Fbhis.umsida.ac.id – Di tengah budaya pesta pernikahan yang semakin megah dan mahal, muncul sebuah narasi tandingan di media sosial yakni menikah sederhana di Kantor Urusan Agama (KUA).
Fenomena ini ramai dibicarakan di platform X (dulu Twitter) dan menjadi simbol perlawanan terhadap konsumerisme dalam praktik pernikahan modern.
Penelitian yang dilakukan oleh Dr Ferry Adhi Dharma MIKom, dosen Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), mengungkap bahwa narasi “nikah di KUA” tidak sekadar tren, melainkan refleksi perubahan nilai dalam masyarakat digital.
Narasi tersebut berkembang melalui cerita-cerita singkat pengguna media sosial yang menampilkan pernikahan sederhana sebagai pilihan yang rasional, efisien, dan bermakna.
Baca juga: Kesederhanaan Nikah di KUA yang Berubah Jadi Standar Moral di X
Nikah Sederhana di Tengah Tekanan Gengsi Sosial

Dalam praktik sosial yang umum, pernikahan seringkali dipandang sebagai ajang prestise.
Banyak pasangan merasa harus menggelar resepsi mewah demi memenuhi ekspektasi keluarga atau lingkungan sosial.
Akibatnya, biaya pernikahan bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta rupiah.
Namun di ruang digital, terutama di platform X, muncul narasi yang justru menantang standar tersebut.
Banyak pengguna membagikan pengalaman menikah sederhana di KUA tanpa pesta besar.
Cerita-cerita ini sering disertai foto akad sederhana atau kisah proses pernikahan yang praktis.
Menurut penelitian tersebut, narasi ini menunjukkan perubahan cara masyarakat memaknai pernikahan.
“Menurutnya hal ini menunjukkan bahwa kesederhanaan dalam pernikahan mulai dipandang sebagai pilihan rasional dan bermakna, bukan lagi sekadar keterbatasan ekonomi,” jelas Ferry dalam kajian tersebut.
Narasi tersebut perlahan membangun persepsi baru bahwa kebahagiaan pernikahan tidak harus ditentukan oleh kemewahan pesta, melainkan oleh komitmen pasangan yang menjalani kehidupan bersama.
Lihat juga: Ukuran Perusahaan Jadi Penentu Strategi Kas? Ini Temuan Riset Dosen Akuntansi Umsida
Kritik terhadap Industri Pernikahan
Fenomena nikah di KUA juga membawa kritik yang lebih luas terhadap apa yang sering disebut sebagai “industri pernikahan.”
Dalam beberapa dekade terakhir, pernikahan telah berkembang menjadi pasar bisnis besar yang melibatkan berbagai layanan seperti wedding organizer, dekorasi, katering, hingga dokumentasi mewah.
Di media sosial, banyak pengguna secara terang-terangan membandingkan biaya pernikahan sederhana di KUA dengan biaya resepsi besar yang dianggap terlalu mahal.
Perbandingan ini sering disampaikan dalam bentuk satire atau diskusi kritis.
Penelitian tersebut menemukan bahwa narasi ini menjadi bentuk resistensi simbolik terhadap konsumerisme dalam budaya pernikahan.
“Menurutnya hal ini merupakan kritik terhadap praktik komersialisasi pernikahan yang sering menempatkan gengsi sosial di atas makna sakral dari pernikahan itu sendiri,” tulis Ferry dalam analisisnya.
Dalam konteks ini, pilihan menikah di KUA menjadi simbol perlawanan terhadap tekanan sosial untuk menggelar pesta besar.
Bagi sebagian pasangan muda, keputusan tersebut juga berkaitan dengan pertimbangan ekonomi yang lebih realistis.
Media Sosial sebagai Arena Negosiasi Nilai
Penelitian ini juga menunjukkan bahwa media sosial berperan besar dalam menyebarkan dan memperkuat narasi tersebut.
Platform digital memungkinkan pengguna berbagi pengalaman pribadi yang kemudian mendapatkan dukungan dari komunitas daring.
Melalui fitur like, retweet, dan komentar, cerita tentang pernikahan sederhana mendapat validasi sosial dari pengguna lain.
Interaksi tersebut membentuk komunitas yang memiliki pandangan serupa tentang makna pernikahan.
“Menurutnya hal ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi ruang berbagi pengalaman, tetapi juga arena negosiasi nilai sosial yang dapat memengaruhi cara masyarakat memandang institusi pernikahan,” jelasnya.
Di sisi lain, diskusi ini juga memunculkan perdebatan. Sebagian pengguna tetap mempertahankan pandangan bahwa pesta pernikahan adalah bagian penting dari tradisi dan kebahagiaan keluarga.
Perbedaan pandangan tersebut menunjukkan bahwa media sosial menjadi ruang publik digital tempat berbagai nilai dipertemukan dan diperdebatkan.
Pada akhirnya, fenomena nikah di KUA menggambarkan bagaimana budaya digital mampu memunculkan perspektif baru dalam masyarakat.
Di tengah tekanan gengsi dan industri pernikahan yang terus berkembang, narasi kesederhanaan hadir sebagai pengingat bahwa makna pernikahan sejatinya tidak selalu diukur dari kemewahan acara, melainkan dari komitmen dua orang yang memilih untuk membangun kehidupan bersama.
Sumber jurnal: The Narrative of “Marriage in Kua” on Social Media: A Narrative Analysis of Digital Cultural Practices on Platform X
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















