu mendorong pembelian secara langsung, tetapi berperan menanamkan kesadaran dan citra positif yang memengaruhi keputusan di tahap selanjutnya.
Menurut Bayu, influencer marketing akan semakin relevan di masa depan, tetapi menuntut perencanaan yang lebih strategis.
Menurutnya, merek perlu memastikan keselarasan nilai, transparansi kerja sama, serta pengelolaan konten yang autentik agar brand awareness yang terbentuk tidak bersifat semu.
Melalui pendekatan systematic literature review, riset ini memberikan gambaran komprehensif bahwa digital influencer bukan sekadar tren sesaat.
Mereka telah menjadi bagian integral dari strategi digital marketing modern, khususnya dalam membangun brand awareness yang kuat, relevan, dan berkelanjutan di tengah dinamika perilaku konsumen digital .
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















