FoMO di TikTok Dorong Mahasiswa Belanja Spontan di Luar Kebutuhan

Fbhis.umsida.ac.id – TikTok hari ini bukan lagi sekadar ruang hiburan. Ia telah berubah menjadi etalase besar yang menyatukan video pendek, promosi, tren, dan tombol belanja dalam satu alur yang nyaris tanpa jeda.

Di tengah arus itu, mahasiswa menjadi salah satu kelompok yang paling dekat dengan budaya digital semacam ini.

Mereka menonton, menyukai, menyimpan, lalu tanpa sadar terdorong membeli. Penelitian Dr Didik Hariyanto MSi dari Program Studi Magister Ilmu Komunikasi Umsida menunjukkan bahwa persoalannya tidak berhenti pada iklan atau konten promosi yang menarik.

Justru ada faktor psikologis yang bekerja lebih dalam, yakni FoMO atau fear of missing out, rasa takut tertinggal dari tren yang sedang ramai.

Baca juga: Kreator Digital di Persimpangan Antara AI dan Orisinalitas

Bukan Sekadar Tergoda Konten Promosi
Sumber: Pexels

Dalam penelitian berjudul Pengaruh Content Marketing di Tiktok dan FOMO terhadap Impulsive Buying pada Mahasiswa UMSIDA, FoMO terbukti berpengaruh signifikan dan positif terhadap pembelian impulsif.

Bahkan, pengaruhnya tampil lebih kuat dibanding content marketing.

Temuan ini penting karena menggeser cara pandang kita.

Selama ini banyak orang mengira keputusan belanja spontan terjadi karena video promosi dibuat bagus, review tampak meyakinkan, atau diskon terlihat menggiurkan.

Padahal, di balik itu ada dorongan psikologis yang lebih halus namun kuat, keinginan untuk tidak tertinggal, tidak dianggap ketinggalan zaman, dan tetap merasa terhubung dengan apa yang sedang ramai dibicarakan.

Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa perilaku konsumtif mahasiswa di TikTok tidak selalu lahir dari kebutuhan riil, tetapi juga dari tekanan sosial digital yang terus bekerja di balik layar.

Saat seseorang merasa semua orang sudah tahu, sudah punya, atau sudah ikut tren tertentu, keputusan membeli menjadi lebih emosional daripada rasional.

Lihat juga: Generasi Z dan Negosiasi Identitas: Menavigasi Aktivisme dan Popularitas di Ruang Digital

FoMO Bekerja Pelan tapi Menekan

FoMO tidak selalu hadir dalam bentuk panik besar. Ia sering muncul dalam bentuk kecil yang tampak biasa, rasa penasaran berlebih, dorongan untuk ikut mencoba, atau kekhawatiran dianggap tidak update.

Dalam penelitian itu juga dijelaskan bahwa indikator FoMO berkaitan dengan rasa khawatir, cemas, dan takut.

Tiga hal ini sangat dekat dengan pengalaman pengguna media sosial hari ini, terutama mahasiswa yang hidup di lingkungan pergaulan digital yang cepat berubah.

Yang membuat situasi ini rumit adalah TikTok tidak memberi banyak ruang jeda.

Setelah satu konten lewat, muncul konten lain yang lebih baru, lebih ramai, dan lebih menggoda.

Dari sinilah istilah “racun TikTok” terasa masuk akal. Bukan semata karena produknya menarik, tetapi karena platformnya dirancang untuk terus memelihara rasa ingin ikut, ingin punya, dan ingin dianggap relevan.

Mahasiswa Perlu Lebih Sadar Membaca Diri

Penelitian ini seharusnya dibaca sebagai peringatan, bukan sekadar catatan akademik.

Mahasiswa bukan hanya target pasar yang empuk, tetapi juga kelompok yang sedang membentuk identitas diri.

Itu sebabnya keputusan membeli sering bercampur dengan kebutuhan pengakuan, pencitraan, dan keinginan agar tidak tertinggal dari lingkungan sosialnya.

Menurut Didik Hariyanto, meningkatnya FoMO sejalan dengan meningkatnya impulsive buying pada mahasiswa Umsida.

Artinya, makin sering seseorang merasa gelisah, khawatir, dan cemas akan ketinggalan tren, makin besar pula peluang ia melakukan pembelian spontan di TikTok Shop.

Temuan ini menegaskan bahwa literasi digital hari ini tidak cukup hanya soal mampu menggunakan media, tetapi juga mampu mengenali kapan diri sedang dikendalikan oleh rasa takut tertinggal.

Di titik inilah mahasiswa perlu lebih waspada. Sebab yang paling berbahaya dari FoMO bukan hanya membuat dompet cepat kosong, tetapi juga membuat keputusan hidup semakin mudah dikendalikan oleh tekanan tren.

Sumber: Pengaruh Content Marketing di Tiktok dan FOMO (Fear Of Missing Out) terhadap Impulsive Buying pada Mahasiswa UMSIDA

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Berita Terkini

FORMASI 3.0 Umsida Hadirkan Ruang Kritis Mahasiswa tentang Ekonomi Politik Hijau di Sidoarjo
April 20, 2026By
Harga Plastik Melonjak, Pakar Umsida Soroti Rapuhnya Industri Nasional
April 17, 2026By
Ketika Mahasiswa Hukum Kehilangan Batas dan Gagal Menjaga Kesadaran Kesusilaan
April 16, 2026By
Bangkit dari Vakum, Fahlia Dini Sabet Emas Paku Bumi Championship
April 13, 2026By
StockLab Jadi Arena Adu Strategi Mahasiswa FBHIS Umsida Menuju Kompetisi Nasional
April 9, 2026By
Asah Skill Digital, Aslab Manajemen Umsida Ikuti Creative Visual Training 2026
April 8, 2026By
Mahasiswa Administrasi Publik Umsida Desak DPRD Sidoarjo Tuntaskan Banjir
April 2, 2026By
Kasus Amsal Sitepu Ungkap Rapuhnya Penghargaan Karya Kreatif
April 1, 2026By

Prestasi

Lawan Rasa Minder, Windy Sabet Juara 1 di Kejuaraan Internasional Pencak Silat 2026
April 15, 2026By
Atasi Rasa Minder, Vivi Nabila Bawa Pulang Emas pada Ajang Paku Bumi Championship 2026
April 14, 2026By
Tampil Dominan, Muhammad Sonhaji Sabet Emas Paku Bumi Championship 2026
April 10, 2026By
Mahasiswa Umsida Raih Perak di Paku Bumi Championship, Bukti Latihan Singkat Tak Halangi Prestasi
April 7, 2026By
Di Balik Kemudi Delta EV: Peran Strategis Mardi Lukas di Shell Eco-Marathon Qatar 2026
February 5, 2026By
Langkah Pertama Yayan di Ju Jitsu Open Mojokerto Berbuah Pengalaman Berharga
January 24, 2026By
Debut Manis Atlet Muda Umsida di Kejuaraan Ju-Jitsu Open Piala KONI Mojokerto 2026
January 23, 2026By
Krisna Punjabi: Pesona ke Arena Nasional, Buktikan Prestasi Melalui Karate
January 7, 2026By