Fbhis.umsida.ac.id – Himpunan Mahasiswa Administrasi Publik (HIMMAPIK) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) kembali menorehkan prestasi melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026.
Tim yang diketuai oleh Risqi Amirulloh atau Amir berhasil lolos pendanaan dengan mengusung program bertajuk “Integrasi Bio Circular Agro Estate melalui Rekayasa Tata Kelola Publik guna Mewujudkan Desa Kesiman Wirausaha Mandiri Sampah.”
Program tersebut akan dilaksanakan di Desa Kesiman dengan pendampingan dosen pembimbing Widyastuti MPsi Psikolog.
Melalui pendekatan tata kelola publik dan ekonomi sirkular, tim berupaya menghadirkan solusi berkelanjutan terhadap persoalan sampah yang masih menjadi tantangan di desa tersebut.
Menurut Amir, pemilihan tema pengelolaan sampah dilatarbelakangi oleh besarnya persoalan sampah di Indonesia yang hingga kini masih menjadi perhatian nasional.
Kondisi tersebut juga ditemukan di Desa Kesiman yang menghasilkan 3 hingga 4 ton sampah setiap minggu.

“Sekitar 60 persen sampah yang dihasilkan merupakan residu yang sulit ditangani sehingga terus menumpuk dan menimbulkan bau tidak sedap,” ujarnya.
Desa Kesiman Dipilih karena Potensi dan Tantangannya
Desa Kesiman dipilih bukan tanpa alasan. Selain memiliki persoalan sampah yang perlu segera ditangani, desa ini juga menyimpan potensi besar di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan air tawar.

Terletak di kawasan lereng Gunung Arjuno-Welirang dan Penanggungan, Desa Kesiman memiliki tanah yang subur serta dukungan pemerintah desa yang cukup kuat dalam upaya pembenahan lingkungan.
Saat melakukan survei lapangan pada Januari 2026, tim menemukan bahwa Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R) setempat mengalami berbagai kendala.
Dengan hanya enam tenaga pengelola, TPS3R harus menangani volume sampah yang cukup besar setiap minggunya.
Kondisi semakin berat karena mesin insinerator yang sebelumnya digunakan untuk mengelola sampah residu mengalami kerusakan total.
Akibatnya, sampah terus menumpuk dan mengurangi efektivitas sistem pengelolaan yang ada.
Untuk menjawab persoalan tersebut, tim mengusung konsep Bio Circular Agro Estate.
Konsep ini menempatkan sampah sebagai sumber daya yang dapat diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi.
“Bio Circular Agro Estate adalah cara mengelola desa agar tidak ada sesuatu pun yang terbuang sia-sia. Sampah yang selama ini dianggap beban justru dapat menjadi sumber nilai ekonomi baru,” jelas Amir.
Lihat juga: Abdimas Umsida Dorong UMKM Perempuan Naik Kelas Lewat Literasi Keuangan dan Modal
Mengintegrasikan Lingkungan, Ekonomi, dan Tata Kelola Publik
Program yang dirancang tidak hanya berfokus pada kebersihan lingkungan, tetapi juga mendorong terbentuknya sistem ekonomi desa yang lebih mandiri.
Salah satu target utama adalah mengurangi volume sampah residu melalui pemanfaatan teknologi insinerator yang diperbarui.

Abu hasil pembakaran nantinya akan diolah menjadi paving block yang memiliki nilai jual dan dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Selain itu, tim juga akan mengembangkan budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) untuk mendukung sektor peternakan dan perikanan.
Melalui teknologi ini, biaya pakan dapat ditekan sekaligus menghasilkan pupuk kasgot yang bernilai ekonomis.
Dari perspektif Administrasi Publik, persoalan sampah dipandang sebagai isu tata kelola yang memerlukan kolaborasi berbagai pihak.
“Pengelolaan sampah bukan hanya tugas pemerintah desa, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat, kelembagaan yang kuat, dan sistem pelayanan publik yang efektif,” ungkap Amir.
Membangun Desa Mandiri Sampah yang Berkelanjutan
Dalam pelaksanaannya, tim akan melakukan sosialisasi, pelatihan teknis, pendampingan operasional, serta monitoring secara berkala bersama masyarakat.
Warga juga akan diajak terlibat langsung dalam pengelolaan sampah melalui praktik budidaya maggot, pengoperasian insinerator, hingga pembuatan paving block.
Menurut Amir, tantangan terbesar program ini adalah mengubah kebiasaan masyarakat dan membangun rasa kepemilikan terhadap program yang dijalankan.
Oleh karena itu, pendekatan partisipatif dipilih agar masyarakat merasa menjadi bagian dari solusi yang dibangun bersama.
Tim juga menyiapkan kader lokal dan memperkuat kelembagaan BUMDes agar program tetap berjalan setelah masa pendampingan berakhir.
“Kami berharap ketika program selesai, Desa Kesiman telah memiliki sistem pengelolaan sampah yang mandiri, lingkungan yang lebih bersih, serta mampu menjadi desa percontohan Bio Circular Agro Estate bagi daerah lain,” pungkasnya.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















