Harga Plastik Melonjak, Pakar Umsida Soroti Rapuhnya Industri Nasional

Fbhis.umsida.ac.id – Lonjakan harga plastik pada April 2026 menjadi perhatian serius di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil.

Kenaikan harga bahan ini bahkan disebut mencapai 50 hingga 100 persen.

Kondisi tersebut dipicu memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu distribusi nafta, bahan baku utama plastik, melalui jalur strategis seperti Selat Hormuz.

Sebagai salah satu bahan yang digunakan luas dalam kehidupan sehari-hari, plastik memegang peran penting di berbagai sektor, mulai dari industri manufaktur hingga usaha kecil menengah.

Karena itu, kenaikan harga plastik tidak hanya menjadi masalah perdagangan, tetapi juga berdampak langsung pada biaya produksi, harga jual, dan daya tahan usaha.

Dosen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), Dr Hadiah Fitriyah SE MSi Ak CIBA CPS, menilai lonjakan ini merupakan peringatan keras bagi dunia industri di Indonesia.

Menurutnya, situasi tersebut menunjukkan bahwa fondasi ketahanan industri nasional masih belum cukup kuat menghadapi gejolak global.

“Bahkan banyak yang menyebut bahwa harga plastik ini bukan naik lagi, melainkan ganti harga,” terangnya.

Baca juga: Lewat Audiensi Mahasiswa Administrasi Publik Umsida Dalami Mitigasi Banjir

Ketergantungan Impor Jadi Titik Lemah Industri

Dr Hadiah menjelaskan bahwa salah satu akar masalahnya adalah tingginya ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor.

Ketika pasokan global terganggu, industri dalam negeri tidak memiliki cukup perlindungan untuk meredam dampaknya.

Akibatnya, tekanan tidak hanya dirasakan oleh produsen besar, tetapi juga menjalar hingga ke konsumen.

Menurutnya, ketergantungan terhadap impor membuat risiko ekonomi menjadi semakin tinggi, terutama karena dapat menekan neraca perdagangan sekaligus memicu inflasi pada berbagai produk turunan.

“Ini bisa menyebabkan kenaikan biaya operasional yang pada akhirnya berakibat pada kenaikan biaya operasional dan menekan margin keuntungan produsen, sehingga memicu adanya kenaikan harga jual ke konsumen,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa situasi ini memperlihatkan lemahnya ketahanan industri dalam negeri.

Selama bahan baku utama masih bergantung pada negara lain, maka industri nasional akan selalu berada dalam posisi rentan ketika kondisi global terguncang.

“Karena industri dalam negeri masih tergantung impor, jadi ketika kondisi global tidak stabil, maka industri dalam negeri terdampak besar,” kata Dr Hadiah.

Lihat juga: Dosen FK Umsida: Mikroplastik di Air Hujan Jadi Ancaman Baru Bagi Kesehatan

UMKM Menjadi Pihak yang Paling Tertekan

Di antara berbagai pelaku usaha, UMKM disebut sebagai kelompok yang paling merasakan dampak dari kenaikan harga plastik.

Hal ini karena plastik merupakan komponen penting dalam operasional harian, terutama untuk kebutuhan kemasan produk.

Sumber: Pexels

Ketika harga plastik melonjak, pelaku UMKM dihadapkan pada pilihan yang sama-sama sulit.

Mereka bisa menaikkan harga jual untuk menutup biaya, tetapi berisiko kehilangan pembeli. Sebaliknya, jika harga tetap dipertahankan, maka margin keuntungan akan semakin tergerus.

“Kenaikan harga plastik memaksa pelaku UMKM untuk meningkatkan harga jual atau justru mengurangi margin keuntungan,” tuturnya.

Situasi ini tentu tidak sederhana. Bagi UMKM yang memiliki modal terbatas, perubahan harga bahan baku bisa langsung memengaruhi keberlanjutan usaha.

Karena itu, lonjakan harga plastik tidak bisa dipandang hanya sebagai persoalan komoditas, tetapi juga persoalan daya tahan ekonomi masyarakat kecil.

Krisis Bisa Jadi Peluang untuk Berubah

Meski demikian, Dr Hadiah menilai kondisi ini tidak harus dilihat semata sebagai ancaman.

Ia justru memandang bahwa krisis jangka pendek ini dapat menjadi momentum untuk mendorong perubahan yang lebih strategis dalam jangka panjang.

“Fenomena ini merupakan krisis jangka pendek yang bisa dijadikan peluang untuk jangka panjang, terutama dalam diversifikasi bahan baku dan inovasi kemasan sehingga tidak hanya bergantung pada stok nafta,” jelasnya.

Ia menilai sudah saatnya industri mulai serius menerapkan prinsip 3R, yakni reduce, reuse, recycle.

Langkah ini bisa dilakukan dengan beralih ke kemasan yang lebih ramah lingkungan, seperti kertas daur ulang atau bahan alternatif lainnya.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan pelaku industri.

Menurutnya, pemerintah perlu mempercepat pembangunan infrastruktur industri petrokimia dalam negeri untuk menekan impor nafta sekaligus mendorong kebijakan yang mendukung penerapan 3R.

“Pemerintah perlu mempercepat pembangunan infrastruktur industri petrokimia dalam negeri untuk menekan impor nafta, dan membuat kebijakan untuk mengimplementasikan 3R,” tuturnya.

Sementara itu, dari sisi industri, investasi pada teknologi bioplastik dinilai dapat menjadi langkah nyata menuju kemandirian dan ketahanan industri yang lebih berkelanjutan.

Sumber: Dr Hadiah Fitriyah SE MSi Ak CIBA CPS

Berita Terkini

Bio Circular Agro Estate Antar HIMMAPIK Umsida Wujudkan Peluang Ekonomi dari Sampah
June 2, 2026By
Publikasi atau Pencitraan? Statement Sherly  Tjoanda Picu Perdebatan Komunikasi Publik
June 1, 2026By
Abdimas Umsida Dorong UMKM Perempuan Naik Kelas Lewat Literasi Keuangan dan Modal
May 26, 2026By
Lolos P2MW 2026, Mahasiswa Umsida Kembangkan Platform Jasa Event Digital
May 25, 2026By
Dosen Umsida Soroti Kesenjangan Penegakan Hukum dan Bahaya Trial by Media Digital
May 22, 2026By
Mahasiswa Umsida Diajak Memahami Reformasi Polri dan Hukum Digital Modern
May 21, 2026By
Napak Tilas Sejarah Muhammadiyah, Mahasiswa Ikom Umsida Jelajahi Kampung Kauman Yogyakarta
May 19, 2026By
Dosen Ikom Umsida Bahas Hyperreality Budaya Digital di Konferensi Internasional ICEMSS 2026
May 18, 2026By

Prestasi

Evaluasi Diri Bawa Mahasiswa Hukum Umsida Raih Dua Medali di Pertandingan Karate
May 8, 2026By
Hebat! Zabrina Taklukkan Arena Karate dan Bawa Pulang Tiga Medali untuk Umsida
May 7, 2026By
Sekali Turun, Tiga Emas: Prestasi Gemilang Mahasiswa Hukum Umsida
May 6, 2026By
Lawan Rasa Minder, Windy Sabet Juara 1 di Kejuaraan Internasional Pencak Silat 2026
April 15, 2026By
Atasi Rasa Minder, Vivi Nabila Bawa Pulang Emas pada Ajang Paku Bumi Championship 2026
April 14, 2026By
Tampil Dominan, Muhammad Sonhaji Sabet Emas Paku Bumi Championship 2026
April 10, 2026By
Mahasiswa Umsida Raih Perak di Paku Bumi Championship, Bukti Latihan Singkat Tak Halangi Prestasi
April 7, 2026By
Di Balik Kemudi Delta EV: Peran Strategis Mardi Lukas di Shell Eco-Marathon Qatar 2026
February 5, 2026By