Fbhis.umsida.ac.id – Program pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) terus mendorong penguatan kemandirian ekonomi perempuan melalui pengembangan kapasitas pelaku UMKM.
Tidak hanya fokus pada pemasaran digital, kegiatan ini juga menitikberatkan pada pengelolaan keuangan usaha dan akses terhadap permodalan bagi perempuan pelaku usaha mikro di Desa Kepuh Kemiri, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo.
Program bertajuk “Pemberdayaan Wanita Melalui Digital Marketing dan Akses Terhadap Modal Usaha” tersebut menyasar pelaku usaha makanan dan minuman yang selama ini masih menjalankan bisnis secara sederhana.
Banyak peserta diketahui belum memiliki sistem pencatatan keuangan yang tertata sehingga menjadi kendala dalam pengembangan usaha maupun pengajuan pembiayaan ke lembaga keuangan formal.
Kegiatan yang berlangsung selama April hingga Mei 2026 ini menjadi upaya nyata Umsida dalam mendukung pemberdayaan perempuan berbasis ekonomi kreatif dan literasi digital.
Baca juga: Dosen Umsida Soroti Kesenjangan Penegakan Hukum dan Bahaya Trial by Media Digital
Latih Pelaku UMKM Kelola Keuangan Secara Sistematis
Dalam pelaksanaannya, tim pengabdian memberikan pelatihan mengenai pentingnya manajemen keuangan usaha sebagai fondasi keberlanjutan UMKM.
Peserta dikenalkan pada teknik pencatatan arus kas sederhana, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, hingga penyusunan laporan laba rugi dasar.
Materi disampaikan secara praktis dan mudah dipahami agar peserta yang sebelumnya belum terbiasa melakukan pencatatan keuangan dapat mengikuti proses pelatihan dengan baik.

Selain metode manual, peserta juga diperkenalkan dengan aplikasi keuangan digital sederhana yang membantu proses pencatatan transaksi harian.
Pendekatan ini dilakukan untuk meningkatkan literasi keuangan digital sekaligus membiasakan pelaku usaha perempuan memanfaatkan teknologi dalam pengelolaan bisnis mereka.
Ketua tim pengabdian, Rizky Eka Febriansah SMb MSM menjelaskan bahwa penguatan manajemen keuangan menjadi langkah awal penting dalam membangun UMKM yang lebih mandiri dan profesional.
“Pengelolaan keuangan yang baik akan membantu pelaku usaha memahami kondisi bisnisnya secara lebih jelas, mengurangi risiko kerugian, dan meningkatkan efisiensi usaha,” ujarnya.
Menurutnya, banyak UMKM skala kecil sebenarnya memiliki potensi berkembang, namun terkendala karena belum memiliki administrasi usaha yang rapi dan terstruktur.
Lihat juga: Dosen Umsida Soroti Kesenjangan Penegakan Hukum dan Bahaya Trial by Media Digital
Pendampingan Permodalan Jadi Fokus Pengabdian
Selain pelatihan keuangan, tim pengabdian juga memberikan pendampingan terkait akses permodalan.
Selama ini, banyak pelaku UMKM perempuan mengalami kesulitan memperoleh pembiayaan karena kurang memahami prosedur administrasi dan dokumen pendukung yang dibutuhkan lembaga keuangan.
Melalui program ini, peserta dibimbing menyusun profil usaha, menyiapkan pencatatan keuangan sederhana, hingga memahami berbagai alternatif sumber pembiayaan seperti koperasi, perbankan, dan layanan keuangan berbasis teknologi finansial atau financial technology (fintech).
Pendampingan tersebut bertujuan agar pelaku usaha memiliki kesiapan administrasi ketika ingin mengembangkan bisnis melalui tambahan modal usaha.

“Banyak peserta baru memahami bahwa akses modal tidak hanya soal jaminan aset, tetapi juga bagaimana usaha mereka dikelola dengan baik dan memiliki laporan keuangan yang jelas,” tambah Rizky.
Beberapa peserta bahkan mulai membuat laporan usaha sederhana untuk pertama kalinya sebagai bentuk peningkatan kredibilitas usaha mereka di hadapan lembaga pembiayaan.
Dukung Pemberdayaan Perempuan dan Pertumbuhan Ekonomi Inklusif
Program pengabdian ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga membangun kepercayaan diri perempuan pelaku UMKM agar lebih siap bersaing dan berkembang.
Dengan literasi keuangan yang lebih baik, peserta diharapkan mampu mengambil keputusan usaha secara lebih tepat dan berorientasi jangka panjang.
Kegiatan ini juga mendukung agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 5 tentang pemberdayaan perempuan dan SDGs 8 mengenai pertumbuhan ekonomi inklusif.
Melalui penguatan kapasitas keuangan dan akses modal, Umsida berharap UMKM perempuan di Desa Kepuh Kemiri mampu tumbuh lebih mandiri, adaptif terhadap perkembangan digital, serta memiliki daya saing yang lebih kuat dalam menghadapi tantangan ekonomi di masa depan.
Penyunting: Indah Nurul Ainiyah


















