Fbhis.umsida.ac.id – Pengukuhan guru besar Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) mengangkat isu penguatan kinerja lembaga amil zakat melalui orasi ilmiah Prof Dr Sigit Hermawan SE MSi pada pengukuhan guru besar di Aula KH Ahmad Dahlan Kampus 1 Umsida, Senin, (09/02/2026).
Dalam orasinya, Prof Sigit menawarkan kerangka praktis berbasis riset: mengelola aset tak berwujud yang ia sebut IC sebagai intellectual capital dan mengukurnya dengan analisis keuangan agar lembaga zakat lebih profesional, transparan, inovatif, dan berkelanjutan.
Ia menegaskan bahwa gagasan tersebut lahir dari pengalaman akademik dan praktik kelembagaan yang dijalani sehari-hari.
Prof Sigit turut menyampaikan keterlibatannya dalam ekosistem filantropi, termasuk aktivitas di Lazismu Jawa Timur pada ranah audit kepatuhan.
“Yang saya sampaikan adalah yang keseharian kami lakukan,” ujarnya.
Baca juga: Potensi Zakat 327 Triliun Baru Terhimpun 41 Triliun Prof Sigit Soroti Akarnya
IC sebagai Intellectual Capital Penggerak Kinerja Lembaga Zakat

Prof Sigit menempatkan IC sebagai modal strategis lembaga zakat, terutama untuk menjawab tuntutan zaman dan kompetisi layanan filantropi.
Ia menegaskan, “IC adalah aset tak berwujud penggerak kinerja lembaga amil zakat,” ujarnya.
Dalam kerangka IC, ia menyusun tiga komponen besar. Pertama, human capital, yang menurutnya perlu diperkuat lewat kompetensi amil dan kapasitas penghimpunan dana.
Ia menyebut indikator seperti pengetahuan ZIS, “kemampuan fundraising zakat digital,” hingga “sertifikasi amil zakat.”
Kedua, structural capital (atau institutional/structural), yang berhubungan dengan sistem kerja dan infrastruktur organisasi.
Prof Sigit menekankan pentingnya sistem informasi manajemen dan integrasi proses.
“Mulai dari fundraising, penyaluran, dan programnya,” ungkapnya.
Ia juga menyinggung “Kebutuhan database muzaki dan mustahik, platform pembayaran zakat digital, serta SOP penyimpanan zakat agar proses tertib dan mudah diaudit,” tegasnya.
Ketiga, relation capital, yang mengukur kualitas relasi lembaga dengan publik dan pemangku kepentingan.
Ia menekankan “Layanan yang responsif customer service di zakat digital, pendampingan usaha mustahik, hubungan dengan stakeholder, hingga publikasi dampak sosial program,” ungkapnya.
Bagi Prof Sigit, relasi yang kuat menjadi kunci mempertahankan kepercayaan dan memperluas basis donatur.
Lihat juga: Prof Sigit Soal Makna Guru Besar: Ilmu Tanpa Pengabdian akan Tak Bermakna
Analisis Keuangan sebagai Alat Ukur Tata Kelola dan Efektivitas
Selain memperkuat IC, Prof Sigit menegaskan perlunya instrumen ukur yang objektif melalui analisis laporan keuangan.
Ia menyebut beberapa indikator kunci, antara lain rasio efisiensi penghimpunan dan penyaluran zakat, rasio pertumbuhan dana, serta rasio penyaluran terhadap penghimpunan.
Ia juga menekankan analisis keberlanjutan keuangan untuk memastikan program pemberdayaan tidak berhenti di tengah jalan.
Dalam orasi, Prof Sigit memaparkan contoh analisis kesehatan laporan keuangan Lazismu periode 2020–2024, dengan pembacaan aspek likuiditas, arus kas, efisiensi penyaluran, aset dan investasi, serta keberlanjutan.
Ia menyimpulkan ketahanan lembaga dalam kategori positif, salah satunya karena ketahanan likuiditas yang sangat baik dan kemampuan menjaga keseimbangan penerimaan serta penyaluran dana.
Pembacaan rasio dan tren itu, menurutnya, bukan sekadar penilaian administratif, tetapi cara memastikan lembaga tetap amanah dan tepat sasaran.

Ia menyebut kondisi efisiensi yang kuat sebagai cerminan tata kelola yang sehat dan penguat posisi lembaga sebagai institusi yang profesional dan berkelanjutan.
Sinergi IC dan Keuangan untuk Transparansi Inovasi dan Keberlanjutan
Puncak gagasan Prof Sigit terletak pada integrasi dua pendekatan tersebut.
“IC dan analisis keuangan bukanlah dua konsep yang berdiri sendiri,” ujarnya.
Ia menambahkan, “IC menyediakan kapasitas, analisis keuangan menyediakan instrumen pengukuran,” tambahnya.
Ia memetakan dampak sinergi itu menjadi keluaran yang bisa dilihat publik, lembaga yang “profesional dalam pengelolaan, transparansi dalam pelaporan, serta inovatif dalam program pemberdayaan,” pungkasnya.
Prof Sigit juga menyinggung riset preferensi donatur terhadap Lazismu.
Ia menyebut faktor pendorong utama donasi adalah kemudahan, lalu kepercayaan. religiusitas, reputasi, serta keamanan dan kenyamanan.
Rangkaian faktor ini memperkuat argumennya bahwa transformasi digital tidak boleh berhenti pada kanal pembayaran, tetapi harus menyatu dengan tata kelola, kualitas SDM amil, dan pelaporan kinerja yang bisa diuji.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















