Mencari Akar di Era Global: Apakah Gen Z Mengalami Krisis Identitas Budaya?

Fbhis.umsida.ac.id – Di tengah derasnya arus globalisasi dan kemajuan teknologi, generasi Z tumbuh dalam lingkungan yang sangat berbeda dibanding generasi sebelumnya. Mereka hidup dalam dunia yang serba cepat, saling terhubung, dan penuh paparan budaya luar melalui media sosial, film, musik, hingga gaya hidup. Dalam kondisi ini, muncul pertanyaan yang cukup serius: apakah Gen Z mengalami krisis identitas budaya? Apakah akar budaya lokal mulai tergerus oleh modernitas global?

Budaya Global dan Gaya Hidup Digital

Generasi Z adalah generasi digital-native yang sejak kecil sudah terbiasa dengan internet, media sosial, dan teknologi. Mereka tumbuh dengan akses instan terhadap informasi dari berbagai penjuru dunia.

Sumber: Pexels

Budaya Korea, Barat, hingga Jepang dengan mudah dikonsumsi dalam bentuk tontonan, musik, atau tren fashion. Tidak sedikit dari mereka yang lebih mengenal budaya populer luar negeri daripada budaya lokalnya sendiri.

Kehidupan sehari-hari Gen Z juga mencerminkan gaya hidup yang sangat terpengaruh oleh globalisasi. Pilihan gaya berpakaian, makanan, hingga cara berkomunikasi sering kali mengadopsi gaya modern yang mendunia.

Dalam beberapa kasus, penggunaan bahasa asing seperti bahasa Inggris dianggap lebih keren atau relevan dibanding bahasa ibu.

Hal ini secara perlahan menciptakan jarak antara generasi muda dan tradisi lokal yang diwariskan oleh leluhur mereka.

Baca juga: Fenomena FOMO: Apakah Gen Z Takut Ketinggalan Tren?

Globalisasi memang memberikan banyak keuntungan, seperti keterbukaan pikiran, akses informasi, dan koneksi lintas budaya.

Namun di sisi lain, paparan budaya luar yang tidak dibarengi dengan pemahaman akan budaya sendiri berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan dalam pembentukan identitas budaya.

Pergeseran Nilai dan Tradisi Lokal

Salah satu dampak globalisasi yang paling nyata adalah pergeseran nilai-nilai dalam kehidupan sosial Gen Z.

Nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan terhadap tradisi sering kali bergeser menjadi nilai individualisme, pragmatisme, dan fleksibilitas.

Upacara adat, kesenian tradisional, dan kearifan lokal mulai kehilangan peminat di kalangan muda karena dianggap kuno atau tidak relevan.

Tak sedikit anak muda yang merasa lebih dekat dengan budaya luar daripada budaya leluhur mereka sendiri. Mereka mungkin lebih antusias menonton konser artis internasional ketimbang menonton pertunjukan seni tradisional.

Bahkan dalam beberapa konteks, budaya lokal dianggap sebagai sesuatu yang “tertinggal” atau “tidak modern.”

Fenomena ini bukan sekadar perubahan selera, melainkan perubahan identitas.

Lihat juga: Mengenal “Silent Communication” Ala Gen Z Lewat Streak Pet di TikTok

Ketika generasi muda tidak lagi merasa memiliki keterikatan emosional dan kultural dengan warisan budaya lokal, maka di situlah krisis identitas budaya mulai terbentuk.

Budaya tidak hanya sekadar pakaian atau bahasa, tetapi juga cara berpikir, nilai hidup, dan rasa memiliki terhadap suatu komunitas.

Membangun Keseimbangan Identitas Budaya

Meski arus globalisasi tak bisa dibendung, bukan berarti identitas budaya lokal harus dilupakan.

Sumber: Ilustrasi AI

Justru tantangan bagi Gen Z adalah bagaimana membangun identitas yang mampu menyeimbangkan antara keterbukaan global dan akar budaya lokal.

Mereka tidak harus memilih salah satu, tetapi bisa mengadopsi yang baik dari luar sambil tetap menjaga jati diri budaya sendiri.

Peran pendidikan, media, keluarga, dan komunitas sangat penting dalam menghidupkan kembali semangat cinta budaya lokal.

Pelestarian budaya tidak hanya lewat seremoni atau simbol, tetapi bisa melalui pendekatan kreatif yang relevan dengan dunia digital.

Misalnya, kesenian daerah bisa dikemas dalam bentuk konten media sosial, atau bahasa daerah diajarkan dalam format yang menyenangkan.

Gen Z juga memiliki potensi besar untuk menjadi agen pelestari budaya dengan pendekatan yang segar dan inovatif.

Mereka bisa memadukan nilai-nilai tradisional dengan gaya komunikasi modern sehingga budaya lokal tidak hanya lestari, tetapi juga relevan dan menarik bagi generasi mereka sendiri.

Krisis identitas budaya di kalangan Gen Z adalah fenomena yang nyata, namun bukan sesuatu yang tak bisa diatasi.

Dalam dunia yang saling terhubung, generasi ini justru memiliki peluang untuk menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan.

Dengan kesadaran, kreativitas, dan rasa memiliki, Gen Z dapat merajut kembali hubungan mereka dengan budaya lokal tanpa menolak pengaruh positif dari luar.

Identitas yang kuat bukan hanya tentang memilih budaya mana yang diikuti, tetapi tentang memahami, mencintai, dan memaknai akar budaya sendiri di tengah dunia yang terus berubah.

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Berita Terkini

Snap & Style Meriahkan Wisuda ke-47 Umsida Lewat Stand Mirror dan Kolaborasi Vendor
June 30, 2026By
Go Global! Dua Mahasiswa Ikom Umsida Magang di USIM Press Malaysia
June 29, 2026By
Kolaborasi AP Umsida dan Dinas Koperasi Bekali Wirausaha Baru Bangun Bisnis Berkelanjutan
June 26, 2026By
Visiting Lecturer di USIM, Dosen Ikom Umsida Bahas Pentingnya Memahami Diri melalui Komunikasi
June 25, 2026By
HIMAAPIK Umsida Perkuat Kapasitas Organisasi Lewat Studi Banding ke HIMA AP Juara Unair
June 23, 2026By
Orasi Ilmiah Yudisium Ke-35 Bahas Peran Direktur Wanita dalam Kinerja Perusahaan
June 22, 2026By
Yudisium ke 35 FBHIS Umsida Catat 83 Persen Kelulusan Tepat Waktu
June 20, 2026By
HIMA Manajemen Umsida Gelar Manajemen Euforia 2026, Wadah Kreativitas dan Inovasi Pelajar
June 19, 2026By

Prestasi

Evaluasi Diri Bawa Mahasiswa Hukum Umsida Raih Dua Medali di Pertandingan Karate
May 8, 2026By
Hebat! Zabrina Taklukkan Arena Karate dan Bawa Pulang Tiga Medali untuk Umsida
May 7, 2026By
Sekali Turun, Tiga Emas: Prestasi Gemilang Mahasiswa Hukum Umsida
May 6, 2026By
Lawan Rasa Minder, Windy Sabet Juara 1 di Kejuaraan Internasional Pencak Silat 2026
April 15, 2026By
Atasi Rasa Minder, Vivi Nabila Bawa Pulang Emas pada Ajang Paku Bumi Championship 2026
April 14, 2026By
Tampil Dominan, Muhammad Sonhaji Sabet Emas Paku Bumi Championship 2026
April 10, 2026By
Mahasiswa Umsida Raih Perak di Paku Bumi Championship, Bukti Latihan Singkat Tak Halangi Prestasi
April 7, 2026By
Di Balik Kemudi Delta EV: Peran Strategis Mardi Lukas di Shell Eco-Marathon Qatar 2026
February 5, 2026By