Rupiah Tembus Rp17.700 per Dolar AS, Ancaman Harga Pangan Kian Nyata

Fbhis.umsida.ac.id – Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian besar menjelang pertengahan 2026 setelah tekanan terhadap mata uang domestik bertahan cukup lama dan makin terasa di ruang publik.

Isu ini tidak lagi terbatas pada perbincangan pelaku pasar dan ekonom, tetapi sudah masuk ke kehidupan sehari-hari masyarakat karena pelemahan kurs cepat diterjemahkan sebagai ancaman terhadap harga kebutuhan pokok, ongkos produksi, dan daya beli rumah tangga.

Pada 19 Mei 2026, Bank Indonesia mencatat rupiah berada di level Rp17.700 per dolar AS, melemah 2,20 persen dibandingkan akhir April, sementara pada 16 Maret 2026 rupiah juga sempat tercatat di Rp16.985 per dolar AS.

Rupiah Tertekan oleh Faktor Global dan Permintaan Dolar di Dalam Negeri

Tekanan terhadap rupiah datang dari kombinasi faktor eksternal dan domestik.

Dari sisi global, Bank Indonesia menilai gejolak perang di Timur Tengah, penguatan dolar AS, kenaikan harga minyak, dan keluarnya modal dari negara berkembang menambah tekanan pada hampir semua mata uang, termasuk rupiah.

Sumber: Pexels

Dari sisi domestik, permintaan valas pada triwulan II 2026 meningkat karena kebutuhan pembayaran dividen dan utang luar negeri, sehingga kebutuhan dolar di pasar dalam negeri naik pada saat sentimen global sedang buruk.

Tekanan ini penting karena sifatnya bukan hanya jangka sangat pendek.

Ketika kurs melemah dalam tren yang berkepanjangan, dampaknya merambat ke biaya impor, ekspektasi inflasi, dan keputusan pelaku usaha.

Indonesia masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi pada barang impor, terutama bahan baku, barang setengah jadi, energi, serta sejumlah komoditas pangan strategis.

Karena itu, gejolak nilai tukar cepat berubah menjadi persoalan biaya hidup dan harga jual barang di tingkat konsumen.

Baca juga: Kurs Dolar AS Tembus Rp 17.685, Tanda Terjadinya Krisis? Ini Kata Pakar Umsida

Harga Pangan dan Biaya Hidup Berisiko Naik Bertahap

Pelemahan rupiah paling mudah dirasakan masyarakat melalui kenaikan harga barang yang terhubung dengan impor.

Tekanan kurs berpotensi memengaruhi stabilitas harga pangan, terutama karena Indonesia masih bergantung pada impor komoditas seperti kedelai, gandum, dan bawang putih.

Sumber: Pexels

Saat rupiah melemah, biaya impor pangan dan input produksi ikut naik, lalu diteruskan secara bertahap ke harga jual di pasar domestik.

Dampaknya bisa muncul pada produk olahan harian, bahan baku industri makanan, hingga biaya produksi sektor pertanian dan peternakan.

Efek rambatan pelemahan rupiah juga tidak berhenti pada komoditas impor langsung.

Simulasi CORE Indonesia yang dikutip Kontan menunjukkan kombinasi depresiasi rupiah dan kenaikan harga BBM nonsubsidi berpotensi mendorong kenaikan harga di 185 sektor ekonomi.

Sektor konstruksi, penyediaan makanan dan minuman, serta industri pakaian jadi termasuk yang diperkirakan terkena tekanan harga.

Artinya, rumah tangga bisa menghadapi kenaikan biaya hidup secara lebih luas, bukan hanya di meja makan, tetapi juga pada transportasi, logistik, dan berbagai kebutuhan rumah tangga lain.

Kelompok yang paling rentan tetap masyarakat berpenghasilan tetap dan rumah tangga kelas menengah bawah.

Struktur pengeluaran mereka lebih banyak terserap untuk kebutuhan pokok, energi, dan transportasi, sehingga ruang penyesuaian lebih sempit ketika harga mulai naik.

Bila pelemahan rupiah bertahan lama, persoalannya bukan sekadar harga yang naik sesaat, melainkan penurunan kemampuan konsumsi secara bertahap karena pendapatan tidak bergerak secepat biaya hidup.

Lihat juga:  Saat Aset Lari ke Negara Tertutup Indonesia Tak Bisa Hanya Menonton

Respons Bank Indonesia Menguat tetapi Risiko Belum Sepenuhnya Hilang

Merespons tekanan ini, Bank Indonesia pada 19–20 Mei 2026 menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen.

Kebijakan itu ditempuh untuk memperkuat stabilisasi rupiah dan menjaga inflasi tetap dalam sasaran 2,5±1 persen pada 2026 dan 2027.

BI juga memperkuat intervensi di pasar NDF offshore, pasar spot, dan DNDF, menaikkan suku bunga SRBI, memperluas instrumen pasar valas, serta membeli SBN di pasar sekunder.

Pada saat yang sama, cadangan devisa Indonesia per akhir April 2026 tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS, setara 5,8 bulan impor, yang memberi bantalan bagi stabilitas eksternal.

Namun langkah stabilisasi moneter tidak otomatis menghapus persoalan struktural.

Selama ketergantungan pada impor bahan baku, energi, dan pangan strategis masih tinggi, setiap pelemahan rupiah akan tetap cepat diteruskan menjadi tekanan harga di dalam negeri.

Karena itu, isu rupiah pada 2026 seharusnya tidak dibaca hanya sebagai berita pasar uang, melainkan sebagai pengingat bahwa stabilitas kurs, ketahanan pangan, efisiensi logistik, dan kekuatan industri domestik masih saling terkait secara erat.

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Berita Terkini

Napak Tilas Sejarah Muhammadiyah, Mahasiswa Ikom Umsida Jelajahi Kampung Kauman Yogyakarta
May 19, 2026By
Dosen Ikom Umsida Bahas Hyperreality Budaya Digital di Konferensi Internasional ICEMSS 2026
May 18, 2026By
ICEMSS 2026, Ikom Umsida Perkuat Jejaring Akademik Global Bersama Mitra Internasional
May 13, 2026By
HIMA Manajemen Umsida Dorong UMKM Sawohan Naik Kelas Lewat Olahan Bandeng Modern
May 4, 2026By
Dosen Umsida Dorong SDM, Digitalisasi, dan Tata Kelola untuk Kembangkan Bisnis Kopi Luwak
April 30, 2026By
Guru Besar Umsida Paparkan Lima Strategi Perkuat Ketahanan UMKM di Era Digital
April 29, 2026By
Studi Ekskursi ke Bandung, Mahasiswa Manajemen Umsida Perluas Wawasan Global
April 28, 2026By
“Aktual Media News” Jadi Karya Mahasiswa Ikom Umsida Angkat Potensi Sidoarjo
April 27, 2026By

Prestasi

Evaluasi Diri Bawa Mahasiswa Hukum Umsida Raih Dua Medali di Pertandingan Karate
May 8, 2026By
Hebat! Zabrina Taklukkan Arena Karate dan Bawa Pulang Tiga Medali untuk Umsida
May 7, 2026By
Sekali Turun, Tiga Emas: Prestasi Gemilang Mahasiswa Hukum Umsida
May 6, 2026By
Lawan Rasa Minder, Windy Sabet Juara 1 di Kejuaraan Internasional Pencak Silat 2026
April 15, 2026By
Atasi Rasa Minder, Vivi Nabila Bawa Pulang Emas pada Ajang Paku Bumi Championship 2026
April 14, 2026By
Tampil Dominan, Muhammad Sonhaji Sabet Emas Paku Bumi Championship 2026
April 10, 2026By
Mahasiswa Umsida Raih Perak di Paku Bumi Championship, Bukti Latihan Singkat Tak Halangi Prestasi
April 7, 2026By
Di Balik Kemudi Delta EV: Peran Strategis Mardi Lukas di Shell Eco-Marathon Qatar 2026
February 5, 2026By