Fbhis.umsida.ac.id – Bagi banyak mahasiswa, rutinitas kuliah, tugas, hingga tekanan hidup sering kali memicu overthinking.
Ditengah kesibukan itu, film kerap dijadikan pelarian yang dianggap sekadar hiburan.
Namun sebenarnya, film terutama yang bersifat inspiratif memiliki kekuatan untuk membangkitkan motivasi, mendorong refleksi diri, serta membuka sudut pandang baru tentang hidup.
Menonton film seperti ini dapat menjadi sarana belajar secara tidak langsung untuk menghadapi tantangan pribadi maupun akademik.
Di era digital, film menjadi medium populer yang mudah diakses.
Melalui karakter dan konflik yang kuat di dalamnya, film mampu menyampaikan nilai-nilai kehidupan secara lebih dekat.
Bagi generasi muda, khususnya mahasiswa, film inspiratif dapat menjadi sarana pembelajaran nonformal yang relevan dengan situasi yang sedang dijalani.
Baca juga: Kripto 2025: dari Aset Spekulatif Menuju Infrastruktur dan 2026 Berpotensi Jadi Tahun Uji Kualitas
Menjadikan Hiburan sebagai Proses Belajar

Film inspiratif dapat menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa.
Melalui karakter, konflik, dan nilai-nilai kehidupan yang ditampilkan, film membantu penonton melihat dunia dan diri sendiri dengan lebih jernih.
Pandangan ini sejalan dengan gagasan Yandy Laurens, Sutradara dari Film 1 Kakak 7 Ponakan.
“Narasi itu punya kekuatan yang luar biasa, mampu menggendong statement atau pesan. Ini bukan hanya sebagai media hiburan, tapi bisa mengantarkan perubahan,” ujarnya saat berbicara pada IdeaFest 2025 di Surabaya, Sabtu, 2 Agustus 2025, menurut laporan Suara Surabaya.
Ia menekankan bahwa film memiliki peran lebih dari sekadar hiburan.
Lihat juga: E-Procurement: Solusi Efisiensi dan Transparansi dalam Pengadaan Barang dan Jasa
Rekomendasi 10 Film Inspiratif untuk Mahasiswa

- The Intern
The Intern mengikuti kisah dari Ben Whittaker, seorang kakek 70 tahun yang jadi anak magang di startup modern.
Alih-alih ketinggalan zaman, justru Ben yang bikin suasana kantor jauh lebih hangat.
Yang dikagumi dalam diri Ben adalah satu hal: meskipun usianya sudah tua, ia tetap punya keinginan besar untuk belajar.
Ben sama sekali tidak gengsi mengikuti ritme kerja anak muda. Ia rela belajar teknologi baru hingga beradaptasi dengan lingkungan startup yang serba cepat.
Film ini penuh adegan yang relatable untuk mahasiswa.
Mulai dari kerja di lingkungan serba cepat, adanya konflik, sampai cara menghadapi atasan yang perfeksionisnya minta ampun.
- 12th Fail
Kalau kamu pernah merasa gagal dan kepikiran buat nyerah, tonton ini.
12th Fail mengisahkan perjuangan Manoj Sharma dalam menghadapi UPSC (Union Public Service Commission Exam), yaitu ujian masuk birokrasi tertinggi di India yang terkenal sebagai salah satu ujian terberat di sana.
Ia meskipun gagal berkali-kali tetapi tetap mengikuti mimpinya sampai lulus.
Kisahnya dekat banget sama mahasiswa: perjuangan finansial, tekanan keluarga, rasa lelah, sampai momen ketika kamu harus percaya diri meski situasi nggak mendukung.
- Dead Poets Society
Film ini memberi gambaran tentang betapa kuatnya peran seorang guru dalam mengubah cara murid memandang dunia.
Mr. Keating tidak hanya mengajar puisi, tapi juga membuka ruang bagi murid-muridnya untuk menemukan keinginan mereka sendiri.
Buat mahasiswa, film ini cocok banget ketika kamu lagi merasa hidupmu dikendalikan ekspektasi orang tua, lingkungan, atau standar akademik.
Pesan carpe diem dalam film seperti tamparan halus yang bilang: “Hidupmu bukan milik orang lain jadi ayo ambil alih sebelum terlambat.”
Film ini juga bikin kita intropeksi kalau kadang perubahan kecil dalam cara kita berpikir bisa memengaruhi seluruh arah hidup.
- The Devil Wears Prada
Film ini menggambarkan dunia kerja modern yang sering terlihat glamor dari luar, tapi penuh tekanan dari dalam.
Andy masuk ke lingkungan kerja yang menuntut kesempurnaan tanpa ampun.
Sebagai mahasiswa yang sebentar lagi masuk dunia karier, film ini ngasih peringatan awal bahwa terkadang pekerjaan bisa mengambil waktu, hubungan, bahkan jati diri.
Tapi bukan berarti negatif. Film ini juga mengajarkan tentang batasan diri, keberanian berkata “cukup,” dan pentingnya memilih jalan hidup sesuai nilai kita sendiri.
Sangat direkomendasikan nonton film ini saat kamu mau memasuki dunia kerja agar tidak merasa takut.
- The Social Network
Ini tidak hanya film tentang lahirnya Facebook, film ini merupakan tentang bagaimana ambisi bisa mengubah seseorang.
Mark Zuckerberg digambarkan sebagai sosok jenius tapi sekaligus rapuh secara sosial.
Buat mahasiswa, apalagi yang punya mimpi bikin startup. Film ini membuka mata bahwa ide besar tidaklah cukup.
Ada konsekuensi yang harus ditanggung seperti nilai moral, konflik hukum, pengkhianatan teman, dan kesepian.
Film ini kuat karena bikin kita mikir dua kali: apakah kita siap dengan konsekuensi ambisi yang kita kejar?
- Life of Pi
Secara visual film ini indah banget, tapi pesannya jauh lebih dalam.
Pi harus bertahan hidup di lautan dengan seekor harimau, yang sebenarnya adalah metafora dari ketakutan dan kekuatan batin manusia.
Mahasiswa sering berada di fase “Tersesat” atau ngerasa bimbang kayak mikir, “Aku masuk jurusan ini benar atau salah ya.
Aku menjalin hubungan sama doi sebaiknya tetap lanjut atau diputusin aja ya.” Nah Film ini itu kayak gitu. seperti mengajak kita berdialog dengan diri sendiri.
- 1 Kakak 7 Ponakan
Film Indonesia yang tayang di tahun 2025 ini cocok banget buat mahasiswa yang lagi mikir soal tanggung jawab, keluarga, dan prioritas hidup.
Ceritanya tentang seorang kakak yang harus mengorbankan mimpinya demi mengurus keponakan-keponakannya, lalu perjuangan mencari pekerjaan sambil menjaga hubungan personal.
Film ini membawa pesan kuat soal kedewasaan, tanggung jawab, dan keseimbangan hidup.
- The Shawshank Redemption
Andy Dufresne hidup di kondisi paling tidak adil. Ia dipenjara untuk kejahatan yang tidak dilakukan.
Tapi Andy tetap tenang, sabar, dan selalu melihat celah kecil untuk keluar.
Buat mahasiswa, film ini seperti reminder bahwa proses panjang yang terasa stagnan bukan berarti tidak bergerak.
Kadang, perubahan besar butuh waktu bertahun-tahun dengan kerja kecil yang konsisten.
Dan harapan walaupun sering terlihat naif namun justru merupakan bahan bakar yang diperlukan dalam hidup.
- Good Will Hunting
Will jenius, tapi penuh luka batin. Ia bisa memecahkan masalah matematika super rumit, tapi tidak bisa menghadapi emosinya sendiri.
Di sini film ini jadi penting untuk mahasiswa: banyak dari kita pinter secara akademik, tapi belum paham siapa diri kita sebenarnya.
Relasi antara Will dan terapisnya (Robin Williams) jadi titik kunci yang nunjukkin bahwa penyembuhan diri sama pentingnya dengan pencapaian. Cocok banget buat mahasiswa yang sedang mengalami krisis identitas.
- The Billionaire
Film Thailand yang mengangkat kisah nyata Top Ittipat, pemuda 19 tahun yang bangkit dari kegagalan bisnis sampai akhirnya sukses besar.
Cocok buat mahasiswa yang lagi ngerintis usaha kecil, atau yang sering insecure karena hidup belum sesuai rencana. Nonton ini bikin kamu sadar: yang penting mulai dulu.
Mengapa Film Inspiratif Penting untuk Mahasiswa?
Menonton film inspiratif bukan sekadar hiburan, tetapi juga bisa menjadi bentuk self‑education yang relevan bagi mahasiswa.
Film membantu mahasiswa memahami berbagai masalah hidup, melihat sudut pandang yang berbeda, serta menumbuhkan empati saat menyaksikan perjalanan tokoh‑tokoh di layar.
Pesan dan juga konflik dalam cerita dapat memicu refleksi diri yang mendalam dan membantu kita belajar dari pengalaman orang lain.
Film sebagai Medium Belajar Emosional dan Reflektif
Film dapat menjadi sarana belajar emosional dan reflektif karena cara kerjanya sejalan dengan konsep representasi dari Stuart Hall.
Dalam pandangan Hall, film tidak sekadar menampilkan kenyataan, tetapi memilih, menyusun, dan membentuk kembali realitas agar memiliki makna tertentu.
Pembuat film memasukkan pesan, emosi, dan nilai sosial ke dalam cerita (encoding), sementara penonton menafsirkan makna tersebut berdasarkan pengalaman dan pemahaman masing-masing (decoding).
Melalui proses ini, film mampu membangkitkan respons emosional sekaligus mendorong penonton untuk merenungkan kembali pengalaman pribadi, sehingga menjadikannya medium yang efektif untuk pembelajaran emosional dan reflektif.
Dengan demikian, bagi mahasiswa, menonton film inspiratif bukan sekadar cara melepas penat, tetapi juga sarana untuk menemukan makna, memahami tantangan, dan membangun ketangguhan dalam menghadapi realitas akademik maupun kehidupan sehari-hari.
Penulis : Fikri Tri Pradana


















