Gen Z dan Digital Activism: Gerakan Sosial di Era Media Sosial

Fbhis.umsida.ac.id – Di era digital yang serba terhubung, aktivisme tidak lagi hanya berarti turun ke jalan sambil membawa poster.

Kini, dengan hanya beberapa ketukan di layar, seseorang bisa mendukung gerakan sosial dengan cara like, share, atau mengganti profil picture.

Namun, meskipun digital activism semakin berkembang, pertanyaannya adalah apakah gerakan yang dilakukan Gen Z ini benar-benar berdampak atau hanya sekadar tren yang berfokus pada aspek tampilan media sosial?

Digital activism atau aktivisme digital merujuk pada upaya untuk memperjuangkan suatu isu melalui platform online.

Ini termasuk berbagai tindakan seperti petisi digital, kampanye sosial, hingga hashtag yang menggalang dukungan dari berbagai kalangan.

Gerakan seperti #BlackLivesMatter, #MeToo, dan #SavePalestine menunjukkan bahwa media sosial memang memiliki potensi besar untuk memperkenalkan isu-isu penting dan mengajak lebih banyak orang terlibat.

Gen Z, yang dikenal sebagai digital natives, memiliki akses luas ke informasi dan lebih vokal dalam menyuarakan pendapat mereka.

Meskipun demikian, pertanyaannya tetap: apakah itu benar-benar mengubah sesuatu?

Baca juga: Smart Financial Decisions: Webinar Himaksida Meningkatkan Literasi Keuangan Gen Z

Antara Kesadaran Sosial dan Aksi Nyata
Sumber: Pexels

Beberapa gerakan sosial yang berhasil menunjukkan bahwa aktivisme digital memang memiliki dampak besar.

Petisi online yang berhasil mengubah kebijakan pemerintah, crowdfunding untuk bencana, atau eksposur media sosial yang mendorong media mainstream untuk meliput isu penting adalah beberapa contoh dampak nyata dari digital activism.

Banyak gerakan yang bisa berhasil karena digital activism dapat mengumpulkan dukungan global dengan cepat, yang pada gilirannya mendorong tindakan nyata oleh pemerintah atau perusahaan.

Namun, tantangan besar yang masih ada adalah bagaimana memastikan bahwa aktivisme digital tidak hanya menjadi sekadar tren atau aksi simbolik di dunia maya.

Istilah slacktivism muncul untuk menggambarkan mereka yang hanya terlibat dalam gerakan sosial lewat media sosial tanpa melibatkan diri secara nyata.

Mengganti profil picture, ikut membagikan hashtag viral tanpa benar-benar memahami isu, atau mengutuk ketidakadilan namun tetap mendukung brand atau perusahaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai tersebut adalah bentuk slacktivism yang sering ditemukan di media sosial.

Lihat juga: Algoritma sebagai Editor Tak Terlihat: Siapa yang Mengendalikan Wacana Publik?

Peran Media Sosial dan Tantangan dalam Digital Activism

Media sosial, terutama platform seperti Twitter (sekarang X), TikTok, dan Instagram, memainkan peran penting dalam menggerakkan digital activism.

Namun, ada pula tantangan besar terkait hal ini.

Salah satunya adalah algoritma media sosial yang seringkali memprioritaskan konten yang engaging, meskipun tidak selalu akurat.

Misinformasi dapat menyebar dengan cepat, dan echo chamber effect terjadi ketika pengguna hanya melihat perspektif yang sama tanpa mendapatkan sudut pandang yang lebih luas.

Oleh karena itu, penting bagi Gen Z untuk tetap kritis dalam menerima informasi dan tidak terjebak dalam konten viral yang belum tentu benar.

Agar digital activism tetap relevan, gerakan ini harus lebih dari sekadar tren. Aksi nyata harus menjadi langkah lanjutan setelah digital activism dimulai.

Teknologi seperti AI dan blockchain dapat membantu meningkatkan transparansi donasi dan mengorganisir gerakan secara lebih efisien, namun tanpa aksi konkret di dunia nyata, gerakan ini hanya akan tetap menjadi tren yang sementara.

Pada akhirnya, posting di media sosial memang penting, tetapi aksi nyata lebih berarti.

Maka, generasi muda harus bisa membuktikan bahwa digital activism bukan hanya perubahan profil picture, melainkan langkah awal untuk mencapai perubahan yang lebih besar dan lebih nyata.

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Berita Terkini

Smart Financial Decisions: Webinar Himaksida Meningkatkan Literasi Keuangan Gen Z
February 24, 2026By
Khusyuk Versus Viral, Menata Ramadan di Era TikTok dan Notifikasi
February 23, 2026By
Paradoks Keterbukaan di Desa: Ketika Komunikasi Justru Menurunkan Kualitas Layanan
February 20, 2026By
Resonansi Cita HIMMAPIK Umsida Kukuhkan Sinergi dan Loyalitas Organisasi
February 19, 2026By
Himabig Umsida Gandeng SSC Perkuat Calistung dan Kreativitas Anak Lewat Gema Literasi
February 18, 2026By
Aslab Akuntansi Umsida Kupas Strategi Cuan di Tengah Volatilitas IHSG Lewat Webinar Saham
February 16, 2026By
Rumus Prof Sigit Dorong Kinerja Lembaga Zakat lewat IC dan Keuangan
February 12, 2026By
Potensi Zakat 327 Triliun Baru Terhimpun 41 Triliun Prof Sigit Soroti Akarnya
February 11, 2026By

Prestasi

Di Balik Kemudi Delta EV: Peran Strategis Mardi Lukas di Shell Eco-Marathon Qatar 2026
February 5, 2026By
Langkah Pertama Yayan di Ju Jitsu Open Mojokerto Berbuah Pengalaman Berharga
January 24, 2026By
Debut Manis Atlet Muda Umsida di Kejuaraan Ju-Jitsu Open Piala KONI Mojokerto 2026
January 23, 2026By
Krisna Punjabi: Pesona ke Arena Nasional, Buktikan Prestasi Melalui Karate
January 7, 2026By
Bangkit dari Kekosongan, Dwi Langen Widi Cahyono Menorehkan Prestasi di Arena Karate
January 6, 2026By
Zabrina Bawa Pulang Emas dan Perunggu di Batu Karate Challenge 2025, Buktikan Prestasi Tanpa Batas
January 5, 2026By
Naufal Rafi Putra Tembus Final Karate Challenge, Sabet Perak dan Masuk 10 Besar
January 3, 2026By
Tampil Percaya Diri di Ajang Provinsi, Mahasiswi Umsida Raih 2nd Runner Up Miss Jawa Timur 2025
January 2, 2026By