Kejar Target Profesor Sebelum Usia 50, Prof Sigit Buktikan Konsistensi Akademik Tanpa Jalan Pintas

Fbhis.umsida.ac.id – Perjalanan akademik Prof Dr Sigit Hermawan SE MSi menuju gelar Guru Besar bukan kisah yang instan.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo ini membuktikan bahwa konsistensi, kesabaran, dan keteguhan memilih jalur akademik mampu mengantarkannya meraih puncak karier dosen sebelum usia 50 tahun.

Gelar Guru Besar dalam bidang Ilmu Intellectual Capital dan Analisis Keuangan resmi ia peroleh melalui Surat Keputusan per 1 Oktober 2025, disusul sertifikat kompetensi pada 2 Februari 2026.

Capaian tersebut menandai fase penting dari perjalanan panjang yang telah ia bangun sejak masa mahasiswa.

Baca juga: Dari Kimia Hingga Jadi Guru Besar Manajemen di Umsida, Ini Kisah Prof Sriyono

Dari Aktivis Kampus ke Dunia Akademik

Lahir di Bojonegoro pada 3 Desember 1973, Prof Sigit menempuh pendidikan dasar hingga menengah di kota kelahirannya.

Setelah lulus dari SMA Negeri II Bojonegoro, ia melanjutkan studi S1 Akuntansi di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).

Ketertarikannya pada dunia akademik mulai tumbuh saat aktif di organisasi mahasiswa dan menjadi asisten laboratorium akuntansi.

Pengalaman tersebut menjadi titik balik yang mengubah orientasi kariernya.

“Sebagai asisten dosen itulah yang menurut saya paling menjadi awal untuk menapaki dunia akademik,” ungkapnya.

Usai lulus pada 1998, Prof Sigit sempat menjadi dosen kontrak di UMM.

Dua tahun berselang, ia menerima amanah bergabung dengan Umsida dan langsung dipercaya sebagai Ketua Program Studi S1 Akuntansi.

Saat itu, kondisi kampus masih didominasi kelas malam dan sedang merintis pengembangan kelas pagi.

Ia resmi mengabdi di Umsida sejak 1 Februari 2000. Komitmen terhadap pengembangan keilmuan kemudian ia lanjutkan dengan menempuh studi S2 Magister Akuntansi di Universitas Airlangga dan lulus pada 2004.

Lihat juga: Di Balik Kemudi Delta EV: Peran Strategis Mardi Lukas di Shell Eco-Marathon Qatar 2026

Ujian Akademik dan Proses Panjang Jabatan Fungsional

Perjalanan akademik Prof Sigit tidak selalu berjalan mulus. Saat menempuh S2, ia pernah harus mengulang satu mata kuliah akibat kelalaian administrasi.

“Nilai saya D karena tidak mengumpulkan jawaban. Itu satu-satunya mata kuliah yang pernah saya ulang,” kenangnya.

Tahun 2008, ia melanjutkan studi doktoral di Program S3 Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga.

Pada masa itu, belum banyak dosen yang berani melanjutkan studi doktor, namun ia berhasil menyelesaikan disertasi dengan dukungan hibah riset dari Kemendikbud.

Karier jabatan fungsionalnya dimulai dari Asisten Ahli, kemudian Lektor pada 2007.

Ia mengaku sempat memiliki peluang mempercepat kenaikan jabatan, namun memilih menempuh proses secara bertahap.

“Sebenarnya cukup tambah satu artikel saja sudah bisa naik. Tapi saya tidak ambil,” tuturnya.

Ia baru dikukuhkan sebagai Lektor Kepala pada 2017 setelah melewati proses panjang akibat peralihan sistem administrasi nasional.

Target Sebelum 50 Tahun Akhirnya Tercapai

Pengajuan Guru Besar mulai ia lakukan sejak 2019. Sejumlah kendala muncul, mulai dari kualitas jurnal, korespondensi artikel, hingga persoalan sinkronisasi data antara MyASN dan SISTER.

Ia bahkan harus mengurus langsung ke Jakarta agar data kepangkatannya sesuai di sistem.

Upaya tersebut berbuah hasil pada 2025, ketika artikelnya berhasil terbit di jurnal bereputasi internasional kategori Q1.

Sejak usia 35 tahun, Prof Sigit telah memasang target besar untuk menjadi profesor.

Target tersebut sempat meleset akibat dinamika jabatan struktural, namun ia menetapkan sasaran baru sebelum usia 50 tahun.

“Alhamdulillah, SK Guru Besar terbit saat saya berusia 49 tahun 11 bulan,” ujarnya.

Bagi Prof Sigit, gelar Guru Besar bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan amanah untuk terus memperkuat kontribusi keilmuan dan reputasi akademik perguruan tinggi melalui riset dan pengembangan intellectual capital.

Penulis: Indah Nurul Ainiyah

Berita Terkini

Hima Manajemen Umsida Tebar Kebaikan di Panti Asuhan Yatim Aisyah Sidoarjo
March 5, 2026By
BEM FBHIS Umsida Perkuat Jejaring Nasional di Kongres ILMISPI 2026
March 3, 2026By
Aksi Solidaritas dan Doa Bersama BEM FBHIS Umsida: Menuntut Reformasi Total Kepolisian
March 2, 2026By
Audit Sebagai Ikhtiar Peningkatan Mutu: SMP Muhammadiyah 5 Tulangan Siap Berbenah dan Bertumbuh
February 27, 2026By
Gen Z dan Digital Activism: Gerakan Sosial di Era Media Sosial
February 25, 2026By
Smart Financial Decisions: Webinar Himaksida Meningkatkan Literasi Keuangan Gen Z
February 24, 2026By
Khusyuk Versus Viral, Menata Ramadan di Era TikTok dan Notifikasi
February 23, 2026By
Paradoks Keterbukaan di Desa: Ketika Komunikasi Justru Menurunkan Kualitas Layanan
February 20, 2026By

Prestasi

Di Balik Kemudi Delta EV: Peran Strategis Mardi Lukas di Shell Eco-Marathon Qatar 2026
February 5, 2026By
Langkah Pertama Yayan di Ju Jitsu Open Mojokerto Berbuah Pengalaman Berharga
January 24, 2026By
Debut Manis Atlet Muda Umsida di Kejuaraan Ju-Jitsu Open Piala KONI Mojokerto 2026
January 23, 2026By
Krisna Punjabi: Pesona ke Arena Nasional, Buktikan Prestasi Melalui Karate
January 7, 2026By
Bangkit dari Kekosongan, Dwi Langen Widi Cahyono Menorehkan Prestasi di Arena Karate
January 6, 2026By
Zabrina Bawa Pulang Emas dan Perunggu di Batu Karate Challenge 2025, Buktikan Prestasi Tanpa Batas
January 5, 2026By
Naufal Rafi Putra Tembus Final Karate Challenge, Sabet Perak dan Masuk 10 Besar
January 3, 2026By
Tampil Percaya Diri di Ajang Provinsi, Mahasiswi Umsida Raih 2nd Runner Up Miss Jawa Timur 2025
January 2, 2026By