Fbhis.umsida.ac.id – Di era digital yang serba terhubung, aktivisme tidak lagi hanya berarti turun ke jalan sambil membawa poster.
Kini, dengan hanya beberapa ketukan di layar, seseorang bisa mendukung gerakan sosial dengan cara like, share, atau mengganti profil picture.
Namun, meskipun digital activism semakin berkembang, pertanyaannya adalah apakah gerakan yang dilakukan Gen Z ini benar-benar berdampak atau hanya sekadar tren yang berfokus pada aspek tampilan media sosial?
Digital activism atau aktivisme digital merujuk pada upaya untuk memperjuangkan suatu isu melalui platform online.
Ini termasuk berbagai tindakan seperti petisi digital, kampanye sosial, hingga hashtag yang menggalang dukungan dari berbagai kalangan.
Gerakan seperti #BlackLivesMatter, #MeToo, dan #SavePalestine menunjukkan bahwa media sosial memang memiliki potensi besar untuk memperkenalkan isu-isu penting dan mengajak lebih banyak orang terlibat.
Gen Z, yang dikenal sebagai digital natives, memiliki akses luas ke informasi dan lebih vokal dalam menyuarakan pendapat mereka.
Meskipun demikian, pertanyaannya tetap: apakah itu benar-benar mengubah sesuatu?
Baca juga: Smart Financial Decisions: Webinar Himaksida Meningkatkan Literasi Keuangan Gen Z
Antara Kesadaran Sosial dan Aksi Nyata

Beberapa gerakan sosial yang berhasil menunjukkan bahwa aktivisme digital memang memiliki dampak besar.
Petisi online yang berhasil mengubah kebijakan pemerintah, crowdfunding untuk bencana, atau eksposur media sosial yang mendorong media mainstream untuk meliput isu penting adalah beberapa contoh dampak nyata dari digital activism.
Banyak gerakan yang bisa berhasil karena digital activism dapat mengumpulkan dukungan global dengan cepat, yang pada gilirannya mendorong tindakan nyata oleh pemerintah atau perusahaan.
Namun, tantangan besar yang masih ada adalah bagaimana memastikan bahwa aktivisme digital tidak hanya menjadi sekadar tren atau aksi simbolik di dunia maya.
Istilah slacktivism muncul untuk menggambarkan mereka yang hanya terlibat dalam gerakan sosial lewat media sosial tanpa melibatkan diri secara nyata.
Mengganti profil picture, ikut membagikan hashtag viral tanpa benar-benar memahami isu, atau mengutuk ketidakadilan namun tetap mendukung brand atau perusahaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai tersebut adalah bentuk slacktivism yang sering ditemukan di media sosial.
Lihat juga: Algoritma sebagai Editor Tak Terlihat: Siapa yang Mengendalikan Wacana Publik?
Peran Media Sosial dan Tantangan dalam Digital Activism
Media sosial, terutama platform seperti Twitter (sekarang X), TikTok, dan Instagram, memainkan peran penting dalam menggerakkan digital activism.
Namun, ada pula tantangan besar terkait hal ini.
Salah satunya adalah algoritma media sosial yang seringkali memprioritaskan konten yang engaging, meskipun tidak selalu akurat.
Misinformasi dapat menyebar dengan cepat, dan echo chamber effect terjadi ketika pengguna hanya melihat perspektif yang sama tanpa mendapatkan sudut pandang yang lebih luas.
Oleh karena itu, penting bagi Gen Z untuk tetap kritis dalam menerima informasi dan tidak terjebak dalam konten viral yang belum tentu benar.
Agar digital activism tetap relevan, gerakan ini harus lebih dari sekadar tren. Aksi nyata harus menjadi langkah lanjutan setelah digital activism dimulai.
Teknologi seperti AI dan blockchain dapat membantu meningkatkan transparansi donasi dan mengorganisir gerakan secara lebih efisien, namun tanpa aksi konkret di dunia nyata, gerakan ini hanya akan tetap menjadi tren yang sementara.
Pada akhirnya, posting di media sosial memang penting, tetapi aksi nyata lebih berarti.
Maka, generasi muda harus bisa membuktikan bahwa digital activism bukan hanya perubahan profil picture, melainkan langkah awal untuk mencapai perubahan yang lebih besar dan lebih nyata.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















