Fbhis.umsida.ac.id – AI Membaca Selera Pelanggan Personalisasi Pemasaran dan Loyalitas Merek
Riset Systematic Literature Review (SLR) berjudul “Artificial Intelligence (AI) Optimalization in Customer Behavior Analysis to Determine Marketing Strategies” yang disusun oleh Alshaf Pebrianggara, dosen Program Studi Bisnis Digital Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), menyorot pemanfaatan kecerdasan buatan untuk membaca perilaku pelanggan dan menyusun strategi pemasaran.
Gagasan kuncinya yakni AI memungkinkan personalisasi skala besar melalui segmentasi pasar yang lebih presisi dan rekomendasi produk yang lebih relevan, sehingga kepuasan pelanggan dan loyalitas merek berpotensi naik.
Tetapi personalisasi yang berlebihan dapat terasa intrusif dan memicu ketidaknyamanan.
Di titik inilah pemasaran modern perlu menyeimbangkan relevansi, frekuensi, dan rasa aman pelanggan.
Dalam kerangka temuan SLR, personalisasi yang efektif perlu dibarengi tata kelola data dan komunikasi yang transparan kepada pelanggan, agar relevansi tidak berubah menjadi kecurigaan.
Baca juga: Child Grooming: Kejahatan Tersembunyi yang Masih Minim Payung Hukum
Segmentasi yang Lebih Presisi dari Data yang Berhamburan

Segmentasi konvensional sering berhenti pada kategori besar seperti usia, domisili, atau pekerjaan.
Masalahnya, kategori itu tidak selalu menjelaskan alasan orang membeli.
Temuan SLR ini menempatkan machine learning sebagai mesin pembaca pola yang mengolah jejak perilaku, riwayat pembelian, interaksi digital, hingga preferensi pencarian.
Dari data yang tampak berhamburan, AI membantu membentuk segmen yang lebih granular, sehingga pesan pemasaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan yang lebih spesifik dan kontekstual.
Di dalam artikelnya, Alshaf Pebrianggara menulis bahwa “the use of AI in market segmentation and product recommendations can increase customer satisfaction and brand loyalty.”
Ini argumen strategis: loyalitas tumbuh saat pelanggan merasa dipahami, bukan sekadar diburu promo.
Agar segmentasi tidak berhenti menjadi label, perusahaan perlu mengikatnya pada metrik.
CTR (click-through rate) menguji relevansi pesan, conversion rate menguji dampaknya pada transaksi, repeat purchase menilai kebiasaan yang terbentuk, sedangkan churn rate membaca tanda pelanggan mulai pergi.
Jika churn naik, itu bisa berarti segmentasi keliru, timing pesan salah, atau personalisasi terasa memaksa.
Lihat juga: Instagram Jadi Senjata Baru PR: Strategi Kreatif N3 Unique Creativity EO dalam Membangun Brand Image
Rekomendasi Produk yang Relevan Tanpa Terlalu Mengintip

Puncak personalisasi biasanya hadir dalam rekomendasi.
Paper ini mengangkat contoh Amazon dan Netflix yang memanfaatkan AI untuk menganalisis histori dan pola konsumsi, lalu menyajikan rekomendasi sesuai preferensi pengguna.
Dampaknya bukan hanya peluang pembelian yang meningkat, tetapi juga pengalaman yang lebih memuaskan karena pengguna tidak membuang waktu menelusuri pilihan yang tidak relevan.
Namun, rekomendasi yang sangat tepat juga punya sisi gelap: ia bisa terasa seperti pengintaian.
Karena itu, personalisasi yang efektif bukan hanya mengejar akurasi, tetapi menjaga kepercayaan.
Praktiknya mencakup pembatasan frekuensi rekomendasi yang repetitif, memberi kontrol preferensi kepada pengguna, dan memakai data secara proporsional.
Studi ini juga menekankan prasyarat yang sering dilupakan, yakni kualitas data; data yang tidak lengkap, tidak konsisten, atau bias berpotensi menghasilkan segmentasi dan rekomendasi yang keliru.
Bagi bisnis digital, pelajaran utamanya adalah mengelola personalisasi sebagai sistem, mulai dari segmentasi, logika rekomendasi, hingga evaluasi rutin berbasis CTR, conversion, repeat purchase, dan churn.
Untuk pelaku usaha yang baru mulai, pendekatan paling realistis adalah uji coba kecil, ukur metriknya dua sampai empat minggu, lalu iterasi.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















