Publikasi atau Pencitraan? Statement Sherly  Tjoanda Picu Perdebatan Komunikasi Publik

Fbhis.umsida.ac.id – Pernyataan Bu Sherly Tjoanda belakangan ramai diperbincangkan publik. Dalam sebuah cuplikan video yang viral di media sosial, ia menyampaikan pandangannya mengenai perbedaan antara pencitraan dan publikasi.

Pernyataan tersebut memicu berbagai tanggapan dari masyarakat, akademisi, hingga praktisi komunikasi publik.

“Bagi saya, pencitraan itu sesuatu yang saya katakan tapi tidak saya lakukan. Yang saya lakukan adalah publikasi.”

Sekilas, pernyataan tersebut terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan persoalan penting dalam administrasi publik.

Apakah publikasi dan pencitraan memang berbeda? Ataukah keduanya hanya dibedakan oleh sudut pandang publik?

Pertanyaan ini menjadi relevan di tengah meningkatnya aktivitas pejabat di media sosial.

Saat ini, masyarakat tidak hanya menilai kinerja. Publik juga menilai bagaimana kinerja tersebut dikomunikasikan kepada publik.

Baca juga: Dosen Umsida Soroti Kesenjangan Penegakan Hukum dan Bahaya Trial by Media Digital

Publikasi dan Pencitraan Tidak Selalu Sama

Dalam kajian komunikasi publik, publikasi merupakan penyampaian informasi kepada masyarakat.

Tujuannya adalah memberikan akses informasi mengenai program, kebijakan, dan hasil kerja pemerintah. Publikasi menjadi bagian penting dari transparansi dan akuntabilitas.

Sebaliknya, pencitraan sering dipahami sebagai upaya membangun kesan positif.

Fokus utamanya bukan pada informasi, fokusnya lebih pada persepsi publik terhadap figur tertentu.

Meski demikian, batas antara keduanya sering kali tidak tegas. Sebuah publikasi dapat dianggap pencitraan oleh sebagian masyarakat.

Sebaliknya, aktivitas yang dinilai pencitraan bisa dianggap transparansi oleh kelompok lain.

Perbedaan utama terletak pada tujuan, isi pesan, dan bukti yang menyertainya.

Publikasi yang sehat biasanya dilengkapi data, capaian, serta informasi yang dapat diverifikasi.

Sementara pencitraan cenderung menonjolkan figur dibanding substansi program.

Dalam konteks administrasi publik, perbedaan tersebut sangat penting.

Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah sangat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi yang dilakukan pejabat publik.

Lihat juga: Governance Visit Prodi AP UMSIDA: Saat Akademisi Belajar Kelola Sampah Jadi Rezeki di Kampung Hebat Semarang

Media Sosial Mengaburkan Batas Keduanya

Perkembangan media sosial membuat batas antara publikasi dan pencitraan semakin kabur.

Platform digital mendorong konten yang singkat, emosional, dan mudah menarik perhatian. Akibatnya, substansi sering kali kalah oleh tampilan visual.

Kondisi ini membuat pejabat menghadapi dilema komunikasi.

Di satu sisi, mereka dituntut transparan kepada masyarakat. Di sisi lain, setiap publikasi berpotensi dianggap sebagai pencitraan.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa komunikasi pemerintah berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan publik.

Ketika masyarakat menilai komunikasi bersifat informatif, kepercayaan cenderung meningkat.

Sebaliknya, ketika komunikasi dianggap promosi pribadi, kepercayaan dapat menurun.

Masalah lain muncul ketika sumber daya publik digunakan untuk kepentingan personal branding.

Di sinilah aspek etika menjadi penting. Komunikasi publik harus berorientasi pada kepentingan masyarakat, bukan sekadar meningkatkan popularitas individu.

Karena itu, publik membutuhkan informasi yang tidak hanya menarik secara visual.

Informasi juga harus didukung bukti pelaksanaan, data capaian, dan indikator keberhasilan yang jelas.

Saatnya Memperkuat Etika Komunikasi Pemerintahan

Perdebatan mengenai publikasi dan pencitraan seharusnya menjadi momentum perbaikan komunikasi pemerintahan.

Pemerintah perlu memiliki pedoman yang jelas mengenai batas keduanya.

Pertama, setiap publikasi kebijakan perlu menyertakan data dan bukti pelaksanaan.

Informasi yang berbasis fakta akan lebih mudah dipertanggungjawabkan.

Kedua, instansi perlu melakukan audit komunikasi secara berkala.

Langkah ini penting untuk memastikan pesan yang disampaikan tetap sesuai prinsip akuntabilitas.

Ketiga, pelatihan etika media sosial bagi pejabat dan humas perlu diperkuat.

Kemampuan mengelola komunikasi digital kini menjadi kebutuhan utama birokrasi modern.

Keempat, masyarakat perlu diberikan ruang untuk memberikan umpan balik. Kanal klarifikasi dan pengaduan dapat membantu menjaga kualitas komunikasi publik.

Pada akhirnya, perdebatan mengenai istilah publikasi dan pencitraan bukan sekadar persoalan bahasa.

Yang lebih penting adalah bagaimana komunikasi dilakukan secara transparan, jujur, dan berbasis bukti.

Kepercayaan publik tidak dibangun melalui kata-kata semata. Kepercayaan tumbuh ketika informasi yang disampaikan benar-benar mencerminkan kinerja yang telah dilakukan.

Dengan komunikasi yang akuntabel, pemerintah dapat memperkuat legitimasi sekaligus menjaga hubungan yang sehat dengan masyarakat.

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Berita Terkini

Tuntaskan Jenjang Pendidikan Strata 1, Mahasiswa Manajemen Umsida Pilih Wariskan Kebaikan
October 16, 2026By
The Last Chapter? 314 Lulusan FBHIS Umsida Memulai Perjalanan Baru
October 15, 2026By
Dorong Kebijakan Desa Suko Lebih Adil dan Responsif, Prodi AP Umsida Berikan Pendampingan
October 13, 2026By
Tanah Desa Tak Cukup Dijaga, Administrasinya Juga Harus Tertata
October 12, 2026By
Ditolak Enam Kali Saat Wawancara, Mahasiswa Ikom Umsida Temukan Makna Praktikum Jurnalistik
October 1, 2026By
3 Tahun 7 Bulan Perjalanan Eny Maryanti Raih Gelar Doktor Akuntansi
September 24, 2026By
818 Mahasiswa Baru FBHIS Umsida Resmi Bergabung, Fortama Jadi Awal Perjalanan Baru
September 21, 2026By
Purbaya Dicopot Mendadak, Apa yang Dipertaruhkan dari Pergantian Menkeu?
September 15, 2026By

Prestasi

Berani Melangkah, Jesika Temukan Makna Menjadi Duta Pencerah Umsida
October 6, 2026By
Dari Gagal hingga Terpilih, Mala Bawa Misi Pencerahan di Umsida
October 5, 2026By
Usai Dikukuhkan Jadi Duta Pencerah Umsida 2026, ini Misi Mifta Setelah Terpilih
September 30, 2026By
Dari Tes Bakat hingga Pengukuhan, Perjalanan Rizqy Jadi Duta Umsida
September 28, 2026By
Dosen Umsida Bawa Nama Indonesia dalam Pemilihan Board Crossref 2026
September 25, 2026By
Satukan Kebutuhan Event dalam Satu Platform, Snap and Style Wakili Umsida di KMI Expo
September 10, 2026By
Smart Tax Governance Index, Inovasi Tim Umsida Dorong Pajak Berkelanjutan
August 31, 2026By
Prestasi Membanggakan, Mahasiswa Umsida Sabet Medali Perak Kejuaraan Taekwondo Piala Wali Kota Surabaya
July 6, 2026By