Kasus Amsal Sitepu Ungkap Rapuhnya Penghargaan Karya Kreatif

Fbhis.umsida.ac.id – Kasus yang menimpa videografer Amsal Sitepu dalam proyek pembuatan video profil 20 desa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, tidak hanya memantik perdebatan soal dugaan mark up anggaran.

Di balik polemik itu, muncul persoalan yang lebih dalam, yakni bagaimana publik, klien, dan bahkan institusi masih kerap keliru memahami nilai sebuah karya kreatif di era digital.

Dosen New Media Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), M Andi Fikri MIKom, menilai bahwa kasus tersebut tidak tepat jika dibaca secara sederhana.

Menurutnya, persoalan seperti ini justru menunjukkan bahwa proyek kreatif membutuhkan transparansi, komunikasi yang jelas, dan pemahaman yang utuh terhadap proses di balik sebuah karya.

“Kasus ini sebenarnya menunjukkan pentingnya transparansi dan kejelasan komunikasi dalam proyek kreatif, terutama ketika karya sudah dipublikasikan dan masuk ke ekosistem digital,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ketika sebuah karya telah tersebar di media sosial, opini publik dapat berkembang sangat cepat.

Dalam situasi seperti itu, informasi yang tidak lengkap berpotensi menimbulkan misinformasi, penilaian sepihak, hingga memperbesar konflik yang semestinya bisa dijelaskan sejak awal.

Baca juga: Kreator Digital di Persimpangan Antara AI dan Orisinalitas

Miskomunikasi dalam Proyek Kreatif

Andi melihat bahwa inti masalah dalam kasus Amsal Sitepu bukan semata pada hasil video yang diproduksi, tetapi pada bagaimana konteks pekerjaan disampaikan kepada klien dan publik.

Dalam dunia komunikasi digital, karya kreatif tidak bisa hanya dipahami dari produk akhirnya saja.

Ada proses perencanaan, negosiasi, riset, hingga eksekusi yang juga menentukan nilai sebuah proyek.

Ia menilai kreator sering kali fokus pada produksi konten, tetapi kurang menyiapkan komunikasi yang matang terkait konteks pekerjaan, ruang lingkup proyek, dan ekspektasi hasil kepada pihak yang terlibat.

Sebaliknya, klien juga kerap hanya melihat hasil akhir tanpa memahami beban kerja kreatif yang menyertainya.

Menurutnya, ketika informasi yang beredar tidak utuh, perbedaan persepsi menjadi sulit dihindari.

Publik lalu menilai berdasarkan potongan informasi yang muncul di ruang digital, bukan dari keseluruhan proses kerja yang sebenarnya berlangsung.

“Dalam kasus seperti Amsal Sitepu, komunikasi yang kurang terbuka bisa memicu perbedaan persepsi antara kreator, klien, dan publik,” jelasnya.

Lihat juga: Dari Film Jumbo, Dosen Umsida Ungkap Film Animasi Anak Bangsa Semakin Digemari

Kesenjangan Cara Menilai Karya

Lebih jauh, Andi menyoroti adanya gap antara cara pandang kreator dan klien dalam menilai sebuah karya.

Bagi kreator, nilai karya lahir dari kompleksitas proses kreatif, pengalaman bertahun-tahun, kemampuan teknis, dan kualitas hasil yang dibangun secara serius.

Namun bagi sebagian klien, penilaian sering kali berhenti pada harga pasar atau produk akhir yang terlihat di permukaan.

“Kreator itu menilai dari kompleksitas proses kreatif, pengalaman, dan kualitas outputnya. Sementara klien atau yang order itu menilainya dari harga pasar atau output final saja,” terang sineas Sidoarjo itu.

Ia menegaskan bahwa video atau karya visual bukan sekadar file jadi yang selesai dalam waktu singkat.

Di baliknya ada proses ideasi, pematangan konsep, penyusunan teknis, pengalaman lapangan, serta kemampuan menyelesaikan persoalan kreatif yang tidak selalu terlihat oleh publik.

Andi juga mengkritik budaya menilai karya kreatif dengan harga murah.

Menurutnya, rendahnya penghargaan terhadap proses intelektual membuat kerja kreatif kerap dianggap ringan, padahal justru membutuhkan pemikiran yang panjang.

“Dari ide saja sudah berpikir. Dari prosesnya, dari pengalaman bertahun-tahun. Tapi itu sering tidak dihargai,” tegasnya.

Ancaman bagi Ekosistem Industri Kreatif

Jika cara pandang seperti ini terus berlanjut, Andi menilai dampaknya bisa serius bagi masa depan industri kreatif di Indonesia.

Persaingan yang hanya bertumpu pada harga murah akan menekan kualitas karya dan melemahkan keberlangsungan para pekerja kreatif.

“Kalau terus bersaing di harga rendah, kualitas karya pasti akan turun. Akhirnya industri kreatif nasional bisa stuck atau bahkan turun karena tidak bisa bertahan di ekosistem tersebut,” ujarnya.

Ia lalu membagikan pengalamannya saat membangun ekosistem film di Sidoarjo bersama komunitas kreatif.

Menurutnya, setiap karya tetap harus dihargai, meskipun diproduksi dalam skala sederhana.

Penghargaan itu bisa hadir dalam bentuk pembayaran, dukungan produksi, konsumsi, hingga workshop yang memberi nilai bagi para pelaku kreatif.

“Kalau tidak ada yang menghargai karya, pekerja kreatif akan turun. Semua akan bersaing di harga murah,” tandasnya.

Bagi Andi, kasus Amsal Sitepu semestinya menjadi momentum refleksi.

Di era digital, masyarakat tidak cukup hanya menikmati hasil karya, tetapi juga perlu belajar memahami proses dan nilai intelektual di baliknya.

Sumber: umsida.ac.id

Berita Terkini

Tebar Kepedulian di Bulan Ramadhan, HIMMAPIK Umsida Berbagi di Panti Asuhan
March 17, 2026By
Lewat Audiensi Mahasiswa Administrasi Publik Umsida Dalami Mitigasi Banjir
March 16, 2026By
Sukses Bukan Hanya Ikhtiar Fittyan Izza Soroti Kekuatan Doa
March 13, 2026By
Silaturahmi FBHIS Umsida Perkuat Sinergi dan Temu Alumni Ramadan
March 12, 2026By
LPPK PDM Sidoarjo Laksanakan Audit Internal di SD Muhammadiyah 1 Candi, Perkuat Tata Kelola Amal Usaha Pendidikan
March 11, 2026By
Enam Tahap Penting Demand Forecasting: Kerangka Strategis untuk Prediksi Bisnis yang Lebih Akurat
March 10, 2026By
Hima Manajemen Umsida Tebar Kebaikan di Panti Asuhan Yatim Aisyah Sidoarjo
March 5, 2026By
BEM FBHIS Umsida Perkuat Jejaring Nasional di Kongres ILMISPI 2026
March 3, 2026By

Prestasi

Di Balik Kemudi Delta EV: Peran Strategis Mardi Lukas di Shell Eco-Marathon Qatar 2026
February 5, 2026By
Langkah Pertama Yayan di Ju Jitsu Open Mojokerto Berbuah Pengalaman Berharga
January 24, 2026By
Debut Manis Atlet Muda Umsida di Kejuaraan Ju-Jitsu Open Piala KONI Mojokerto 2026
January 23, 2026By
Krisna Punjabi: Pesona ke Arena Nasional, Buktikan Prestasi Melalui Karate
January 7, 2026By
Bangkit dari Kekosongan, Dwi Langen Widi Cahyono Menorehkan Prestasi di Arena Karate
January 6, 2026By
Zabrina Bawa Pulang Emas dan Perunggu di Batu Karate Challenge 2025, Buktikan Prestasi Tanpa Batas
January 5, 2026By
Naufal Rafi Putra Tembus Final Karate Challenge, Sabet Perak dan Masuk 10 Besar
January 3, 2026By
Tampil Percaya Diri di Ajang Provinsi, Mahasiswi Umsida Raih 2nd Runner Up Miss Jawa Timur 2025
January 2, 2026By