Fbhis.umsida.ac.id – Ramadan selalu datang dengan janji yang sama, ritme hidup melambat, hati dipaksa lebih peka, dan tubuh belajar menahan.
Tetapi di era notifikasi, yang melambat sering kali hanya jadwal makan. Sementara layar justru makin ramai.
Grup keluarga mendadak aktif mengirim jadwal imsakiyah, tautan kajian, dan flyer buka bersama.
Live streaming ngabuburit menawarkan obrolan ringan sampai diskusi agama yang dipotong jadi klip singkat.
Kultum TikTok hadir dalam 60 detik, lengkap dengan subtitle, musik latar, dan efek visual.
Bahkan momen sahur pun bisa berubah menjadi konten dari “menu sahur super cepat” sampai tren viral yang dikomentari ribuan orang.
Masalahnya bukan pada teknologi itu sendiri. Tantangannya ada pada cara teknologi menggeser focus, dari ibadah yang sunyi menjadi ibadah yang terus disela, dari refleksi batin menjadi konsumsi konten tanpa jeda.
Ramadan yang seharusnya menjadi latihan mengendalikan diri, justru diuji oleh distraksi yang tidak mengenal waktu.
Baca juga: Ramadan Bukan Tentang Diet, Tapi Juga Soal Self-Mastery Akan Duniawi
Puasa di Tengah Banjir Notifikasi

Notifikasi tidak sekadar suara, ia adalah pemecah konsentrasi. Setiap getaran kecil membuat pikiran terlempar dari niat awal, membaca Al-Qur’an, berzikir, atau sekadar menahan diri dari reaksi spontan.
Di siang hari, ada godaan scroll tanpa tujuan “cuma sebentar” yang berakhir puluhan menit.
Menjelang magrib, algoritma memberi hiburan instan, live cooking takjil, podcast ngabuburit, sampai reaksi orang terhadap tren Ramadan terbaru.
Distraksi digital membuat puasa terasa seperti dua medan perang sekaligus, menahan lapar dan menahan impuls.
Jika lapar jelas penyebabnya, impuls jauh lebih licin datang melalui rasa ingin tahu, rasa takut tertinggal, dan kebutuhan kecil untuk “update”.
Di titik ini, puasa bukan hanya soal menahan makan, tetapi menahan diri dari banjir informasi yang seolah wajib diikuti.
Lihat juga: Dari Likes ke Loyalitas: Peran Digital Influencers dalam Meningkatkan Brand Awareness
Spiritualitas vs Performatifitas
Di media sosial, Ramadan sering tampil sebagai festival visual: feed rapi, outfit salat yang serasi, video tarawih dengan angle terbaik, dan story buka bersama yang disusun seperti highlight perjalanan hidup.
Tren “ibadah estetik” membuat sebagian orang merasa perlu menampilkan versi terbaik dari religiusitasnya bukan untuk pamer secara sadar, tetapi karena ruang digital memberi insentif likes, komentar, dan validasi.
Di sinilah konflik halus muncul. Spiritualitas sejatinya mengarah ke dalam: mengoreksi diri, memperbaiki niat, dan menguatkan hubungan dengan Tuhan.
Performatifitas bergerak ke luar mengatur kesan, menjaga citra, dan memastikan orang lain melihat “aku sedang berproses”. Batasnya tipis, dan sering kali kabur.
Tidak semua unggahan ibadah salah. Masalahnya ketika ibadah mulai dipilih karena potensinya menjadi konten, bukan karena kebutuhannya bagi hati.
Saat itu terjadi, Ramadan berubah dari latihan keikhlasan menjadi panggung kecil yang tidak pernah benar-benar sepi.
FOMO Ramadan dan Cara Mengembalikan Kendali

Fenomena FOMO selama Ramadan nyata: takut ketinggalan kajian online, takut tidak ikut tren sedekah tertentu, takut tidak hadir di momen buka bersama yang wajib, bahkan takut tidak terlihat aktif.
Padahal, Ramadan bukan kompetisi produktivitas spiritual. Ia ruang personal yang sangat unik, karena kualitasnya tidak bisa diukur dari seberapa ramai aktivitas, tetapi seberapa dalam perubahan diri.
Cara mengembalikan kendali dimulai dari hal sederhana: memilih waktu “hening digital” setiap hari, membatasi notifikasi aplikasi hiburan, dan menetapkan slot khusus untuk konsumsi konten religi bukan membiarkannya menyusup sepanjang waktu.
Jika ingin unggah, tanyakan dulu: apakah ini untuk menguatkan orang lain, atau sekadar menguatkan citra diri?
Ramadan akan selalu menjadi momen latihan. Di era notifikasi, latihannya bertambah satu, beribadah tanpa harus terus terlihat.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















