Fbhis.umsida.ac.id – Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) mengukuhkan Prof Dr Sigit Hermawan SE MSi sebagai Guru Besar bidang Akuntansi pada Senin, (09/02/2026).
Prosesi pengukuhan di Aula KH Ahmad Dahlan Kampus 1 Umsida tersebut menjadi penanda penguatan kapasitas akademik, terutama di Program Studi Akuntansi.
Prof Sigit dikenal sebagai dosen senior yang menekuni kajian intellectual capital (IC) dan analisis keuangan dua bidang yang ia tegaskan kembali dalam orasi ilmiah pada momen pengukuhan.
Baca juga: Kejar Target Profesor Sebelum Usia 50, Prof Sigit Buktikan Konsistensi Akademik Tanpa Jalan Pintas
Prosesi Pengukuhan Guru Besar Jadi Tonggak Institusional
Rangkaian pengukuhan dihadiri jajaran pimpinan Umsida, mulai dari Badan Pembina Harian, rektorat, senat universitas, Dewan Guru Besar, hingga pimpinan fakultas, direktorat, unit kerja, dan program studi.
Dalam sapaan pembuka orasi, Prof Sigit juga menyebut pemangku kepentingan yang ia hormati sebagai bentuk penghargaan atas dukungan pengembangan akademik di Umsida, termasuk unsur Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, serta LLDikti Wilayah VII.
Di hadapan sivitas akademika dan undangan, Prof Sigit menempatkan pengukuhan guru besar sebagai ruang refleksi sekaligus pertanggungjawaban ilmiah, bukan sekadar seremoni.

“Izinkanlah saya ingin berbagi pengalaman tentang apa yang telah saya lakukan selama ini, baik di bidang pendidikan, penelitian, abdimas, dan juga inovasi,” ucapnya.
Ia menegaskan, materi yang dipaparkan adalah bagian dari amanah ilmu yang diterimanya, “hanya sebagian dari ilmu Allah,” sehingga momen pengukuhan menjadi pengingat untuk terus meningkatkan kualitas akademik bersama.
Lihat juga: Prof Sigit Soal Makna Guru Besar: Ilmu Tanpa Pengabdian akan Tak Bermakna
Kepakaran Prof Sigit pada Intellectual Capital dan Analisis Keuangan
Substansi orasi Prof Sigit berangkat dari bidang kepakaran yang tercantum dalam Surat Keputusan jabatan akademiknya.
Ia menyampaikan bahwa orasi ilmiah disusun “sesuai dengan bidang yang ada di SK tentang Intellectual capital, dan juga analisis keuangan,” ujarnya.
Dalam konteks pemaparan, istilah “IC” merujuk pada aset tak berwujud atau intellectual capital (IC) yang berperan sebagai penggerak daya saing organisasi.
IC ia jelaskan melalui elemen-elemen seperti kualitas manusia (human capital), sistem dan proses (structural atau institutional capital), serta kemampuan organisasi membangun relasi dan kepercayaan.
Ia menekankan bahwa IC tidak cukup dipahami sebagai konsep abstrak, tetapi perlu dikelola dan diuji dampaknya agar menghasilkan kinerja nyata.
Karena itu, analisis keuangan diposisikan sebagai alat ukur untuk membaca efisiensi, akuntabilitas, dan keberlanjutan organisasi.
Prof Sigit sempat menyinggung jalur riset yang telah ia tekuni sejak studi doktoral dan terus ia kembangkan dalam kerja ilmiah bertahun-tahun, termasuk bagaimana elemen-elemen IC dapat memengaruhi kinerja organisasi secara positif.
Jejak Pengabdian dan Kontribusi Akademik di Umsida

Pengukuhan guru besar ini juga memuat sisi human interest tentang kedekatan Prof Sigit dengan pertumbuhan Umsida.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah berkarier sejak masa awal kampus.
“Saya dapat berkarir di Umsida mulai tahun 2000–2006 ini, mulai dari Umsida yang tidak punya apa-apa sampai sekarang yang sedemikian hebatnya,” tuturnya.
Pernyataan tersebut menjadi potret transformasi institusi sekaligus kesaksian seorang dosen senior yang menyaksikan perubahan kampus dari fase rintisan menuju penguatan kualitas akademik.
Pada bagian akhir orasi, Prof Sigit menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang mendukung proses akademiknya, termasuk keluarga.
Ia menyebutkan rasa terima kasih kepada ayahnya, yang ia nilai telah mendidik dengan kesabaran.
Pengukuhan ini mempertegas komitmen Umsida untuk memperkuat tradisi ilmiah di bidang akuntansi, sekaligus mendorong kajian-kajian yang menempatkan aset tak berwujud dan pembacaan kinerja keuangan yang sehat sebagai fondasi tata kelola modern.
Penulis: Indah Nurul Ainiyah


















