Fbhis.umsida.ac.id – Pasar saham Indonesia tengah menghadapi tekanan berat setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok tajam hingga 5,8 persen atau turun 382 poin dan ditutup di level 6.200.
Penurunan ini dipicu kombinasi faktor global dan domestik, mulai dari kebijakan suku bunga The Fed, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, hingga kekhawatiran inflasi pangan akibat banjir di Jawa Timur.
Kondisi tersebut berdampak signifikan pada sektor perbankan dan properti, dengan saham-saham unggulan mengalami koreksi tajam.
Situasi semakin memanas setelah muncul kabar kemunduran salah satu pejabat pengawas pasar modal di Otoritas Jasa Keuangan, yang memicu spekulasi mengenai lemahnya tata kelola dan transparansi di pasar keuangan nasional.
Investor asing pun tercatat menarik dana dalam jumlah besar, menciptakan kekhawatiran lanjutan terkait stabilitas rupiah dan kepercayaan pasar.
Kondisi ini menjadi topik utama dalam live podcast yang diselenggarakan Galeri Investasi Bursa Efek Indonesia di bawah naungan Fakultas Bisnis, Hukum, dan Ilmu Sosial Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (FBHIS Umsida), Senin (2/2/2025), di Laboratorium Terpadu Akuntansi.
MSCI sebagai Penentu Arah Dana Asing
Dalam diskusi tersebut, narasumber Reynaldy Cahyaningrat, mahasiswa Akuntansi Umsida yang pernah magang di Bursa Efek Indonesia, menjelaskan bahwa indeks MSCI memiliki pengaruh besar terhadap arus dana asing di Indonesia.

“MSCI itu bisa dianalogikan seperti Spotify. Kalau lagu bisa masuk Spotify dan sering diputar, berarti kualitasnya bagus. Begitu juga saham yang masuk MSCI, biasanya punya fundamental dan likuiditas yang kuat,” ujarnya.
Menurut Reynaldy, saham-saham yang masuk indeks MSCI dinilai berdasarkan free float yang jelas, kapitalisasi pasar besar, serta aktivitas perdagangan yang konsisten.
Karena itu, banyak investor global menjadikan MSCI sebagai acuan utama sebelum menanamkan modal di suatu negara.
Ia menambahkan, sensitivitas pasar Indonesia terhadap MSCI terjadi karena tingginya ketergantungan pada dana pasif asing.
“Masuk MSCI itu bukan cuma prestise, tapi juga membuka pintu dana pasif dalam jumlah besar. Begitu ada isu atau perubahan, investor asing langsung bereaksi cepat,” katanya.
Baca juga: Umsida Gelar Entre Vibes Vol. 1, Pelajar Tampilkan Produk Inovatif dan Ramah Lingkungan
Psikologi Investor di Balik Anjloknya IHSG

Reynaldy menilai kepanikan pasar yang terjadi belakangan ini tidak sepenuhnya disebabkan oleh lemahnya fundamental ekonomi Indonesia, melainkan faktor psikologis investor.
Ketika investor asing mulai melakukan aksi jual, investor ritel cenderung ikut panik dan melakukan langkah serupa.
“Fundamental Indonesia sebenarnya masih kuat. Tapi ketika asing jual besar-besaran, investor ritel jadi takut dan ikut keluar dari pasar,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa volatilitas merupakan bagian alami dari pasar saham.
Oleh karena itu, investor, terutama pemula, perlu membedakan antara gejolak struktural dan masalah fundamental.
“Kalau ini hanya soal struktur dan transparansi, seharusnya tidak perlu panik berlebihan,” tambah Reynaldy.
Lihat juga: Memahami Investasi dan Risiko: Pelajaran Berharga dari Dividend Trap untuk Mahasiswa Akuntansi
Mundur Pejabat dan Harapan Perbaikan Tata Kelola
Terkait kemunduran pejabat pengawas pasar modal, Reynaldy justru melihat langkah tersebut sebagai bentuk tanggung jawab institusional.
Ia menilai persoalan utama terletak pada kurangnya transparansi free float saham yang menjadi perhatian MSCI.
“Kalau tidak ditindaklanjuti, Indonesia bisa turun dari kategori emerging market ke frontier market, dan itu berpotensi menimbulkan outflow yang sangat besar,” tegasnya.
Namun, ia optimistis kondisi pasar akan membaik seiring pembenahan struktur dan regulasi.
“Ini bukan soal ekonomi Indonesia yang lemah, tapi soal tata kelola. Kalau struktur dibenahi, kepercayaan investor akan kembali,” ujarnya.
Melalui diskusi ini, mahasiswa dan investor pemula diingatkan agar tidak terjebak kepanikan sesaat, serta lebih mengedepankan analisis dan pemahaman fundamental sebelum mengambil keputusan investasi.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















