Fbhis.umsida.ac.id – Bagi banyak mahasiswa angkatan sebelumnya, tugas akhir selalu identik dengan skripsi tebal yang harus dicetak berulang kali.
Prosesnya panjang, melelahkan, dan sering kali menguras biaya.
Revisi yang seharusnya menjadi bagian dari proses akademik justru berubah menjadi beban tambahan karena setiap perbaikan berarti harus mencetak ulang puluhan bahkan ratusan halaman.
Tidak jarang, mahasiswa lebih fokus memikirkan biaya cetak dibandingkan kualitas substansi penelitian itu sendiri.
Biaya cetak, jilid, dan penggandaan skripsi bukan angka kecil bagi sebagian mahasiswa.
Tidak sedikit yang harus menyiapkan dana khusus hanya untuk memastikan skripsinya siap disidangkan.
Ironisnya, setelah dinyatakan lulus, skripsi tersebut sering kali hanya tersimpan rapi di rak atau lemari, jarang dibuka kembali, apalagi dibaca oleh khalayak luas.
Padahal, di dalamnya tersimpan gagasan, data, dan analisis yang seharusnya bisa memberi kontribusi lebih luas.
Baca juga: Pemimpin Perempuan Berdaya: Dekan FBHIS Umsida Sabet Outstanding GAD Partners Award
Perubahan Pola Tugas Akhir di Umsida

Seiring berkembangnya zaman dan digitalisasi dalam dunia akademik, pola penyusunan tugas akhir pun turut mengalami pergeseran.
Pendidikan tinggi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pola lama yang kaku dan berbasis dokumen fisik.
Di Umsida, tugas akhir kini tidak selalu identik dengan skripsi cetak yang tebal.
Mahasiswa diberi ruang untuk menyelesaikan tugas akhir melalui berbagai alternatif akademik, salah satunya dalam bentuk artikel ilmiah.
Perubahan ini tidak muncul tanpa dasar. Umsida secara resmi memperkuat kebijakan tersebut melalui Surat Keputusan Rektor Nomor 984/II.3.AU/02.00/B/KEP/V/2023 tentang Penetapan Kegiatan Alternatif sebagai Pengganti Tesis/Skripsi/Tugas Akhir.
SK ini menegaskan bahwa mahasiswa dapat menyelesaikan tugas akhir melalui beberapa bentuk kegiatan akademik, termasuk penulisan dan publikasi artikel ilmiah.
Dengan adanya SK Rektor ini, tugas akhir berbentuk artikel ilmiah bukan sekadar pilihan opsional, melainkan kebijakan institusional yang sah dan terstruktur.
Artinya, perubahan ini bukan kebijakan setengah hati, tetapi bagian dari arah pengembangan akademik kampus.
Lihat juga: Rony Darminto: Dari Himpunan ke BEM, Menyatukan Aspirasi Mahasiswa FBHIS
Tugas Akhir Sekarang: Lebih Ringkas dan Digital

Berbeda dengan skripsi konvensional, artikel ilmiah menuntut tulisan yang lebih ringkas, fokus, dan langsung pada inti penelitian.
Mahasiswa tidak lagi dituntut menulis ratusan halaman, tetapi harus mampu merangkum gagasan dan temuan penelitian secara padat dan sistematis.
Hal ini justru melatih kemampuan berpikir kritis dan selektif dalam menyusun argumen.
Proses bimbingan pun kini lebih banyak dilakukan secara digital.
Mahasiswa tidak lagi harus membawa berkas cetak setiap kali konsultasi, karena revisi dapat dilakukan melalui dokumen daring.
Dari sisi teknis, sistem ini terasa lebih praktis. Pengumpulan tugas akhir tidak lagi identik dengan map tebal atau tumpukan kertas, melainkan unggahan digital yang lebih sederhana dan efisien.
Efisiensi Biaya dan Waktu: Alasan yang Paling Terasa
Beberapa mahasiswa yang saat ini juga tengah menjalani proses penyusunan tugas akhir, salah satu alasan utama mengapa tugas akhir sekarang terasa lebih masuk akal adalah efisiensi biaya.
Mahasiswa tidak lagi dibebani ongkos cetak skripsi yang tebal, biaya jilid yang mahal, atau pengeluaran tambahan akibat cetak ulang setiap kali revisi.
Pengeluaran besar yang dahulu dianggap sebagai bagian “wajar” dari proses kelulusan kini dapat ditekan secara signifikan.
Namun, efisiensi tugas akhir berbentuk artikel ilmiah tidak hanya berhenti pada persoalan biaya.
Efisiensi waktu dan energi juga menjadi faktor penting yang turut dirasakan.
Proses bimbingan yang dilakukan secara digital memungkinkan mahasiswa dan dosen berdiskusi secara lebih fleksibel tanpa harus terikat pada pertemuan tatap muka yang sering kali sulit disesuaikan dengan jadwal masing-masing.
Revisi pun dapat dilakukan dengan lebih cepat dan terarah karena perhatian utama tertuju pada substansi penelitian, bukan pada aspek teknis seperti format cetak.
Selain itu, tugas akhir berbentuk artikel ilmiah mendorong mahasiswa untuk berpikir lebih terstruktur dan langsung pada inti permasalahan.
Mahasiswa dilatih menyampaikan gagasan secara padat, jelas, dan argumentatif.
Dengan demikian, waktu pengerjaan dapat dimanfaatkan untuk pendalaman analisis dan penguatan data, bukan sekadar memenuhi tuntutan ketebalan halaman.
Bagi mahasiswa yang harus mengatur keuangan sendiri, bekerja sambil kuliah, atau berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi, efisiensi ini terasa sangat signifikan.
Tugas akhir seharusnya menjadi ruang pengembangan intelektual dan akademik, bukan sumber tekanan finansial maupun administratif yang justru menghambat proses belajar dan berpikir kritis.
Pernyataan Wakil Rektor I Terhadap Kebijakan Baru
Kebijakan alternatif tugas akhir ini juga sejalan dengan pandangan pimpinan universitas.
Wakil Rektor I Umsida, Prof Dr Hana Catur Wahyuni ST MT, menyampaikan bahwa perubahan bentuk tugas akhir bertujuan memberi ruang yang lebih luas bagi kreativitas dan inovasi mahasiswa.
Mahasiswa tidak lagi dibatasi pada satu bentuk karya, tetapi didorong untuk menghasilkan output akademik yang relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan zaman.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kebijakan ini bukan semata-mata untuk mempermudah mahasiswa, melainkan untuk menyesuaikan pendidikan tinggi dengan realitas akademik saat ini.
Dunia akademik menuntut karya yang dapat diakses, dikaji ulang, dan memberi dampak nyata.
Peran Perpustakaan Digital dalam Mendukung Artikel Ilmiah
Perubahan bentuk tugas akhir di Umsida juga tidak bisa dilepaskan dari peran perpustakaan yang kini semakin adaptif terhadap kebutuhan akademik mahasiswa.
Perpustakaan tidak lagi hanya menjadi ruang fisik dengan rak buku, tetapi berkembang menjadi pusat literasi digital yang aktif mendukung penulisan karya ilmiah.
Akses layanan perpustakaan Umsida kini terintegrasi melalui aplikasi Myumsida.
Melalui aplikasi ini, mahasiswa dapat mengakses katalog perpustakaan, jurnal ilmiah nasional dan internasional, serta berbagai layanan literasi digital lainnya secara daring.
Selain itu, mahasiswa juga didorong untuk memanfaatkan basis data ilmiah global seperti Google Scholar, Scopus, dan platform indeks ilmiah lainnya sebagai rujukan dalam penulisan artikel ilmiah.
Akses terhadap sumber-sumber tersebut sangat membantu mahasiswa dalam memperoleh referensi yang kredibel, mutakhir, dan relevan.
Dari sudut pandang mahasiswa, sistem ini jelas lebih efisien.
Cukup dengan ponsel atau laptop dan koneksi internet, penelusuran literatur dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja, tanpa biaya tambahan untuk mencetak atau membeli buku.
Hal ini menjadi bukti bahwa perubahan format tugas akhir di Umsida tidak berdiri sendiri, tetapi didukung oleh fasilitas dan ekosistem akademik yang memadai.
Umsida Preprints Server: Karya Mahasiswa Lebih Berdampak
Selain perpustakaan digital, Umsida juga menghadirkan Umsida Preprints Server sebagai wadah dokumentasi karya ilmiah.
Melalui platform ini, artikel ilmiah mahasiswa dapat diunggah dan diakses secara terbuka sambil menunggu proses publikasi jurnal.
Keberadaan preprints server ini menjadi nilai tambah bagi tugas akhir berbentuk artikel ilmiah.
Penelitian mahasiswa tidak berhenti sebagai syarat kelulusan semata, tetapi memiliki peluang untuk dibaca, disitasi, dan dikembangkan oleh publik akademik yang lebih luas.
Dibandingkan skripsi cetak yang cenderung pasif, artikel ilmiah digital memiliki daya jangkau yang jauh lebih besar dan relevan dengan ekosistem akademik global.
Efisien Bukan Berarti Lebih Mudah
Meski lebih efisien secara biaya dan teknis, tugas akhir berbentuk artikel ilmiah bukan berarti lebih mudah.
Beberapa mahasiswa merasakan kesulitannya. Dalam proses penyusunan artikel, meskipun revisi sudah dilakukan berulang kali, dosen pembimbing kerap memberikan koreksi yang sangat spesifik dan meminta perbaikan lanjutan.
Revisi tidak berhenti pada satu atau dua kali, melainkan bisa terjadi berkali-kali hingga tulisan benar-benar memenuhi standar akademik yang diharapkan.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa tugas akhir berbentuk artikel ilmiah justru menuntut tingkat ketelitian yang tinggi.
Mahasiswa dituntut untuk menulis secara lebih padat, terstruktur, dan berbasis data.
Setiap kalimat harus memiliki makna, kontribusi, dan relevansi yang jelas terhadap tujuan penelitian.
Tidak ada ruang untuk tulisan yang bertele-tele atau sekadar memenuhi jumlah halaman.
Tantangan tugas akhir kini pun bergeser. Jika sebelumnya mahasiswa lebih banyak disibukkan dengan urusan teknis seperti mencetak, menjilid, dan mengatur dokumen fisik, kini fokus utama berada pada kualitas analisis dan kekuatan argumen.
Proses revisi yang intens menjadi bagian dari pembentukan cara berpikir ilmiah yang lebih matang dan kritis.
Meski aku berpandangan bahwa tugas akhir sekarang lebih efisien, perubahan ini tetap perlu dijaga agar tidak mengurangi esensi akademik.
Dalam bentuk apa pun, tugas akhir harus tetap menjadi ruang latihan berpikir kritis, jujur, dan bertanggung jawab secara ilmiah, bukan sekadar formalitas untuk memenuhi syarat kelulusan.
Jika dibandingkan, tugas akhir masa kini memang terasa lebih masuk akal.
Lebih hemat biaya, lebih relevan dengan dunia akademik digital, dan didukung oleh kebijakan resmi kampus.
Dengan adanya SK Rektor, dukungan pimpinan universitas, serta fasilitas seperti My Umsida dan Umsida Preprints Server, tugas akhir berbentuk artikel ilmiah menjadi alternatif yang tidak hanya efisien, tetapi juga berorientasi pada masa depan pendidikan tinggi.
Penulis: Fikri
Penyunting: Indah Nurul Ainiyah


















