Menakar Ulang Gengsi: Membaca Fenomena “In This Economy” dan Seni Bertahan Lewat “Downgrade”

Fbhis.umsida.ac.id – Dulu, hidup sederhana sering dianggap sebagai tanda keterbatasan. Kini, anggapan tersebut perlahan mulai mengalami perubahan.

Media sosial justru memperlihatkan tren yang cukup berbeda. Ungkapan in this economy semakin sering muncul.

Frasa tersebut membawa cerita tentang pilihan hidup masyarakat. Banyak orang mulai mengurangi pengeluaran yang dianggap tidak penting.

Sebagian bahkan berani menurunkan standar gaya hidupnya. Ada yang meninggalkan mobil dan memilih transportasi umum.

Sebagian mengganti kendaraan dengan pilihan yang lebih ekonomis. Produk perawatan mahal juga mulai digantikan merek lokal.

Kebiasaan nongkrong di kafe turut mengalami penyesuaian. Pilihan tersebut bukan selalu menunjukkan kegagalan finansial.

Sebaliknya, keputusan itu dapat menjadi strategi bertahan. Fenomena tersebut dikenal sebagai downgrading atau downshifting.

Keduanya menggambarkan penyesuaian terhadap kebutuhan dan kemampuan ekonomi.

Media sosial kemudian menjadikan fenomena tersebut semakin terlihat. Pengalaman pribadi berubah menjadi percakapan bersama.

Baca juga: Optimalisasi Big Data Lokal melalui Sensus Ekonomi untuk Pengembangan Ekosistem Digital UMKM Desa

Gengsi Mulai Kehilangan Tempat
Sumber: Threads

Menurunkan standar hidup dahulu terasa cukup memalukan. Barang bermerek sering menjadi simbol keberhasilan seseorang.

Gaya hidup mahal juga menghadirkan validasi sosial. Karena itu, banyak orang berusaha mempertahankan citra tersebut.

Kondisi ekonomi kemudian memaksa masyarakat menghitung ulang prioritas. Pendapatan tidak selalu bertambah secepat kebutuhan hidup.

Harga berbagai kebutuhan juga terus menjadi pertimbangan. Situasi tersebut mendorong masyarakat memilih pengeluaran secara rasional.

Downgrade akhirnya tidak selalu berarti kehilangan kualitas hidup. Pilihan tersebut dapat menjadi cara menjaga kondisi keuangan.

Menjual kendaraan mahal bisa mengurangi beban cicilan. Transportasi umum kemudian menjadi pilihan yang lebih masuk akal.

Selisih pengeluaran dapat dialihkan untuk kebutuhan lebih penting. Begitu pula dengan kebiasaan membeli barang konsumtif.

Masyarakat mulai membedakan kebutuhan dan keinginan. Prioritas rumah tangga menjadi pertimbangan sebelum melakukan pembelian.

Keputusan tersebut menunjukkan perubahan cara memandang konsumsi.

Lihat juga: Tuntaskan Jenjang Pendidikan Strata 1, Mahasiswa Manajemen Umsida Pilih Wariskan Kebaikan

Makna Baru Sebuah Kecukupan
Sumber: Pribadi

Perubahan gaya hidup juga mengubah definisi barang berkualitas. Harga tidak lagi menjadi satu-satunya ukuran kepuasan.

Fungsi dan manfaat mulai mendapatkan perhatian lebih besar. Kopi rumahan menjadi alternatif minuman kedai kekinian.

Pakaian lama dirawat agar tetap nyaman digunakan. Memasak sendiri juga menjadi pilihan sebagian masyarakat.

Kebiasaan tersebut menunjukkan perubahan pola konsumsi generasi muda. Fenomena underconsumption core turut mendapatkan perhatian.

Gerakan tersebut mendorong penggunaan barang secara lebih bijaksana. Barang digunakan hingga benar-benar habis atau rusak.

Pembelian baru dilakukan ketika kebutuhan memang sudah muncul. Perubahan tersebut memperlihatkan hubungan baru dengan barang.

Kepemilikan tidak selalu harus menunjukkan status sosial. Barang dinilai berdasarkan fungsi dan manfaatnya.

Kesederhanaan mulai dipandang sebagai pilihan yang rasional.

Berdamai dengan Kondisi Ekonomi

Tren in this economy sebenarnya menyimpan pesan sosial. Masyarakat sedang belajar menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Mereka mencari cara mempertahankan kehidupan tanpa memaksakan gengsi. Strategi tersebut dapat berbeda pada setiap rumah tangga.

Ada yang mengurangi hiburan dan makan di luar. Ada pula yang mengubah kebiasaan berbelanja.

Sebagian lainnya memilih memperbaiki barang daripada membeli baru. Semua keputusan tersebut berangkat dari kebutuhan berbeda.

Media sosial membuat pengalaman tersebut terasa lebih kolektif. Orang tidak lagi merasa sendirian ketika melakukan penyesuaian.

Cerita sederhana tentang penghematan justru mendapat ruang. Dari sana, muncul penerimaan terhadap gaya hidup sederhana.

Kondisi tersebut menunjukkan perubahan dalam memaknai keberhasilan. Stabilitas keuangan mulai dianggap lebih penting daripada gengsi.

Kemampuan bertahan menjadi pencapaian yang tidak kalah penting. Hidup sederhana juga tidak otomatis berarti hidup kekurangan.

Pada akhirnya, downgrade bukan sekadar tren media sosial. Fenomena tersebut mencerminkan cara masyarakat beradaptasi.

Gengsi mulai ditempatkan setelah kebutuhan dan keamanan finansial. Pilihan sederhana pun dapat menjadi bentuk keberanian.

Sebab, hidup tidak selalu harus terlihat mahal. Yang lebih penting adalah tetap berjalan tanpa kehilangan kendali.

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Berita Terkini

IAPA
Bedah Buku Administrasi Publik Umsida Bahas Birokrasi dan Korupsi
November 7, 2026By
Mahasiswa
Raih Prestasi Internasional, Tiga Mahasiswa Akuntansi Umsida Antarkan Rekannya Jadi Wisudawan Berprestasi 
November 5, 2026By
Pengalaman
Empat Mahasiswa Akuntansi Umsida Petik Pengalaman Berharga di DPRD Sidoarjo  
November 4, 2026By
Tersebut
Bukan Sekadar Perkenalan, Sharing Session Administrasi Publik Umsida Bangun Kedekatan Mahasiswa
November 3, 2026By
Fbhis
Resmi Dilantik, BEM FBHIS Umsida Siap Perjuangkan Aspirasi dan Kepentingan Mahasiswa
November 2, 2026By
Tantangan
Haflah Jadi Wisudawan Berprestasi Akuntansi Umsida Usai Raih Best Poster ICEBIZ 2025
October 30, 2026By
Menjadi
Kuliah Sambil Bekerja, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Umsida Raih Juara 1 Nasional
October 29, 2026By
Menjadi
Berani Keluar Zona Nyaman, Prasetyo Utomo Buktikan Prestasi hingga Tingkat Internasional
October 28, 2026By

Prestasi

Mahasiswa
Raih Prestasi Internasional, Tiga Mahasiswa Akuntansi Umsida Antarkan Rekannya Jadi Wisudawan Berprestasi 
November 5, 2026By
Tantangan
Haflah Jadi Wisudawan Berprestasi Akuntansi Umsida Usai Raih Best Poster ICEBIZ 2025
October 30, 2026By
Menjadi
Kuliah Sambil Bekerja, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Umsida Raih Juara 1 Nasional
October 29, 2026By
Menjadi
Berani Keluar Zona Nyaman, Prasetyo Utomo Buktikan Prestasi hingga Tingkat Internasional
October 28, 2026By
Sri
Disiplin Belajar Sejak Dini Hari, Sri Rohimah Raih IPK 3,90 dan Predikat Cumlaude
October 27, 2026By
Kebiasaan
Berawal dari Kebiasaan Kecil, Dyah Tuhrotul Fuada Jadi Wisudawan Terbaik Umsida
October 26, 2026By
Berani Melangkah, Jesika Temukan Makna Menjadi Duta Pencerah Umsida
October 6, 2026By
Dari Gagal hingga Terpilih, Mala Bawa Misi Pencerahan di Umsida
October 5, 2026By